Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
108.masih mencari jodoh Awan


__ADS_3

Terima kasih sayang? " mengecup kenin Gia. "oh iya mas... tadi aku ketemu temen kursus ku, dia sempat pindah ke Jerman, lucu tahu anak nya humoris! aku pengen banget ketemu dia setiap hari." Gia berusaha menceritakan sekena mungkin agar suaminya membantu dia.


"kamu gak mau minta aku kawin lagi ka! " ucapnya sambil tersenyum.


"jangan ngaco! ini aja belum keluar" Gia menunjuk perutnya. "aku mau jodohin dia sama ka Awan"


"terserah kamu"


"maksudnya aku kamu bantu aku... ya ya ya? "


Rian membuat rencana untuk makan siang bersama Awan di sebuah resto, nanti Gia datang bergabung, ketemunya seakan tidak sengaja saat Gia hendak makan dengan Endita, Gia tersenyum dengan usul dari suaminya dan dia sudah oke. saat sedang berbincang dengan istrinya,sekertaris pribadinya menelpon, dia menoleh pada istrinya yang di sambut dengan senyuman oleh sang istri.


"ya? " Rian mengangkat ponselnya tanpa menjauh dari sang istri.


"selamat malam Pak, maaf menganggu malam malam seperti ini"


"bagaimana hasilnya?"


"anda akan terkejut dengan ini! "


"katakan saja!" ucapnya tapi masih sedikit khawatir karena istrinya persis di sampingnya bermain ponsel.


"ini ada hubungannya dengan Ibu Hanna" ucapnya sedikit khawatir.


Rian yang di seberang sana langsung membeku mendengar itu, dia sedikit mengeser duduknya dan memindahkan ponselnya ke telinga sebelah kiri, tangan kanannya merangkul istrinya, mendaratkan kecupan di kening istrinya. "katakanlah... " ucapnya membalas sang asisten.


"Harry fruszo adalah suami kedua daria Maria fruszo, penikahan pertama Maria bersama Mark carter dan Beliau adalah orang tua kandung dari Hanna carter atau Hanna fruszo. Maria dan Mark bercerai saat ibu Hanna kelas 3 SMP, perceraian itu membuat ibu Hanna tidak lulus SMP dikota P dan membuat Maria membawanya ke kota ini dan akhirnya bertemu dengan Harry yang saat itu seorang duda anak satu bernama Noven fruszo,penyebab perceraian Mark dan Maria di karenakan pekerjaan Mark yang saat itu menurut Maria tidak akan membuatnya hidup enak sampai akhirnya Mark menikah lagi dengan seorang wanita bernama Cicilia dan mendapatkan seorang putri hasil pernikahan mereka bernama Endita. " jelas asistennya panjang lebar.


"Endita??? nama itu seperti tidak asing untuk telinga ku, dimana aku pernah mendengarnya... " guman Rian.


"lalu kenapa mereka bisa bersama lagi?" kali ini Rian bertanya pada asistennya, bertepatan dengan ponsel istrinya berbunyi. "sebentar... ya.. " dia mengambil ponsel istrinya 'Endita calling' melihat tulisan itu Rian langsung mengingat, "semoga bukan Endita yang sama" ucapnya dalam hati.


*haloo... * Rian mengangkat ponsel istrinya karena ponsel itu sudah berbunyi dua kali.


*eemmm... halo pak, apa Gia ada?*


*pak???* spontan Rian terkejut, *Gia ke toilet,nanti aku akan meminta istriku untuk menghubungimu! * Rian sengaja menekan kata istri agar Endita tidak memanggilnya dengan sebutan pak.


*baiklah terima kasih pak...* karena kesal Rian langsung mematikan ponsel itu.


Rian meneruskan berbincang dengan asistennya, sambil menunggu istrinya yang sedang ke toilet, sudah 30 menit berlalu istrinya tak kunjung kembali, dia menyusul ke toilet dan mengetuk pintu namun tak ada jawaban, asistennya sempat menanyakan apa ada sesuatu yang terjadi tapi Rian tidak menjawabnya, akhirnya sang asisten berinisiatif menyusul boss nya tanpa mematikan ponselnya.

__ADS_1


"sayang... sayang.. " Rian mengedor pintu lebih keras lagi, karena masih tak ada jawaban Rian mendobrak pintu itu. brraakkk... istrinya terduduk disamping bathtub sambil mengenggam pinggiran bathtub menahan sakit, dimenoleh ke arah Rian sambil tersenyum. "are you okay?" mendekati istrinya yang berusaha menahan sakit dengan senyum.


"aku gak kuat jawabnya tadi" jawabnya terbata.


"it's oke... ada yang sakit?" tanya Rian dengan sangat lembut, Gia menunjuk perut bagian bawahnya. "kita ke tempat tidur dulu ya" Rian mencoba tidak panik seperti pesan sabahat dan orang tuannya, karena jika dia panik istrinyapun akan ikut panik.


"maaf ya... " ucap Gia saat Rian membarinkannya di kasur.


"it's okey... how you feel?" sambil mengelus perut yang sudah membuncit.


"perut aku kaya keram, kenapa ya?"


"aku panggil Awan ya?" istrinya mengangguk, Rian langsung mengambil ponselnya dan menelpon Awan tapi tak dapat dihubungi, saat dia sedang berusaha menghubunginya lagi untuk ke sekian kalinya, bell rumah berbunyi, Rian ke depan membuka pintu, dia terkejut melihat ada asistennya bersama Awan di depan pintunya itu.


"apa ibu baik baik saja pak?" tanya sang asisten.


"tidak juga... masuklah... "


Awan langsung menuju kamar Rian sedangkan asistennya menunggu diluar kamar, Rian memintanya mengambilkan air hangat untuk istrinya. sementara itu di dalam kamar.


"besok pergilah ke dokter kandungan mu, jangan terlalu lelah dan jangan mengangkat yang berat berat termasuk Rian" canda Awan.


"aku tak mengangkat nya dokter, justru dia yang mengangkatku. aku tak mungkin melarangnya karna itu sedikit nikmat" mendengar penuturan Gia membuat Awan langsung tertawa terbahak bahak.


"apa itu bagian dari pemeriksaan dokter??" Rian mengejutkannya, membuat Awan kembali mendaratkan kecupannya di kening Gia.


"kurang lebih seperti itu... " Awan kembali mengecup kening Gia untuk menjawab Rian.


Rian mendekati bersama sang asisten di Belakangnya, Rian mengusap wajah istrinya dengan tisu basah di depan sang dokter dan itu membuat asistennya tertawa, bahkan bukan hanya asisten, Gia pun tertawa.


"jangan mendekat" ucap Rian saat Awan akan mendekati istrinya lagi.


Awan mendengus, "berikan ini padanya! dan biarkan dia beristirahat malam ini, besok bawa dia ke dokter kandungan! " Awan melempar sebungkus obat padanya.


"besok aku tidak ke kantor!" ucapnya pada asistennya itu, sambil memberikan obat pada Gia.


"tapi pak... "


"tidak ada tapi... kenapa belakangan ini kau suka membantahku" membuat sang asisten terdiam, Gia memegang lengan suaminya.


"klien pentin anda sudah terbang dari negara J sore tadi karena anda bilang kalau anda sendiri yang akan menemui beliau" jawab asistennya lagi.

__ADS_1


"sayang... " kali ini Gia yang bersuara, "aku akan baik baik saja nanti, temuilah mereka besok! lagi pula aku bisa minta ka risa menemaniku" istrinya mencoba merubah pendiriannya.


"kalian sama sama wanita hamil, jangan pernah mengusulkan sesuatu yang aneh Gia" suaminya akan menyebut nama jika dia sudah terlalu kesal.


" ada mas Bagus bersama kami " kata kata itu langsung merubah Rian menatap istrinya dengan tajam dan hal itu di tangkap oleh sahabatnya Awan.


"gia.... " belum selesai Rian dengan kalimatnya sahabatnya langsung menengahi.


"baiklah... buatkan dia besama ku besok" ucap Awan menyudahi perdebatan itu.


"jika terjadi sesuatu padanya aku akan membuat mu bertugas di pedalaman kota K" ancam Rian pada sahabatnya.


"kau itu! kenapa selalu mengamcamku!"


"kembalilah, aku tidak ingin kalian menganggu istri dan anakku" sambil mengiring mereka keluar dari kamar.


"kau pun jangan selalu mengunjungi anakmu! biarkan dia istirahat" jawab awan sekenanya.


"cerewet!! "


malam itu seperti biasa Gia beristirahat dalam pelukan Rian yang mendekapnya dengan posesif seakan ada seseorang yang akan mengambilnya.


...****************...


pukul 7.30 pagi saat sepasang suami istri selesai sarapa, bell berbunyi membuat keduanya menoleh.


"biar aku yang membukanya" Rian beranjak dari kursinya.


"selamat pagi pak... saya Endita, saya ingin menjenguk Gia" ucap seorang gadis manis di depan pintu.


"masuklah.. dia ada di meja makan" ucap Rian membuka pintu


Endita buru buru masuk ke kamar, hari ini dia janji jalan jalan bersama Gia, tapi subuh tadi dia di kejutkan kabar dari Gia bahwa dia harus ke dokter kandungan karena malam sebelumnya dia merasa perut nya kram dan ada sedikit flek pagi nya saat di ke toilet.


"Endit?? " Gia terkejut dengan kehadiran sahabatnya itu.


"hei... suami mu yang menijinkan aku masuk" ucapnya berjalan menuju Gia lalu bercipika cipiki, "aku khawatir apa dia baik baik saja?" tanyanya sambil mengelus perut Gia.


"ya.. dia baik baik saja"


Rian memperhatikan interaksi Endita dengan Gia, mereka terlihat sangat akrab dan saling perduli, wanita itu terlihat sangat memperhatikan istrinya dengan sangat tulus. 'apa aku harus menjauhkannya dari istriku' ucapnya dalam hati, entah itu tipuan atau bagaimana tapi Endita benar benar terlihat menyayanginya.

__ADS_1


"pak.. mari kita berangkat" ucap asistennya yang sudah ada di sampingnya, tanpa melihat adegan di depannya karena tak ada ja2aban sang asisten menoleh ke arah pandangan boss nya dan seketika matanya seperti ingin keluar, "pak itu kan... "


"biarkan... aku sudah meminta seseorang menjaga istriku kemanapun dia pergi" ucap Rian memotong kalimat asistennya.


__ADS_2