Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
106. kabar gembira untuk kita semua


__ADS_3

Tak terasa hari yang di tunggu pun tiba, hari dimana mereka berencana memberikan surprise pada semua orang, Rian sudah tidak sabar dengan ekpresi mereka nanti saat mendapatkan kabar ini, hari khusus ini dia meminta sekertaris nya mengosongkan jadwal dan Gia meminta sang asisten pun ikut makan malam disana, karena buat Gia dia pun seperti keluarga.


pukul 18.45


Gia dan Rian sudah rapi, membawa semua hasil tes nya, Rian menyetir sendiri tiap menemui keluarga,karena untuknya momen itu akan menyita waktu makanya dia tidak pernah di antar saat menemui keluarganya, agar supirnya bisa mengikuti kegiatan lain walaupun itu hanya bermain catur dengan yang lain.


awalnya mereka ingin menjemput orang tuanya tapi Awan memintanya mengambil alih tugas itu,Rian dengan senang hati mengijinkannya, sepanjang perjalanan ke rumah Bagus hanya ada senyuman yang menghiasi wajahnya dia senang bukan kepalang, setahun lebih dia menanti,akhirnya Tuhan mengijinkan.


"yeay... kakak... congrats... " ucapnya pada Risa dan mencium Risa dan keponakannya serta baby yang di perut Risa, tapi dia biasa saja dengan Bagus tidak seperti sebelumnya.


"hey... selamat bro!" Rian yang membaca situasi langsung merangkul Bagus.


Risa sebenarnya agak curiga dari mulai dia sakit kemaren, Bagus dan Gia tidak seperti biasanya,terlihat menjaga jarak, tidak saling bertegur sapa, kedekatan mereka hilang biasanya mereka sangat dekat sampai Rian rasa cemburu pada mereka.


tak lama Awan datang bersama kedua orang tua Rian,mereka langsung menyambutnya di depan, Rian mendorong kursi roda papa nya. "makasih sudah mengacaukan semua!" Ucap Bagus saat hanya bersama Rian.


"maksudnya? "


"Gia pasti tahu kabar itu dari lu kan? dia ga mungkin dapet dari orang lain! bukannya gw udah bilang sama lu kalau ga akan ambil dia dari lu! segitu takutnya gw rebut? "


"hemmm... itu bukan di sengaja! gw akui dia memang tahu dari gw tapi kan gw ga pernah minta dia menghindari lu gw cuma kasih tahu kalau lu pernah punya rasa itu"


"dan itu bikin dia menghindari gw"


"coba lu bicarakan baik baik sama dia! "

__ADS_1


para wanita selesai menyiapkan makan malam, para pria yang sedang berbincang langsung menuju ruang makan untuk berdoa bersama ucapan syukur atas kehamilan kedua Risa. seperti biasa Awan memimpin doa, tapi beberapa dari mereka menyadari ada yang aneh dari doa Awan, karena dia menyebutkan dua calon bayi, bahkan sempat ada yang berfikir anak yang di kandung Risa kembar. lain dengan Risa dan Bagus yang menyadari kalau Gia mengandung, tapi mereka tidak mau merusak kekhusyukan doa tersebut, hingga Awan menyebut Amin.


Risa langsung berlari ke arah Gia yang berdiri di samping Rian dia langsung bertanya, "kamu hamil?? " suaranya sedikit tercekat, adiknya tak bisa menjawab, hanya air mata yang keluar, Rian mewakilkannya dengan anggukan. membuat Risa kembali memeluk adiknya dan bergantian memeluk Rian.


kedua orang tua nya ikut terharu mendengar itu, Gia dan Rian menghampiri memeluk kedua orang tuanya. "selamat nak... selamat..." ucap kedua orang tuanya,mereka memeluk anak dan menantunya bergantian,memberi berkatnya,mereka sangat senang mendengar kabar ini, setelah setahun penantian mereka, sebenarnya mereka sempat pasrah karena mengingat anak mereka yang memang umurnya tidak muda lagi, tapi rencana Tuhan memang jauh lebih indah.


semuanya bergantian memberi selamat pada Rian dan Gia,mereka ikut mengucap syukur atas kabar gembira ini,sebelum akhirnya mengambil makanan yang sudah tersedia di meja. Bagus mendekati keduanya dan memberi selamat, setelah memeluk Rian sahabatnya, dia beralih pada sang adik.


"selamat... " ucap mengulurkan tangan, Rian melirik tangan itu lalu menyenggol Gia, Wanita itu langsung merentangkan tangan untuk memeluk kakaknya itu, membuat Rian tersenyum. "boleh mas bicara?" tanyanya pada keduanya, Rian langsung bergabung dengan yang lain saat Bagus akan bicara dengan Gia.


"Gia... kamu tahu ga kenapa mas tiba tiba bisa ada rasa suka sama kamu?" tanyanya Gia hanya mengeleng, "kamu persis Risa, sikap, sifat bahkan pembawaan kamu persis dia. kemarin mas sempat menjaga jarak dengan kakak mu saat aku ngerasa sakit hati kamu menikah, jujur mas sempet berfikir egois ingin memiliki kalian berdua" ucapnya sambil menitikkan air mata, "dan kakak tahu semua sebelum pembicaraan kita malam itu, dia bilang sama mas untuk memantapkan hati, mas pun sudah memantapkan nya sebelum kamu datang malam itu. mas mau menjelaskan tapi kamu seperti sudah kecewa, makanya mas membiarkan amarahmu malam itu, mas pikir akan membaik dan bisa di ajak bicara keesokkan nya tapi ternyata tidak. diamnya kamu justru membuatku jauh lebih sakit, hal itu membuat aku yakin kalau aku sebatas kagum dengan cara kamu menjalani hidup dan yang mas sayang tetap kakak mu, buktinya akan hadir satu lagi ponakanmu" dia berbicara sambil tersenyum melihat ke arah orang yang mendatangi mereka, membuat Gia ikut tersenyum.


"sudah selesai bicaranya?" tanya Risa.


"sudah sayang... adik mu ini membuatku sakit hati, dia menolak ku" ucapnya pada Risa membuat Risa tertawa, Gia langsung memukul dada Bagus dan dia menenggelamkan dua wanitanya itu kedalam pelukkannya.


Rian datang membawa buah untuk istrinya, "bisa saya membawa istri saya?" tanyanya.


"maaf Pak... yang mana istri anda?" Bagus menanggapi banyolan Rian sambil merangkul kedua wanita itu.


"jelas yang ini, lebih muda" ucapnya menunjuk Gia.


"kamu mengenalnya sayang?" tanya Bagus pada adiknya dan dia mengeleng. "maaf... dia tidak mengenalmu, mereka istri istriku." ucapnya lagi mengecup keduanya.


"sayang... kau... menyakiti hatiku" Rian sakit hati dan pergi, dia pergi karena dia tahu pembicaraan mereka sudah selesai dan mereka hendak menuju tempat makan bergabung dengan yang lain.

__ADS_1


malam itu kedua orang tua Rian dan Rian menginap di tempat Bagus sementara yang lain pulang,seperti biasa Awan pulang paling belakang karena memeriksa keadaan papa terlebih dahulu.


"hemm... gw harap gw temuin perempuan yang sama seperti kalian. mandiri,kuat, hebat, ramah dan memaafkan walapun mereka tahu kalau mempunyai pria pria bajingan seperti kalian" ucap Awan santai dan langsung mendapatkan pukulan dari kedua sahabat nya. "kenapa kalian marah? kalau tidak merasa diam saja, tidak perlu marah" ucapnya lagi langsung mendapat tatapan tajam dari mereka.


"pulanglah.. jangan menganggu! " Bagus mengusirnya.


"apa? menganggu kalian bilang? hei... justru aku membantu wanita wanita itu menahan kalian disini! jangan sentuh mereka sedang hamil muda! "


"aku sudah bertanya kata dokter boleh... kau yang tak ingin melihat kami senang" kali ini Rian yang bersuara.


"dia pasti sengaja menakuti kita! dasar dokter abal abal!" ucapnya Bagus lagi.


"baiklah baiklah... aku akan pulang! aku sumpahin kalian tidak akan dapat yang kalian mau!" ucapnya kesal lalu pergi.


setelah kepergian Awan kedua pria itu kembali ke kamar nya masih masih tapi tiba tiba Rian kembali karena tidak mendapati istrinya di kamar, bertemu dengan Bagus yang hendak turun ke bawah.


"dimana Gia? "


"bersama Risa di kamarku"


jawaban itu membuat Rian lemas, dia pun ikut Bagus turun ke bawah dan menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu.


"ini jawaban dari doa Awan" ucap Bagus.


"kita sumpahin dia lama dapet jodohnya" Rian menyumpahi Awan.

__ADS_1


__ADS_2