Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
73


__ADS_3

hari itu cuaca sangat indah dan cerah, tapi tidak dengan suasana empat orang anak Tuhan yang sedang berkecamuk dengan perasaan mereka masing masing.


yang di rumah kecewa, marah, bingung, semua jadi satu. hingga membuatnya melamun terus sampai tidak dengar bel berbunyi berkali kali, sehingga orang yang di balik pintu itu memutuskan untuk menelpon Bagus. "mas... mba Risa kerja?" tanya Inah, wanita paruh baya yang diminta membersihkan rumah dia hari sekali.


"engga mba! bentar saya telpon"


tak lama pintu terbuka, Risa membuka nya dengan mata sembab, tapi Inah tidak berkomentar. Inah sudah jatuh cinta denga keluarga ini semenjak pertama datang, buat Inah mereka bagai anak anaknya yang telah hilang.


~Dikedai~


Gia menghanguskan beberapa masakan yang akhirnya di ambil alih oleh 'Nelson' dia adalah tukang masak di Kedai membantu Gia mengolah makanan, akhirnya Gia membantu mengantar pesanan dari dapur ke meja hanya saja keadaan Gia yang seperti itu membuat dia salah mengantarkan pesanan bahkan sampai makanannya terjatuh di lantai, menghitung kasir pun salah.


akhirnya seluruh karyawan memintanya kembali ke ruangannya, "sialan banget nih bocah padaan... bisa bisa nya mereka usir gue!" guman Gia dalam hati.


~Rian's office~


assisten nya kebingungan karna bos nya yang tidak fokus dalam beberapa rapat, tidak henti henti nya sang asisten meminta maaf pada seluruh kolega yang datang. ini sudah rapat keempatnya yang di hadiri Rian, empat rapat itu selalu di tutup dengan penundaan, bagaimana tidak jika sang bos mood nya kurang baik seperti ini, sang asisten yang memang tidak punya hak mengambil keputusan dan hanya memilih untuk menunda rapat rapat ini.


~Bagus office~

__ADS_1


asisten Bagus sudah kebingungan karena semua pekerjaan salah di mata sang bos, semua laporan yang masuk di lempar keluar, bahkan semua belum melihat bos nya keluar ruangan hari ini.


yahh... keempat orang itu tengelam dengan pikiran mereka masing-masing, menyebabkan mereka sulit menyesuaikan diri dengan pekerjaannya, menahan setiap rasa kecewa, marah, sedih agar tidak menyakiti orang orang yang mereka sayang. itu adalah kesamaan mereka yang hanya bisa diam untuk menjaga segala sesuatu nya.


......*****......


Hari ini tepat hari keempat setelah perdebatan panjang tentang kepergian Gia untuk meneruskan pendidikannya, suasana rumah jadi sangat kurang enak. suasana meja yang hening tanpa bertukar cerita, kepergian yang tanpa pamit, ucapan selamat pagi yang tidak lagi muncul, satu satu nya yang masih sama hanya Rian, dia masih muncul ke kedai untuk menemui Gia yang beda hanya sikap nya yang seakan menyimpan sesuatu.


di hari keenam Gia sudah tidak tahan dengan aksi tutup mulut kedua kakaknya, dia sengaja pulang lebih cepat dan menitipkan kedai pada orang kepercayaan mereka yaitu Ika. sesampainya di rumah dia melihat sudah ada mobil Bagus di rumah "pas... " batin gia, Gia masuk dan mendapati rumah begitu sepi, saat dia mendekat ke kamar ada suara yang tidak ingin dia dengar, suara ******* Risa da suara mengerang dari Bagus.


"astaga... masih sore juga!" ucap Gia pelan, lalu berlalu.


Gia ke kamar menganti baju nya sebentar lalu kembali ke dapur, Gia memasak untuk makan malam sambil menunggu kakak nya yang sedang sibuk menikmati 'surga dunia' yang mereka ciptakan. saat sedang menyiapkan makanan di meja dapur, kedua kakak nya keluar dari kamar. keduanya sempat terkejut melihat sang adik yang sudah ada dirumah, tapi mereka berusaha terlihat biasa saja.


"kamu jadi bukan kaya adik yang kakak kenal" jawab Risa mengajak sang adik kembali duduk, "Gia yang kakak kenal itu, kuat, sabar, gak gampang di injek orang, galak dan menyelesaikan segala sesuatu dengan tenang. kakak gak mau kamu pergi kalau untuk menghindar, tapi kalau kamu pergi untuk pendidikan! walaupun berat, kakak akan ijinkan" Risa menjelaskan sambil menghibur sang adik.


"enaknya kalau kita bisa kaya gini terus... lagi pula, kamu harus tanya dulu sama orang nya Gi biar semua jelas, jangan ngambil keputusan berdasarkan pemikiran kamu sendiri, nanti kamu nyesel" Bagus yang dari tadi melihat perdebatan dua kakak-adik ini dari meja makan.


malam itu mereka habiskan dengan mengobrol sambil melempar candaan di taman belakang rumah,ini yang tiap malam selalu mereka lakukan walau hanya satu jam dan hampir seminggu ini hanya Gia yang duduk di tempat ini, sendirian. "kenapa Rian ga ke sini?" tanya Risa sambil mengelus perut besarnya.

__ADS_1


"entah... setelah hari itu dia masih ke kedai tapi besok nya sudah ga pernah datang"


"mungkin dia banyak kerjaan, mas juga ga pernah liat dia lagi" Rian sedikit menghibur, "oh iya jumat sore keluarga besar dateng ke sini untuk 7 bulanan, acaranya sabtu biar minggu bisa istirahat, ga rame kok keluarga aja" sambung Bagus lagi.


"aku? ikut atau gimana?" tanya Gia, "atau aku di kedai aja?" sambungnya lagi.


"ga ada yang kemana mana... semua nya disini,acara nya di sini bukan di kedai! kamu bakal yang paling sibuk di acara itu karna mas mau kamu yang pegang acara nya, kedai juga ditutup." jawab Bagus tegas.


"iya de... semua acara di pegang kamu sama anak anak toko, makanya keluarga dateng di jumat sore karna acaranya sabtu pagi, selesai pas makan siang, kita udah bilang sama keluarga, jadi semua ga ada yang ikut campur. lagi pula mba wati dan mba rini ga ikut kok!" Risa menjelaskan.


...*****...


tanpa terasa hari yang di tunggu tunggu tiba, acara syukuran 7 bulan yang sebenarnya hanya kecil kecilan bisa menjadi seperti mewah berkat kerja tim anak anak kedai dan acara berlangsung sangat lancar dengan kehadiran keluarga Risa dan Bagus di sana, ada teman teman Bagus termasuk dokter Awan dan juga anak anak kedai yang ikut memeriahkan acara serta menjadi bagian dari acara tersebut.


sekarang sudah memasuki acara makan siang, di tengah acara hadir seseorang yang tidak di sangka sangka, yaitu Rian serta kedua orang tua nya. melihat itu Gia langsung menghampiri, mencium punggung tangan calon ayah mertuanya kemudian bergantian dengan sang ibu di tambah dengan sebuah pelukkan.


"tante... om... apa kabar? " tanya nya mengabaikan keberadaan Rian.


"mama sayang.... mama sama papa ke sini mau ngelamar kamu buat anak mama yang kurang ajar ini" ucap sang calon mama mertua membenarkan panggilannya dan memukul sang anak yang menyakiti calon mantunya.

__ADS_1


mendengar itu wajah Gia langsung memerah,


"ma... pah... " sapa Bagus, mereka semua memang memanggil kedua orang tua Rian seperti itu.


__ADS_2