Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
72


__ADS_3

besok paginya di rumah Bagus dan Risa, ada suasana yang berbeda kali ini, ada sebuah tas besar di sofa yang sudah Gia siapkan semalam. saat Risa ingin turun membuat sarapan pagi sekitar pukul 5.30 melewati ruang tamu sempat melihat tas besar itu disana lalu dia menuju dapur dan disana sudah ada Gia dengan pakaian rapi sedang menyiapkan sarapan.


"de... kamu pulang jam berapa?"


"lupa ka, kayanya udah tengah malem"


"pantes ga ketemu. kamu masak apa?"


"aku kayanya mau bikinin kakak salad sayuran, kayanya aku liat belakangan kakak sama mas jarang makan sayur"


"ah... bener juga, punya mas kasih telur atau kentang rebus"


"sudah aku rebus dua dua nya tinggal pilih aja"


tengelam dengan aktifitas didapur membuat Gia lupa ada yang ingin dia bicarakan, Risa yang memang sudah terkontaminasi Gia mengenai seru nya kegiatan didapur menjadi ikut lupa kalau ada yang ingin dia tanyakan pada adik angkat nya itu.


"eeehhheeemmm" suara Bagus membuat dua wanita itu sadar dari aktifitas mereka, "kalian itu kalau sudah di dapur sampai lupa harusnya ngapain" sambung Bagus lagi menghampiri dua wanita itu yang masing-masing mendapatkan kecupan di pipinya.


Risa dengan sigap mengatur sarapan yang tadi sudah disiapkan Gia, jika hanya bertiga mereka memang lebih sering makan di meja dapur daripada di meja makan.


sarapan dimulai dengan saling bertukar cerita, Bagus juga menyampaikan kalau hari ini dia akan pulang malam karena harus ke Bogor, Risa sudah menyiapkan bekal buah untuk Bagus karena belakangan dia selalu minta buah.


"ka... mas... aku mutusin terusin sekolah lagi, aku mau kuliah di luar kota" ucap Gia yang langsung membuat kedua orang yang ada di depan nya tersendak.


"maksudnya gimana?" tanya Risa.


"bukannya setelah lulus program paket C kemarin kalian minta aku untuk kuliah?"


"apa yang bikin kamu memutuskan untuk itu?" tanya Bagus.

__ADS_1


"tidak ada yang special mas, Gia cuma mau belajar mandiri, coba hal baru, memperdalam yang Gia punya."


"kamu yakin cuma hal itu?" tanya Risa.


"yakin ka, aku mau ambil tata boga mungkin"


"kalau kamu yakin silahkan... tapi mas minta kamu cari cari dari sini dulu, kalau udah jelas baru kamu berangkat" Ucap Bagus yang langsung dapat pelototan dari Risa.


"maksud aku biar aku berangkat dulu ke sana jadi aku bisa liat tempatnya, baru abis itu aku dafta,kalau aku langsung ke sana kan lebih enak."


"kakak ga setuju!!" bentak Risa akhirnya kesal karna dua orang di depan nya mengambil keputusan seakan dia tidak ada, lalu pergi kembali ke kamar.


Bagus menghela nafas berat, seakan meminta sang adik mengerti bahwa keputusan yang di ambil tidak semudah itu. keduanya menyelesaikan sarapan dalam diam, tidak ada yang menyusul Risa karena tahu betul Risa butuh waktu untuk terima ini.


"mas sangat berharap kamu bisa dewasa menghadapi masalah, jangan pernah lari dari masalah... pikirkan baik baik keputusan yang kamu ambil" Bagus kembali ke kamar untuk pamit pada istrinya.


hari ini Risa memang tidak pergi ke kedai, dia diminta Bagus untuk lebih banyak beristirahat karena kandungannya yang memasuki 7 bulan, Risa menyetujui nya karena memang hari sebelumnya kedai sangat ramai.


sambil menunggu ojek online Gia ke kamar Risa, dia tahu kakak nya itu marah, Gia hanya ingin memberitahu kalau keputusan nya ini tidak di sebabkan oleh siapapun.


"ka... " panggilnya sambil mengetuk pintu, namun tak ada jawaban, dia mencoba membukanya namun terkunci. "ka... Gia berangkat ya! Gia minta maaf kalau keputusan yang Gia ambil bikin kakak kecewa, Gia cuma ga mau sakit hati, Gia cuma mau hidup senang setelah semua yang terjadi ka!" sambung Gia lagi, kemudian ada suara klakson menandakan ojek onlin yang dia pesan telah sampai, dia keluar setelah kembali berpamitan dengan Risa.


...*****...


siang nya Bagus meminta Rian untuk datang ke kantor nya,sebenarnya Rian tidak ingin datang karena Rian pikir sahabatnya itu akan membicarakan kejadian semalam tapi demi menghormati sang calon kakak ipar, dia pun datang. dari pada masih calon sudah di pecat, lebih baik kita ikuti saja.


"Gia pamit sama gue tadi pagi, buat terusin sekolahnya di luar kota" kata kata itu keluar begitu saja dari mulut Bagus saat sahabatnya itu duduk di depannya dan kata kata itu berhasil membuat Rian bangkit lagi dari duduknya.


"jangan bercanda loe... kami masih baik baik saja semalam"

__ADS_1


"baik baik saja?" Bagus bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kulkas kecil yang ada didalam ruangannya, mengambil dua minuman lalu memberikannya ke Rian. "loe belum benar-benar mengenal dia! waktu loe antar dia pulang semalam,dia memang pulang dengan tawa tapi buat kami yang bersama dia bertahun-tahun, tawa yang dia tampilkan adalah tawa luka" tandas Bagus.


"tapi... aakkkhhhh!!!! kemana dia mau terusin pendidikan nya"


"dia gak bilang"


"kapan dia jalan?"


"secepatnya... setelah gue bilang iya"


"kalau gitu loe jangan bilang iya"


"itu tergantung... kalau di mata gue loe cuma bisa nyakitin dia, mungkin ada baiknya gue biarkan dia pergi"


"ini salah paham, gue bisa jelasin"


" gue gak butuh! setidaknya bukan gue yang butuh penjelasan loe!"


"gue gak habis pikir ada perempuan kaya Hanna! jelek banget mulutnya!"


"pagi ini Risa dan Gia bertengkar karena itu! Risa ga mau, tapi gue minta dia pikirkan dengan baik keputusan yang dia ambil."


Rian langsung berterimakasih pada Bagus, karena sahabatnya itu mendukung dirinya, walau dengan cara tidak langsung, dari awal memang dia mendukung hubungan ini makanya dia selalu memberikan "WARNING" pada Rian untuk tidak menyakiti adiknya, karena sang adik mempunyai kehidupan yang sangat pedih. buat Risa dan Bagus kali ini waktunya Gia untuk bahagia, jadi kalau tidak siap dengan satu wanita, mereka menolak keras keberadaan Rian,begitulah suami istri itu menjaga sang adik.


......*****......


hari itu cuaca sangat indah dan cerah, tapi tidak dengan suasana empat orang anak Tuhan yang sedang berkecamuk dengan perasaan mereka masing masing.


yang di rumah kecewa, marah, bingung, semua jadi satu. hingga membuatnya melamun terus sampai tidak dengar bel berbunyi berkali kali, sehingga orang yang di balik pintu itu memutuskan untuk menelpon Bagus. "mas... mba Risa kerja?" tanya Inah, wanita paruh baya yang diminta membersihkan rumah dia hari sekali.

__ADS_1


"engga mba! bentar saya telpon"


tak lama pintu terbuka, Risa membuka nya dengan mata sembab, tapi Inah tidak berkomentar. Inah sudah jatuh cinta denga keluarga ini semenjak pertama datang, buat Inah mereka bagai anak anaknya yang telah hilang.


__ADS_2