Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
BAB 4 KEPERGIAN YANG MENGHANCURKAN 2


__ADS_3

waktu terus berjalan,tak terasa ini sudah memasuki hari ketujuh, pada hari ketiga kemarin akhirnya om Salman tumbang, aku dan om Alfian berada di sisinya merawatnya,om Alfian sama seperti kami tidak memiliki siapa siapa, orang tuanya telah tiada juga jadi dia begitu terlihat akran dengan om Salman.


malam itu setelah sembayang hari ke tujuh kami kedatangan tamu yaitu om Jimmy dan istri, aku dan om Salman sempat membicarakan ini sebelum om Salman sakit, tante Emy pasti sedang menunggu om jimmy.


"Gia... om turut berduka... dimana om Salman?"


"om Salman sedang sakit di kamar"


"boleh om melihatnya?"


"silahkan om"


om Salman tidak terkejut dengan kehadiran om Jimmy, dia menyambutnya dengan senyum bersama om Alfian disana, om Alfian yang tahu siapa om Jimmy langsung keluar dari kamar itu karena yang akan di bicarakan pasti sesuatu yang intern.


"inilah yang aku takutkan" batin Salman, "Tuhan... bisa kah aku menyembunyikan kepergian mama dari mereka agar tidak ada yang memisahkanku dengan Gia" batinnya lagi.


"selamat malam..." ucap om Jimmy yang datang bersama istrinya.


"malam pak...bu..." balas om Salman dengan sangat ramah.


"bagaimana keadaan anda pak Salman? apa ada sakit yang serius?"


"tidak pak...saya hanya kelelahan, mungkin karna cukup lama tidak ada nafsu makan sama sekali."


kata kata om Salman langsung membuat om Jimmy menoleh arah ku, "kemarilah nak..." panggilnya padaku. "waktu Tuhan dan waktu kita sangatlah berbeda,Tuhan pasti punya maksud lain dengan kepulangan orang orang yang kita cintai,kalian harus semangat menjalankan ini..." ucap om Jimmy padaku dan om Salman,aku dan om Salman sama sama tersenyum. ya... seperti yang kukatakan sebelumnya,aku di dewasakan dengan keadaan jadi banyak sesuatu yang harus kuterima, suka atau tidak.


"ambil minum untuk om Jimmy" ucap om Salman padaku, aku langsung bangkit.


"sudah bilang pada nya?" tanya Jimmy pada Salman setelah Gia pergi,Salman menggeleng. " ini saat yang tepat! apa perlu bantuanku?"


"saat ini aku sedang mencari caranya."


"sebelum aku kembali lagi, katakan! agar dia tidak bingung"


"baik pak"


setelah Gia kembali, mereka ke tengah tengah mereka Salman langsung memintanya untuk duduk di sampingnya,Salman merangkulnya dengan sayang. "kami ingin mengatakan sesuatu,tapi kamu haru tetap berfikir positif... satu yang harus kamu tahu, kalau om, om Jimmy, om Alfian dan mba Ratmi sayang sama kamu bagaimanapun nanti keputusannya. kamu paham kan?"


om Jimmy dan om Salman menjelaskan semuanya, amanah amanah yang dititipkan mama Tina dan seluruh konsekuensi yang akan kami dapat,termasuk soal kehidupanku kedepannya. betapa terkejutnya aku saat mereka mengatakan kalau aku harus tinggal bersama tante Emy, antara takut dan bingung karena aku memang tidak dekat dengannya jadi buatku itu sesuatu yang sangat sulit aku lakukan.


aku tidak bisa menjelaskan perasaan ku saat itu, yang aku tahu hanya satu, aku sangat ingin tidur,aku seperti lelah dan ku mohon jangan ada satu orang pun yamg menghampiriku saat ini, karena jika sampai itu terjadi aku yakin air mataku ini pasti akan lolos dengan hebatnya. setelah pembicaraan malam itu aku lebih banyak diam,menjawab sekedarnya saja,bahkan candaan dan obrolan yang biasa terjadi setiap malam semuanya hilang.


...****************...


hingga suatu hari Gia mendengar om Salman menelpon seseorang,entah kenapa aku yakin sekali jika yang di telpon adalah tante Emy aku yakin karena aku mendengar sedikit pembicaraan yang cukup serius itu,mereka membuat janji untuk berjumpa,setelah itu om Salman menelpon om Alfian untuk mengantarnya menemui tante Emy.


keesokan harinya mereka benar pergi, entah apa yamg mereka bicarakan dan apa yang terjadi di sana,yang aku tahu yangbterjadi bukan sesuatu yang menyenangkan,karena saat aku kembali dari sekolah aku mendapatkan wajah kedua pria kesayangan ku itu tertekuk tanpa bentuk.


seperti biasa aku masuk ke dalam kamar dan langsung menguncinya agar tidak ada yang masuk,bukan tidak mau bicara tapi aku lebih berharap mereka bisa mengambil ku bagaimanapun caranya,aku tidak ingin bersama mereka,lebih tepatnya aku takut, karena om Anton, selalu melihatku dengan tatapan aneh, yang seolah ingin menelan ku hidup hidup.


kegiatan di rumah oma berjalan sebagaimana semestinya,makan malam bersama,membersihkan bekas makan bersama, masak bersama, semua tidak ada yang berubah. yang berubah hanya, kebiasaan duduk bersama walaupun hanya sekedar menceritakan keseruan melewati hari ini,karena mau bagaimanapun, semua telah berbeda.


dua hari kemudian aku di kejutkan dengan kedatangan tante Emy dan om Anton ke sekolahku,sebenarnya aku takut, tapi semua guru tahu jika beliau tanteku jadi sangat tidak mungkin jika aku langsung kabur saat melihatnya. mereka menjemputku sekaligus mengajakku makan, aku tidak mungkin menolaknya di depan banyak orang, akhirnya membuatku setuju dengan ajakannya.


"kau menyayangi om mu itu?" tanya tanteku..

__ADS_1


"maksudnya?"


"tante yakin kamu tahu yang tante bicarakan!! tapi sayangnya orang di sekitar belum tentu mengerti" dengan senyum sinisnya. "tante hanya minta agar kamu tetap mau tinggal dengan tante karena seperti yang kamu tahu, uang dari ibu mu hanya akan turun jika kamu sudah tinggal dengan tante selama dua tahun. jadi tante harap kamu busa mengerti dengan ini! karena kemarin om mu tercinta menemui tante untuk meminta mu,tapi sesuai dengan ini wasiat dari ibumu,tinggal bersama mu membuat uang itu akan turun lebih cepat, om mu sedang tidak bekerja,tante akan membuat usaha."


"tidak bisakah aku tetap bersama nya? uangnya tetap akan ku berikan padamu! "


"tidak bisa Gia!! semuanya berlandaskan hukum,wasiat dari ibumu itu ada dasarnya, tidak sembarangan"


"tapi tante..."


"ini bukan sebuah ancaman tapi aku hanya sekedar memberi tahu kalau aku bisa membuat orang orang di sekitarmu hancur dalam sekejab"


"bukan ancaman katanya..." ucap Gia dalam hati, "bagian mananya yang tidak mengancam dengan kalimat yang barusan dia ucapkan" sambungnya lagi dalam hati.


lama Gia berfikir sampai akhirnya dia setuju dengan permintaan tante Emy,jadi nanti saat tante Emy datang mengambil Gia dengan om jimmy dan istri sebagai lawyer dan saksi bahwa Gia ikut bersama Emy.


pulang sekolah Gia langsung ke kamar om Salman dia sempat menanyakan keberadaan om Salman pada mba Ratmi yang sekarang masih ikut keluarganya,dijawab oleh mba Ratmi kalau om Salman keluar untuk mengurus keberangkatan nya kembali ke negara I 2 minggu lagi.


Gia berbaring di tempat tidur itu,dia mengistirahatkan kepalanya yang terasa seperti akan pecah,terlalu banyak suara yang masuk dan memerintahkan banyak hal padanya,bahkan sempat ada suara yang memintanya untuk mengakhiri hidupnya.


tanpa terasa air mata mengalir di pipinya,Gia merasa sangat takut untuk ikut dengan keluarga kandungnya itu,entah kenapa rasa takut ini muncul begitu saja. "Tuhan... jika aku memang tidak di takdirkan tinggal bersamanya, bisakah aku tetap melihatnya bahagia?" ucap Gia di tengah derai air mata yang turun, hingga akhirnya dia tertidur di kamr itu.


kembali dari membereskan urusannya dia buru buru masuk ke kamar karena saat dia menelpon ponakan kesayangannya itu, yang mengangkat mba Ratmi dan mengatakan kalau ponakannya di kamar dan belum keluar.


Dia masuk ke dalam selimut yang sama dan memeluk keponakannya itu,ada rasa sakit saat melihat ponakannya tidur sambil menangis, "apa sesuatu terjadi padanya?" ucapnya dalam hati saat melihat mata keponakannya, "hei... ku mohon... jangan lagi tidur sambil menangis itu akan membuatku jauh lebih hancur" ucapnya lagi sambil membenarkan anak rambut ponakannya.


Gia membuka matanya dan langsung berhadapan dengan sebuah leher, dia langsung bangun saat melihat pemandangan itu. "kau sudah bangun? " tanyanya ikut terkejut, dia lega ternyatabitu om salman.


Gia menjawabnya dengan senyuman,sebenarnya oma selalu melarang kami tidur di tempat yang sama, kata oma waktu itu karena aku sudah besar tapi kadang aku suka ke kamar om Salman untuk melepaskan kemarahan ku di ejek di sekolah atau rasa lelahku. hanya tidur disitu membuatku merasa nyaman dan tenang.


"kau merindukan sesuatu?" tanyanya lalu memelukku.


"semuanya akan baik baik saja Gia... apapun yang terjadi nantinya,satu yang harus kamu ketahui. semua yang Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupanmu pasti yang terbaik adanya,kamu harus mengambil banyak hikmat dari setiap kejadian. saat ini om salman, om fian dan mba ratmi mendoakan yang terbaik untuk kamu,jangan nyerah sama keadaan,jangan berfikir pendek dan bawa semua dalam doa." ucap om salman panjang kali lebar,di antara kami om salman memang paling rajin berdoa, bahkan hanya untuk minun.


Gia tersenyum "iya om, Gia percaya Tuhan pasti kasih sesuatu yang baik"


"supaya kamu menjadi wanita yang kuat nantinya."


...****************...


satu minggu sebelum om salman berangkat,om Jimmy mengumpulkan kami,ternyata tanpa sepengetahuanku om salman beberapa kali datang untuk menemui tante emy,memohon agar tante emy setuju dengan ide nya,tapi entah kenapa tante emy menolak.


tanpa sepengetahuan om salman juga aku sudah setuju dengan permintaan tante Emy, aku hanya bisa berdoa agar dia tidak berubah pikiran dia berjanju pada ku untuk tidak menyakiti om Salman, om Alfian yang sudah seperti keluarga kami dan mba Ratmi serta keluarganya.


Om Jimmy menjelaskan kembali semua wasiat yang di berikan ibu ku dan si sana tertulis jika aku mengikuti tante ku dengan tulus hati, dengan kemauanku sendiri,maka peninggalan ibuku yang akan di wariskan untuk tante emy itu akan turun jika tidak, semua akan di sumbangkan ke salah satu panti yang sudah beliau tunjuk.


ingin sekali aku mengatakan jika aku tidak ingin bersama tanteku,tapi kata kata yang diucapkan tante emy langsung menggema di telingaku. "ya Tuhan... apa yang harus aku lakukan...?" ucapku dalam hati.


" bagaimana Gia? apakah kau ingin bersama om mu atau dengan tantemu"


"apa harus aku putuskan sekarang?"


"tentu sayang karena wasiat ini beliau minta di laksanakan setelah oma tiada, dan ini sudah hampir 40 hari."


aku menarik nafas dengan berat. "aku mau... aku mau ikut tante emy" ucap ku lalu menunduk.

__ADS_1


ucapanku barusan tidak hanya membuat om Salman terkejut,mba Ratmi saja sampai pingsan mendengarnya. aku tahu saat ini semua mata itu melihat kepadaku termasuk om Jimmy dan suaminya, aku tak berani menatap mereka,aku diam,aku menunduk.


"bisa kami bicara padanya? " tanya om Alfian.


"tidak perlu dia akan ikut denganku" tante Emy yg menjawab.


"bicaralah kalian punya HAK untuk itu" om Jimmy menenggahi. "tapi sebelum kalian bicara saya ingin mendengar langsung dari Gia sebelum ada satu orang pun yang bicara dengannya" ucap om Jimmy lalu kembali memanggilku dengan lembut.


"nak... apakah ini sudah benar benar keputusanmu?"


"iya om"


"kau yakin? "


"ya..."


"tidak ada seseorang yang mengancamu"


"tidak om aku yakin"


"baiklah... om menghargai keputusan yang kau ambil, tapi ingat... kau bisa memanggilku jika kau tidak nyaman"


Gia tersenyum mendengar ucapan itu, "baiklah..." balasnya. "tapi bisakah aku disini sampai 40 hari oma? "


"tentu nak... kamu punya hak besar untuk itu"


"terimakasih om"


Gia terus berbicara dengan menatap Jimmy, dia takut menatar ke dua om nya yang ada di sisi lain,dia tahu mereka tidak akan setuju dengan keputusan yang sudah aku ambil, aku hanya ingin mereka baik baik saja, karena aku tahu tante Emy akan mencoba berbagai cara.


"apa kami sudah bicara dengannya?" tanya o. Salman.


"silahkah Salman" om Jimmy menanggapi.


Salman dan Alfian membawa Gia untuk bicara pribadi dan Jimmy mengijinkan,mereka berbicara di kamar Salman, karena Jimmy tahu ini pasti berat untuk mereka,bukan hanya waktu, tapi kenangan yang tak mungkin mereka hapus. Alfian juga memanggil Ratmi untuk bergabung bersama mereka.


Jimmy tahu banyak hal yang tejadi di dalam kamar itu,terlihat dari Salman yang tak kembali bergabung keluar,tanga Alfian yang terlihat bercak darah dan sedikit memar ada dua wanita ini yang keluar dengan bekas air mata pada pipi mereka.


"apa saya audah bisa meninggalkan kalian?" tanya om Jimmy memastikan,Alfian menjawabnya dengan anggukan sementara Gua tidak menjawab.


"ayo Gia..." ucap tante Emy lantang.


"pergilah tante... aku akan ikut denganmu setelah 40 oma." ucap Gia kembali ke kamar di ikuti Ratmi.


"Gia benar bu, banyak kenangan yang dia lewati di sini, jadi dia harus mempersiapkan diri untuk meninggalkannya" sambung Jimmy.


...****************...


sementara itu di dalam kamar,Gia berbaring menatap langit langit,dalam pikirannya masih di penuhi ucapan om Salman dan Alfian,kemarahan yang mereka luapkan saat tahu keputusan yang aku ambil. mereka terus menekanku menanyakan keputusan ku yang mereka rasa sepihak dan tanpa melibatkan mereka.


"dua minggu lagi om Salman kembali ke Negara I, secara otomatis om Alfian akan sibuk, seminggu lagi adalah acara 40 oma dan perginya aku dari ini" ucap Gia dalam hatinya.


Gia tahu pasti saat ini om Alfian menginap di kamar om Salman, kedua sahabat sejati itu selalu saling mengerti, saling pengertian, selalu ada disamping di saat yg di butuhkan, bukan dateng pas ada butuhnya aja.


"om.... jangan bikin aku bingung dong" ucap Gia dalam hati.

__ADS_1


malam itu mereka masing masing tidak ada yang tidur, semua tengelam akan pikirannya masing masing, mencoba menetralisir perasaan terkejut dengan keputusan ini.


"oma... kenapa kepergianmu malah menghancurkan dunia kita,kita semuanya... " ucap Gia pelan hingga akhirnya menanggis.


__ADS_2