
terdengar denting piano lagu rohani mengalun yang menandakan ada panggilan masuk di handphone nya,Gia yang baru selesai mandi langsung mengangkat tanpa tahu siapa yang menghubungi.
"selamat sore nak... " suara lembu dan hangat menyapa.
"mama? sore ma" jawab nya sedikit terkejut.
"iya nak, kamu lagi sibuk?"
"ga kok ma" jawabnya tenang tapi dalam hatinya si Rian abis ngadu apa lagi nih...
"gimana persiapan kamu? udah sampe mana? "
"eehhhh... belum sampe mana mana ma"
"lho?? kok gitu?"
"aduuhh....gimana ya... "
"apa perlu mama bantu?"
"enggak ma nggak usah"
"kalian berdua bikin mama bingung... kemarin mama telpon Rian juga jawab nya begini, kalian sebenarnya mau nikah atau engga? ada apa sih? "
karena tidak mungkin menyembunyikan dari orang tua, akhirnya Gia menceritakan yang terjadi pada mama nya Rian, di ujung telpon mama nya tersenyum saat tahu anak -anaknya mencoba menyelesaikan masalah nya tapi gengsi.
"Gi... boleh mama kasih tahu sesuatu?"
"iya ma"
" ini dari sudut pandang mama ya... kamu bener kok kalau mau sedikit orang biar lebih kekeluargaan, Rian pun tidak salah jika ingin besar besaran bukan karena dia bos besar tapi karena dia merasakan pertemanannya pun dari berbagai lingkup dan latar belakang. masalah kaya gini jangan kalian bikin larut ya, ini masih awal, kalian gak boleh diem dieman kaya gitu, ga akan selesai"
setelah saling bertukar cerita,mama pamit karena sudah cukup lama mereka berbincang, sebelum menutup telpon mama sempat memberi tahu kalau Rian tidak pernah bercerita jika bertengkar dengan Gia.
*maaf...
maaf bukan bermaksud tidak mengerti kamu, tapi aku mau yang terbaik buat kamu
non... jangan karena undangan harus berapa kamu malah jadi cuekin aku terus kaya gini
non...
non...
sayang... sayang... sayang*...
kamu engga lagi selingkuh kan
setelah telpon berakhir Gia baru tahu kalau ada banyak pesan dari Rian yang membuat tawanya hampi meledak.
'kenapa? ' balas Gia, yang langsung membuat Rian menelponnya, tapi Gia tidak angkat.
'non... jangan kaya gini, aku jadi *bingung, jangan diem diem gini ya'
__ADS_1
'hheeemmm'
'besok aku jemput ya, jangan pake mode ngambek karena aku akan tarik kamu dari kamar apapun keadaannya'
' hahaha... nanti kamu di marahin mas Bagus'
' *ga takut aku sama dia '
'oke oke... yaudah istirahat gih... bye'
'sippp makasih sayang'
'oke*'
...****************...
tok tok tok
suara ketukan pintu membuat Bagus yang sedang mengunyah sarapannya heran,tapi belum sempat dia bangun untuk buka pintu, orang yang mengetuk sudah masuk.
"bisa bisa nya lu masuk, yang punya rumah belum bukain pintu" omel Bagus.
"bawel... istri gw mana? " tanya Rian.
"calon... istri istri aja lu... " omel Bagus lagi yang hanya di sambut oleh tawa dari sahabatnya.
"masih di atas dia, tadi turun bantu gua masak terus naik lagi buat mandi" sambung Risa sambil menggeleng dengan kelakuan dua sahabat itu, Rian menghampiri Risa dan mencium pipi nya, saat akan naik ke atas langsung di larang Bagus karena dia ini memastikan adik nya sudah selesai mandi.
tok tok tok...
"kok kamu tahu ini mas?" tanyanya mengecup pipi sang adik. pasti kalian bertanya tanya dengan sikap Bagus ini,rasa nyaman yang mereka berdua ciptakan membuat mereka saling menyayangi layaknya adik dan kakak, Risa pun tahu hal itu.
"kalau kakak pasti langsung masuk."
"iya juga... ada mas mu satu lagi di bawah"
"suruh naik aja, ada mesti dia angkat... tolong ya mas"
walaupun agak heran tapi Bagus menurut, dia ke bawah dan menyuruh Rian ke atas.
"sayang" sapa nya saat masuk.
"minta tolong bawa itu... "
"ah... apaan sih non, kita baik baik aja kok!" ucapnya saat melihat kardus yang di tunjuk Gia berisi barang barang yang dia berikan untuk wanitanya itu.
"bawa aja"
"ga"
"yaudah aku yang bawa" ucap Gia menghampiri kardus, Rian langsung mengangkat kardus itu tanpa bicara dan langsung menuju mobil.
tak lama Gia turun dengan wajah heran karena Rian tak ada di bawah, "Rian mana?"
__ADS_1
"keluar tuh bawa kardus, pasang muka cemberut lagi"
"lha kakak engga panggil?"
"udah tadi... tapi dia jalan terus"
"gimana sih, orang minta tolong turunin dia malah bawa ke mobil, bentar ka aku lihat"
Gia keluar melihat Rian lagi bersandar di jok mobilnya, terlihat seperti menenangkan diri.
"mas Rian... " panggil Gia
"hhmmm" tanpa menoleh
"kamu engga sarapan? engga jadi bawa bekel?"
" engga usah "
" kenapa ? "
"kamu jadi bareng aku ga? "
"jadi dong... kardus tadi mana?"
"belakang"
"bentar ya" jawabnya penuh senyum.
"bisa bisa nya dia masih senyum padahal gua udah kesel setengah mati sama dia"
Gia membongkar bagian atas kardus yang berisi baju, tas serta sepatu,termasuk sepatu roda yang di belikan Rian untuknya tapi ternyata bagian bawah adalah kertas nota yang harus di periksa Risa, serta beberapa macam saran kritik dari yang datang ke kedai untuk perkembangan kedai ke depannya. Ria langsung turun dan mengambil alih kardus itu, mendorong Gia ke arah mobil, dengan gemas dia mengomel pada Gia, " kenapa sih kamu seneng banget ngerjain aku?" tanya Rian gemas.
"aku engga ngapa ngapain" jawabnya polos.
Rian maju seakan mau menciumnya, "kalau kamu ngerjain aku terus, nanti aku marah balik kamu engga akan bisa bujuk. "
"masa?? " Gua menyerang balik Rian dengan mengalungkan tangan nya di leher Rian, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya.
hal yang tidak di sia siakan Rian, dia langsung mencium Gia dengan lembut, bahkan dia hampir terbawa suasana saat dia merasakan Gia membalas ******* nya walau hanya sekali.
"mas.. " tegur Gia saat dia rasa Rian tidak akan berhenti.
" sini aku yang bawa masuk, kamu di sini aja " ucapnya sambil memberikan tisu untuk menyeka mulut nya.
inilah yang Gia senang dari Rian karena dia selalu melakukan nya dengan lembut, bahkan sangat lembut sehingga Gia tidak merasa terancam bersama dia. walaupun Gia tahu hasrat itu sangat di tekan Rian karena dia tidak ingin Gia jadi merasa takut dengan keberadaan diri nya.
"yang satu dateng yang satu keluar, yang satu keluar yang satu dateng, gitu aja terus sampe lebaran kuda" ucap Bagus liat Rian dateng sendiri.
" ini kakak ipar " ucap nya sambil memberikan kardus itu lalu menghampiri Risa yang sedang menggendong baby nya. "aku berangkat ya, sekalian Gia" mencium pipi Risa lalu sang baby.
"ini buat bekel, yang ini buat sarapan. tadi Gia udah siapin buat kamu" ucapnya sambil tersenyum, "lain kali di kamar biar lebih privasi, jangan di depan nanti kalau ada yang lihat, pasti aku yang kena" bisiknya yang membuat Rian tertawa.
" ngintip kamu tuh" ucap Rian malu.
__ADS_1
sepanjang jalan Gia menyuapi Rian sambil berbincang konsep undangan dan resepsi agar tidak ada lagi keributan seperti sebelumnya, sebelum makan tadi Rian sudah menjelaskan kenapa harus tetap ada acara resepsi dan Gia pun sudah mengerti. Gia minta agar dia tetap memakai gaun yang sederhana tapi modern untuk pemberkatan pernikahan di gereja, dia membebaskan kepada Rian untuk resepsi nya tapi Rian menolak karena dia ingin Gia merasa nyaman dengan apa yang dia pakai dan Rian meminta Gia agar setuju dengan memakai jasa WO, walaupun awalnya kesal tapi menurut Gia ada benarnya juga pakai WO karena Rian dan Gia Sama sama orang kerja, otomatis tidak bisa sepenuhnya terfokus di situ.