Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
71


__ADS_3

Rian memukul Awan meluapkan kemarahannya pada sahabat nya itu, Gia yang tidak tega melihatnya langsung masuk diantara dua orang itu dan bbuugghhhtt.... satu pukulan mendarat tepat di pipi Gia membuat dua orang itu terkejut dan pukulan itu berasal dari Rian.


"gila lu!" ucap Awan menarik Gia yang tadi terpukul.


Rian langsung mendorong Awan dan mengambil alih Gia, kali ini Awan tidak melawan karena dia tahu Rian menyayangi Gia. Rian membawanya ke mobil, "I'm sorry... " ucapnya lirih lalu membawa Gia dalam pelukkannya.


Gia memendam wajahnya ke dada bidang Rian, tanpa aba aba air mata yang telah ditahan dari tadi, jatuh tanpa permisi. "maaf... " ucap Rian lagi namun lebih lirih, lebih sedih. Gia menganggukkan kepalanya dalam tangis.


cukup lama mereka saling mengutarakan perasaannya lewat tanggis sampai ada yang mengetuk kaca mobil, "bawa pulang gih... " ucap orang itu sambil memberi sapu tangan berisi es batu. Rian menerima itu sambil tersenyum dan mengucapkan terimakasih,dia beralih ke jendela satunya dan memberikan sebuah kecupan pada kening Gia,thank you... ucap Rian dan Gia tanpa suara.


sepanjang jalan hanya diisi dengan keheningan,tapi dengan tangan yang saling mengenggam, tenggelam dengan perasaan masing-masing, mencoba saling mengerti perasaan masing-masing.


'*Tuhan jika ini hanya bagian dari permainannya, lepaskan dia Tuhan, dengan cara apapun pisahkan kami, jangan biarkan dia berada disisiku.' batin Gia


'kenapa Awan seakan mau ambil dia dari gue, apa yang terjadi sebenarnya? apa yang mereka sembunyikan? ini ada yang gak beres, pasti terjadi sesuatu! semua tahu wanita ini milik gue, ga mungkin ada yang ambil apalagi sahabatnya sendiri. gue harus tanya ini sama Awan' ucap Rian dalam hati*.


...*****...


di kediamannya Bagus dan Risa masih tersadar karena merasakan kejanggalan pada sikap Awan tadi.


'telpon aja gih mas... " ucap Risa


"ga bisa langsung gitu! aku mesti tanya dulu dong dia dimana, kalau dia lagi nyetir masa kita mau ngobrol"


"yaudah... hubungin, kenapa malah bawel"


"*eh.. ban***t dimana?" Bagus mengirim pesan.


"baru sampe rumah. Gia sudah sampai? ga bisa di telpon"


"udalah, itu punya temen loe sendiri, jangan di ganggu."


"hahahahaha... gue cuma tanya apa dia sudah kembali?"


"belum"


"oke kabarin gue kalau dia udah balik"

__ADS_1


"ada apa sama kalian bertiga?"


"it's okay"


telepon Awan berdering tertera nama* BAGUS , bukan diangkat tapi malah dia tersenyum, dengan sengaja dia membiarkan panggilan itu hingga beberapa kali, sampai satu pesan masuk yang membuatnya mengangkat panggilannya itu.


"gue tutup Rumah sakit loe atau gue blacklist biar loe gak keterima dimanapun"


Rumah sakit tempat Awan berkerja milik orang tua Rian dan Awan sebagai kepala dokter disana, kedekatan serta persahabatan Bagus dan Rian terjalin sejak SMP membuat mereka sangat dekat, bukan hal yang tidak mungkin Rian akan menyetujui Bagus apalagi itu tentang Gia.


"anceman loe ga lucu" omel Awan saat mengangkat telpon.


"Awan... " suara Risa yang terdengar.


"kenapa Ris? "


"kalian kenapa sih? kamu tahu kan Gia punya Rian?"


"apa Rian sudah pernah mengutarakannya?"


"I don't know"


"maksud loe apa sih? " kali ini Bagus yang menjawab.


Awan menghembuskan nafas dengan kasar, dia diam sejenak dan menimbang apakah dia harus menceritakan ini, setelah dia rasa akan baik baik saja jika mereka tahu tentang ini. Awan menceritakan semua tanpa terkecuali, apa yang di lakukan Hanna dan apa yang dikatakan Hanna. belum selesai Awan bercerita Risa dan Bagus mendengar suara mobil di depan Rumahnya, mereka mengintip dari jendela dengan Awan yang masih bercerita, kedua orang yang sedang berpamitan di luar rumah terlihat baik baik saja, Rian memeluk sebentar lalu mencium kening nya dan pergi. "sepertinya tidak ada pertengkaran apapun pada mereka" batin Bagus.


saat Gia berbalik hendak masuk ke rumah, wajahnya yang tadi biasa saja seakan menyimpan luka, membuat Risa dan Bagus saling melempar pandang. berarti bener sesuatu dia sembunyikan" ucap Risa dalam hati.


...*****...


Awan sedikit terkejut saat pintu rumahnya terbuka sendiri ketika dia sedang berbincang dengan Risa dan Bagus,Rian masuk tanpa permisi membuat Awan langsung menutup telponnya tanpa pamit dan langsung dihadiahi pukulan.


"kalau loe dateng cuma buat pukul gue mending jangan dateng."


"itu hadiah karena loe berani sentuh wanita gue, apalagi di luar tugas loe sebagai dokter"


"sia**n" tetap saja gue kalah"

__ADS_1


"apa yang terjadi?" Rian bertanya seolah tahu sahabatnya menyimpan sesuatu.


"ga ada apa apa" jawab Awan singkat, dia hanya ingin Gia sendiri yang mengatakan nya dan Rian tidak mengambil langkah yang salah.


Rian mengambil telpon genggam dan bicara pada asistennya untuk menurunkan jabatan Awan dan memindahkannya ke Merauke,tempat terpencil disana membutuhkan orang,mendengar sahabatnya berbicara seperti itu Awan langsung menyerah dan menceritakan semua yang terjadi pada Rian.


"Hanna.... kurang ajar tuh anak, perlu gw tatar kayanya" batin Rian setelah tahu yang sebenarnya.


"okey... makasih buat apa yang lu lakukan hari ini" ucap Rian tulus. "tapi... besok besok jangan sentuh wanita gue kalau lu bukan sedang bertugas." sambung Rian lagi.


"siap bos.. jangan lupa bilang sama assisten lu yang gila itu kalau gue gak jadi dipindah."


"kalau yang itu tergantung mood gue, kalau gue rasa loe masih cukup menganggu, ya terpaksa... " balas Rian santai lalu pergi meninggalkan Awan yang terkejut dengan kesadisan teman nya sendiri,


...*****...


besok paginya di rumah Bagus dan Risa, ada suasana yang berbeda kali ini, ada sebuah tas besar di sofa yang sudah Gia siapkan semalam. saat Risa ingin turun membuat sarapan pagi sekitar pukul 5.30 melewati ruang tamu sempat melihat tas besar itu disana lalu dia menuju dapur dan disana sudah ada Gia dengan pakaian rapi sedang menyiapkan sarapan.


"de... kamu pulang jam berapa?"


"lupa ka, kayanya udah tengah malem"


"pantes ga ketemu. kamu masak apa?"


"aku kayanya mau bikinin kakak salad sayuran, kayanya aku liat belakangan kakak sama mas jarang makan sayur"


"ah... bener juga, punya mas kasih telur atau kentang rebus"


"sudah aku rebus dua dua nya tinggal pilih aja"


tengelam dengan aktifitas didapur membuat Gia lupa ada yang ingin dia bicarakan, Risa yang memang sudah terkontaminasi Gia mengenai seru nya kegiatan didapur menjadi ikut lupa kalau ada yang ingin dia tanyakan pada adik angkat nya itu.


"eeehhheeemmm" suara Bagus membuat dua wanita itu sadar dari aktifitas mereka, "kalian itu kalau sudah di dapur sampai lupa harusnya ngapain" sambung Bagus lagi menghampiri dua wanita itu yang masing-masing mendapatkan kecupan di pipinya.


Risa dengan sigap mengatur sarapan yang tadi sudah disiapkan Gia, jika hanya bertiga mereka memang lebih sering makan di meja dapur daripada di meja makan.


sarapan dimulai dengan saling bertukar cerita, Bagus juga menyampaikan kalau hari ini dia akan pulang malam karena harus ke Bogor, Risa sudah menyiapkan bekal buah untuk Bagus karena belakangan dia selalu minta buah.

__ADS_1


"ka... mas... aku mutusin terusin sekolah lagi, aku mau kuliah di luar kota" ucap Gia yang langsung membuat kedua orang yang ada di depan nya tersendak.


__ADS_2