Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
BAB 6 Tempat baru dan kehidupan baru... menghancurkanku


__ADS_3

Aku pergi, bahkan tanpa menoleh lagi ke arah mereka, sepanjang perjalanan ku pun hanya diam. "terima kasih om... terima kasih untuk tidak menahanku, terima kasih mengijinkanku pergi" ucapku dalam hati.


sesampainya di rumah tante Emy aku di tempatkan di kamar belakang bersama mba ima ART di rumah itu, mba ima menyambutku dengan sangat senang,aku pun merespon positif sikap mba ima padaku, di samping kamar kami ada sebuah gudang kecil, aku melihat foto ibuku bersama oma dan tante Emy, ibuku mengandeng erat tangan om Salman.


"pantas tante Emy tidak menyukainya, ternyata karena oma dan ibu ku sangat terlihat menyayangi om Salman. " ucapku dalam hati.


"ya Tuhan.... semoga keputusan ku ini adalah yang terbaik, aku yakin Kau akan menyediakan yang baik baik di balik semua hal yang terjadi padaku" ucapku lalu tidur.


tempat tidur mba Ima bersusun, aku di bagian bawah dan mba Ima di bagian atas, mba ima senang ada temannya dia bilang kadang dia kesepian kalau malam karena para sepupu ku pulang selalu menjelang pagi walaupun anak laki laki tante masih SMA tapi dia selalu pulang pagi, begitu pula dengan kakaknya.


keesokan hari nya aku berangkat sekolah dari rumah tante Emy, memang agak jauh kalau dari sana memakan waktu hampir 1 jam. dari kedatanganku semalam tidak ada satupun dari mereka yang berbicara, apapun itu, hingga tadi pagi, aku pun diam karena aku takut jika bicara malah salah makanya aku memilih untuk diam. pagi ini mba ima membuatkan bekal untuk ku,kata mba ima sepupu sepupu ku selalu dia buatkan bekal tapi tidak pernah di bawa, makanya dia senang dengan adanya aku dia jadi bisa membuat bekal lagi.


sampai di sekolah ternyata sudah ada om Salman di sana dengan wajah khawatir, "kamu gak apa apa kan?"


"ga apa apa om... kamu kenapa disini?"


"besok sore anter aku ke bandara, nanti aku jemput di rumah ka Emy" ucapnya dan aku menyanggupi.


aku menatap kepergian om Salman dengan senyum, "banyak yang kau korbankan untuk ku dan oma kemarin,sekarang saatnya aku membalas semua itu" ucap ku menitikkan air mata.


perjalanan kembali ke rumah tante Emy aku dan om Alfian terlibat pembicaraan serius, tentang keputusan yang telah aku ambil dan akhirnya aku menceritakan semuanya pada om Alfian,bukan karena aku lebih mempercayainya tapi aku tidak mau menjadi beban pikiran untuk om Salman karena jika aku ikut dengan nya dia akan keluar dari pekerjaannya yang sekarang,biarlah kali ini waktunya aku membalas semua pengorbanannya.


"seandainya kamu tahu hancurnya om mu saat kamu memutuskan hal itu tanpa sepengetahuannya..." ucap om Alfian setelah aku menceritakannya.


"aku tahu... aku tahu dia oun kecewa, tapi apa yang aku lakukan untuk dia juga dan kalian... kalian tidak akan pahan seberapa nekat tante Emy dan keluarganya" balas ku dan akhirnya aku menceritakan kejadian oma lagi padanya.


setelah perdebatan dan perbedaan pendapat, akhirnya om Alfian paham maksudku mengambil keputusan ini,walaupun dia masih belum bisa terima tapi dia paham kalau ini akan membuat hidup mereka lebih tenang kedepannya.


...****************...


hari demi hari,minggu demi minggu, hingga bulan demi bulan telah aku lewati,tanpa terasa satu tahun telah berlalu,enam bulan lagi aku akan lulus dari sekolah menengah pertama (SMP) dan itu artinya aku memasuki ke jenjang yang baru,aku akan semakin dewasa dalam menghadapi semuanya.


malam itu aku terbangun karena mendengar suara berisik yang berasal dari ruang tamu, seperti ada suara perempuan yang sedang mendes*h dan suara laki laki, "siapa itu???" ucapku dalam hati.


aku perlahan lahan bangun dan melihatnya keluar,betapa terkejutnya saat aku melihat ternyata sepupuku yang perempuan ada di sana bersama seorang pria yang belum pernah aku lihat sebelumnya,aku buru buru kembali ke kamar sebelum dia melihatku.


"dari mana non? " tanya ma ima padaku.


"oh.. itu mba... eh...." belum selesai aku bicara suara itu muncul lagi,hal itu membuat mba ima mengerti apa yang aku maksud dia langsung tersenyum.


"non... lain kali kalau ada suara kaya gitu jangan keluar ya"


"iya mba... maaf aku gak tahu"


"gak apa apa... yang penting jangan lupa"


"seperti apa sebenarnya keluarga ini? kenapa ka Tasya bisa vulgar itu di tempat umum, apakah orang tuanya tidak tahu kelakuan anaknya..." guman ku pelan dan kembali beristirahat.


makin hari sifat sifat asli tante Emy terlihat, kadang dia menyuruhku merapikan rumah sendiri, kadang dia memintaku membersihkan halaman belakang rumahnya


tanpa istirahat,aku tidak boleh duduk di kursi, harus makan di dapur, ga boleh keluar keluar walaupun hanya sekedar berbelanja.


tanpa terasa saat nya aku masuk SMA, tapi sayangnya tante memberhentikan sekolah ku dengan alasan keuangan sedang limit,aku tidak berani memberitahukan pada om Salman ataupun alfian, bahkan beberapa kali dia tidak mengangkat video call mereka.


karna putus sekolah aku belajar sendiri di rumah dari buku buku milik kakak sepupuku,jadi jika suatu saat aku bisa mengejarnya, aku sudah bisa menjawab semua pertanyaan yang ditanyakan pada ku.


kehidupanku sudah selayaknya bukan bagian dari mereka,bukan keluarga mereka. membersihkan rumah,memasak,bebersih kebun,mencuci baju dan lainnya aku kerjakan bersama mba Ima. aku sebenarnya tidak masalah karena aku biasa mengerjakan setiap hari selama bersama oma dulu, beliau mengajarkanku untuk mandiri untuk segala sesuatu,makanya aku tidak terkejut dengan apa yang terjadi padaku.

__ADS_1


komunikasiku dengan om Salman, om Alfian dan mba Ratmi sangat lancar, terkadang mereka menelfon bersamaan,bercerita bergantian tentang hari yang di lalui dan saling memberi dukungan jika salah satu dari kami merasa lelah. aku berusaha mengunci rapat apa yang terjadi padaku,bahkan mereka tidak ada yang tahu jika aku putus sekolah tapi aku bercerita pada mba Ratmi agar jika nanti mereka menanyakan mba Ratmi bisa menyelamatkan ku dengan bercerita tentang hal lain yang buat mereka lupa.


flashback on


malam itu entah apa yang ada di pikiran mba Ratmi, tiba tiba dia menelpon ku jauh sebelum jadwal berbincang kami seperti biasanya,dengan ragu aku mengangkat panggilan itu.


"ya mba?"


"ade dimana?"


"aku di kamar mba, ada apa? tumben..."


"ade sudah pulang sekolah?"


"sudah mba baru banget sampe, ini aku lagi mau..." belum selesai Gia menjawab tiba tiba pintu kamar terbuka dengan keras,lalu disusul dengan suara Tasya "heh... babu! loe ngapain malah telfonan! masak anj***g gue mau makan! "


"mba nanti aku telepon lagi ya" jawab ku buru buru mematikan Hp ku,saat aku akan keluar mba ima datang dan mengatakan agar aku meneruskan kegiatanku saja biar mba ima yang masak, tapi sayangnya Tasya menolak.


setelah masak Gia buru buru ke kamar untuk menelpon mba Ratmi,dia sudah khawatir dari saat sedang memasak tadi,dia takut mba Ratmi akan mengatakan yang dia dengar tadi. panggilan pertama tak ada jawaban lagi sampai pada panggilan keempat dan akhirnya di angkat.


"mba dari manal sih? "


"mba ke warung de, ga bawa bawa hp"


"mba yang tadi jangan di kasih tahu ke om ya"


"mba bener bener gak bisa jawabnya,mba mau kabulkan permintaan kamu tapi terlalu beresiko, karena om mu pasti akan marah mendengar itu"


"iya mba,aku aku paham tapi dari pada semuanya runyam, mba tahu kan gimana sifatnya om... aku cuma tidak mau ada pertengkaran disini,aku gak mau kalian kenapa kenapa"


aku sempat mendengar helaan napas dari sebrang sana,sampai terdengar suara "iya aku sangat ngerti maksud kamu, tapi apa ga lebih baik kamu balik sama kita? kalau dari yang aku dengar, mereka memperlakukan kamu buka seperti kamu saudaranya"


"yasudah kalau lamu rasa disitu lebih baik" balasnya lagi.


"gak mba... disini ga lebih baik... aku memang lebih baik sama kalian" ucap ku dalam hati.


mba Ratmin menanyakan keadaan tante dan lainnya, lalu entah bagaimana kejadian awalnya, mba Ratmi berhasil membuatku bercerita bahwa aku putus sekolah,padahal selama ini yang mereka tahu aku sekolah dan saat ini dudu di bangku SMA kelas 2. mba Ratmi cukup terkejut dengan kenyataan ini,dia pun sempat memintaku untuk menceritakannya pada om Salman atau om Alfian yang posisi lebih dekat. namun aku menolak, bukan karena apa,hampir setiap hari tante Emy mengancam dan aku juga tidak ingin sesuatu terjadi pada mereka yang aku sayang.


akhirnya dari semenjak itu setiap ada pertanyaan mengenai sekolah, mba Ratmi selalu membantuku untuk menjawabnya dan setiap kali aku berbohong dalam hatiku selalu meminta maaf pada om ku. Aku tahu seberapa besar dia menyayangiku, bukan hanya om Salman, mba Ratmi dan om Alfian pun begitu memperhatikanku, tapi aku tahu tante Emy sanggup berbuat hal keji yang dia katakan itu, makanya aku tidak ingin mengancam keselamatan orang orang yang aku sayangi.


flashback off


malam itu seperti biasa,mereka menelponku, walaupun dari suara yang aku mendengar jika kedua pria itu masih ada di kantornya masing masing tapi mereka selalu menyampatkan diri untuk menyapa aku dan mba Ratmi. terkadang mereka melakukan panggilan video seperti malam ini, aku menonton om ku yang sedang bekerja dan mba Ratmi yang sedang membuat kue.


tante Emy memang selalu membiarkan ku di kamar setiap jam 8 sampai jam 10 karena om Salman dan om Alfian selalu menelpon di jam segitu, agar tidak terlihat jika mereka berlaku kurang baik padaku. setelah cukup lama berbincang kami mengakhiri dan menutupnya dengan doa malam sebentar, lalu aku kembali keluar kamar dan menemukan tidak ada sama sekali makanan yang tersisa, aku hanya bisa menghembuskan napas dengan kasar saat melihat itu.


hal ini selalu terjadi setiap malam,awal awal berakhir dengan aku tertidur dalam keadaan lapar,karena tante Emy tidak mengijinkan ada yang menyalakan kompor di atas jam 9 dan entah kenapa mereka selalu menghabiskan makan malam.


sebelumnya aku menyembunyikan sedikit tapi tadi aku benar benar lupa karena aku hari ini di beri kerjaan yang kelewat banyak,aku baru akan beranjak saat tiba tiba mba ima menghampiriku membawa sebuah piring berisi nasi lengkap dengan sayur dan lauk,aku langsung menoleh ke arahnya,dia hanya tersenyum sambil mengatakan 'ayo kita makan' tanpa suara. mba Ima teman terbaikku di rumah ini, terkadang dia selalu membagi makanannya dengan ku, kadang saat dia memasak dia pun selalu memisahkannya untukku,merawatku saat aku sakit demam,membuatkanku obat dan lain sebagainya.


ya... seperti itulah kehidupan ku f


di rumah tante ku sendiri, yang dimana beliau adalah kakak kandung dari ibuku. kalau ditanya kenapa aku bertahan, karena dia selalu mengancamku dan aku tahu kalau ancaman itu akan benar dia lakukan. suami dari tante Emy adalah orang yang berpengaruh,tapi bukan di bidang yang baik, beberapa waktu lalu dia menghabisi seseorang tapi dia bisa membuat seakan dia tidak melakukan apapun juga.


intinya tante Emy pasti akan benar benar melancarkan aksi ancamannya itu, walaupun dengan cara menghabisi nyawa orang lain,itu kenapa aku tidak ingin berurusan sama mereka dan aku pun hampir tidak pernah menyapa om ku itu, karena aku tahu bisnis yang dia lakukan tidak masuk kategori bisnis yang baik.


...****************...

__ADS_1


suatu malam aku terbangun untuk mengambil air minum,saat aku ke dapur aku sempat bertemu om Anton, aku tak menyapanya sama sekali,bukan karena sombong tapi aku memang selalu mencoba untuk menjaga jarak dengan nya dari mulai aku mengenal mereka karena buat aku tatapan nya seperti ingin memakan ku hidup hidup. om Salman dan om Alfian pun berpesan hal yang sama sebelum aku pergi bersama mereka, aku pernah mengutarakan itu pada mba ima dan mba ima pun mengatakan hal yang sama.


karena air dispenser habis jadi aku mendorong galon sampai ke dekat dispenser dan memasangnya,entah di sengaja atau tidak om Anton menyenggol bagian belakangku, refleks aku langsung melompat menjauh menghindarinya,hal itu begitu membuatku takut padanya karena hal ini terlalu sering terjadi,terlihat seperti tidak di sengaja hanya saja itu seperti sering terjadi.


ya... om Anton beberapa kali melakukannya,aku pun pernah protes tapi dia selalu berdalih tersenggol sampai akhirnya mba Ima selalu mengambil alih pekerjaanku saat ada om Anton di dapur jadi aku selalu terhindar dari kelakuan bejat beliau. aku pun pernah mengatakannya pada tante,ataupun sepupuku, tapi sayangnya mereka tidak sama sekali yang percaya dengan hal itu, dia malah mengejekku dan mengatakan kalau aku terlalu percaya diri,padahal aku jelek bahkan di banding dengan ODGJ dekat rumahnya aku tetap masih jelek. itulah yang mereka katakan saat itu.


sampai akhirnya semua itu terjadi, hal yang di takutkan terjadi, hal yang selama ini om Alfian dan om Salman takutkan dan selalu memperingatkan ku terjadi. di suatu siang aku di tinggal sendiri di rumah itu,tante Emy dan tasya berbelanja, sedangkan mba ima sedang menghadiri sebuah pengajian di daerah situ, om Anton bekerja dan sepupu laki laki ku kuliah.


aku sedang tiduran di kamarku saat itu,aku terbangun karna merasa pintu kamar terbuka, betapa terkejutnya aku saat melihat om Anton ada di kamarku,aku langsung bangun.


"ada apa?? kenapa om masuk ke sini! " suaraku sedikit terbata karena takut.


"tenang saja... om tidak akan mengatakan pada tantemu" ucapnya dengan senyum yang tidak bisa aku artikan.


"apa maksud om??"


"sudah pegang ini! nanti aku akan mengajarkanmu" jawabnya lagi lalu mengelus area celananya.


melihat itu aku langsung kabur,aku berusaha mencapai pintu,tapi dia menarik ku hingga tersungkur,dia berjalan ke arah ku dan berusaha menciumku, tapi aku langsung menyingkir sehingga wajahnya jatuh ke lantai, aku sempat mendengar dirinya meringis kesakitan. aku langsung buru buru menuju pintu dan keluar dari kamar ku,sayangnya kaki om Anto lebih panjang dari ku jadi dia dapat dengan sangat mudah menyusulku.


setelah pemberontakan sedemikian rupa akhirnya dia berhasil melumpuhkanku,itupun karena aku kelelahan. kaki ku lemas dan aku sudah tidak sanggup bangun,om Anton langsung menindih dan berusaha membuka pakaianku,aku sudah tak sanggup untuk berontak lagi, aku hanya menangis dan berdoa dalam hati supaya Tuhan mengirimkan malaikat nya untuk menyelamatkan ku.


"Tuhan ku mohon... " ucapku.


dia berhasil merobek baju ku hingga hanya pakaian dalam yang tersisa,aku sudah tidak sanggup lagi untuk melawan, hingga saat dia akan menarik ku dan badannya menindih tubuh ku. tiba tiba pintu terbuka. "terima kasih Tuhan" ucapku dalam hati.


ternyata sepupu laki laki ku muncul, dan dia terkejut melihat posisi ku yang berbaring hanya mengenakan pakaian dalam dan ada ayahnya di atas tubuhku. aku melambaikan tanganku meminta bantuannya dengan senyum,namun seketika senyum ku hilang saat aku melihat tatapan sinis dari sepupuku itu dan itu langsung membuat perasaanku gak enak. benar saja, dia sama sekali tak membantuku melainkan mereka hendak melakukan hal keji itu bersama.


"kok papa di kasih aku gak? apa kau lebih tertarik dengan yang lebih tua? " ucap dandit sepupuku, namun aku tak menjawabnya, aku hanya terfokus dengan rasa sakit yang menjalar di tubuhku. Dandit dan om Anton ternyata sama bajingan nya, sama kelakuannya dan sama kurang ajarnya, mereka terus berusaha melepas kain yang tersisa pada tubuhku.


setelah mendapat kekuatan ku kembali,aku pun kembali memberontak mempertahankan tubuhku,yang sudah di habisi mereka,yang bahkan membuatku jijik melihatnya karena banyaknya merah pada badanku,entah itu dari mulut mereka atau tangan mereka, aku juga sempat memberontak hingga tangan dan pelipis ku mengeluarkan darah. saat aku berhasil agak beranjak bangun sepupu ku dengan sengaja menendang kakiku hingga aku jatuh tersungkur, dia melakukan nya tanpa malu, membuat aku merintih kesakitan aku bingung dengan kelakuan mereka yang dengan sadar melecehkan saudara mereka sendiri.


dengan senyum sinis nya Dandi mendekatiku sambil membawa seutas tali, dia berusaha mengikat kedua tanganku, namun tak berhasil karena aku terus bergerak hingga mereka kesulitan mengikatnya. entah karna sudah tertutup nafsu atau memang ada dendam tersendiri,om Anto memukul tengkukku, setelah itu aku merasa pusing dan tiba tiba gelap.


Brukkk....


...****************...


Aku sedikit merintih karena merasa sedikit kesakitan,aku terbangun karena merasa sesak dan saat aku terbangun aku sangat syok dengan keadaan yang sedang terjadi. saat aku membuka mata aku menemukan diriku tanpa sehelai benang pun bersama dengan dua laki laki yang saat ini juga tanpa busana, "ya Tuhan... apa kesucian ini sudah tidak ada lagi" guman Gia.


menangis... ya,hanya itulah yang bisa aku lakukan saat ini,aku ingin kabur tapi aku tidak tahu harus kemana, bahkan aku tidak tahu dimana keberadaan ku sekarang,karena setelah mereka tidak menyekolahkan ku dengan alasan uang yang ditinggalkan tidak cukup dan di tipu teman nya, tante Emy mengajak kami semua pindah aku tidak tahu kemana karena saat berangkat aku terlelap dan aku selalu tidak di ijinkan keluar rumah.


aku kembali melihat Dandi menghampiriku dengan keadaan tubuh yang polos,dengan kekuatan tersisa aku berusaha bangun,sayangnya tubuhku yang mungil membuat Dandi dengan mudah melumpuhkanku.


"mau kemana?" tanyanya sambil mendongakkan kepalaku,namun aku diam tidak bicara, "kenapa takut? enakkan? pasti enak karena gua mendengar suara merdu lu! itu belum ke intinya sepupuku tersayang... badan loe yang semok ini terlalu indah untuk didiamin gitu!!" ucapnya lagi tanpa rasa malu.


"apa maksudnya? belum pada intinya? apa mereka belum melakukannya? lalu kenapa aku dan mereka tidak memakai apapun? apa mereka hanya membohongiku??! bagaimana cara tahu kalau itu belu terjadi?" batin ku setelah mendengar ucapan Dandi.


tak lama aku melihat om Anton yang bicara pada anaknya itu, "ayo lagi...udah naik lagi nih" ucapnya lalu menunjuk bagian tubuhnya yang menegang tanpa rasa malu.


"duluan pa... aku minum dulu!" jawab sang anak.


Om Anton benar mendekatkan diri kearahku membuatku langsung berbalik badan,dengan kekuatan yang tersisa aku berusaha melawannya,aku berusaha membebaskan diri dari kukungannya,postur badan yang kalah jauh memang membuatku sulit melawannya dia menindih ku,aku memberontak berusaha meloloskan diri darinya.


badanku sudah lemas, aku sudah tidak memiliki kekuatan lagi saat aku hampir menyerah,tiba tiba aku melihat sesuatu yang bisa aku pakai untuk mengancamnya agar tidak mendekatiku. tadinya aku hanya mau mengancamnya saja tapi karena tangan om Anton yang begitu nakal menjamah seluruh badanku,akhirnya aku benar benar memukul kepalanya dengan sebuah guci dan membuatnya ambruk menimpaku.


aku mendorong tubuh itu, aku berlari ke arah kamar untuk mengambil baju, "aku harus pergi! aku harus melarikan diri... aku tidak mungkin disini" batinku berteriak.

__ADS_1


saat aku keluar dari kamar ada Dandi yang sedang mencoba menolong ayahnya, dia sempat meneriaki ku tapi dengan sisa kekuatan ku, aku berusaha untuk pergi.


setelah aku rasa cukup jauh, aku mencoba istirahat,aku memasuki sebuah rumah yang terlihat kosong,awalnya aku takut tapi jika aku tidak bersembunyi, aku takut mereka menemukanku, jadi lebih baik aku disini.


__ADS_2