
tanpa terasa hari yang di tunggu tunggu tiba, acara syukuran 7 bulan yang sebenarnya hanya kecil kecilan bisa menjadi seperti mewah berkat kerja tim anak anak kedai dan acara berlangsung sangat lancar dengan kehadiran keluarga Risa dan Bagus di sana, ada teman teman Bagus termasuk dokter Awan dan juga anak anak kedai yang ikut memeriahkan acara serta menjadi bagian dari acara tersebut.
sekarang sudah memasuki acara makan siang, di tengah acara hadir seseorang yang tidak di sangka sangka, yaitu Rian serta kedua orang tua nya. melihat itu Gia langsung menghampiri, mencium punggung tangan calon ayah mertuanya kemudian bergantian dengan sang ibu di tambah dengan sebuah pelukkan.
"tante... om... apa kabar? " tanya nya mengabaikan keberadaan Rian.
"mama sayang.... mama sama papa ke sini mau ngelamar kamu buat anak mama yang kurang ajar ini" ucap sang calon mama mertua membenarkan panggilannya dan memukul sang anak yang menyakiti calon mantunya.
mendengar itu wajah Gia langsung memerah,
"ma... pah... " sapa Bagus, mereka semua memang memanggil kedua orang tua Rian seperti itu, Bagus mencium punggung tangan mereka dan memperkenalkan Risa pada mereka berdua.
"anak mama yang satu ini juga pinter cari istri" ucap mama nya Rian
"mama bisa aja... "
"maafin Rian ya sayang kalau repotin kalian, apalagi dia bikin adik mu sakit hati kaya gitu" ucap mama Rian sambil memukul pelan lengan anaknya.
"mama nih! yang anaknya Rian atau Bagus sih sebenernya." balas Rian kesal
"salah kamu sendiri kenapa kamu nyakitin calon mantu mama" balas mama nya lagi yang mencari keberadaan Gia yang sedari tadi pamit meneruskan kegiatannya.
Rian tidak menjawab bukan karena takut, tapi memang karena tahu dirinya salah. dia menatap kekasihnya dari jauh, wanita yang sangat luar biasa, wanita yang tegar, wanita yang selalu tersenyum di setiap apa yang terjadi dalam hidup nya. Rian awalnya pun biasa saja, hanya sekedar tertarik dengan kepribadiannya yang menurut Rian sangat unik tapi lambat laun dia malah sangat menyayangi wanita ini dengan segala yang terjadi dalam hidupnya.
Gia kembali tengelam dengan kegiatan nya setelah menyapa kedua orang tua Rian, "enak ya kalau masih punya orang tua, ada yang diajak ngobrol, ada yang diajak bercanda, kelihatan bahagia" batin Gia melihat ke arah Rian yang sedang bercanda dengan kedua orang tua nya.
"Hai cantik... jangan ngelamun, kemaren si Edward mati gara gara ngelamun" sapa Awan
__ADS_1
"yaiyalah ka! Edward kan kemaren di tengah jalan ngelamunnya, ditabrak angkot" balas Gia mengomentari ayam nya bang Rezky yang mati.
Awan merangkul pundak Gia sambil tertawa, begitupun dengan Gia dia tertawa dengan celotehan yang di keluarkan Awan, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap mereka dengan kesal, ada rasa tidak suka dengan kedekatan itu, tapi berusaha terlihat biasa saja karna tidak ingin merusak suasana yang ada.
"eh... si Awan ngapain malah gandeng gandeng pacar orang" ucap Hendra memanas manasi dan langsung menerima pukulan dari Rezky di kepalanya.
"gak usah lu dengerin si Hendra" ucap Rezky menenangkan. sebenarnya Rian fokus dengan tawa yang terjadi disana tapi karna ucapan Hendra akhirnya dia sadar kalau tangan itu saling mengenggam.
setelah acara Rian membawa orang tua nya untuk beristirahat ke rumahnya, orang tua nya di sini dalam beberapa waktu kedepan karena sang ayah akan menjalani pengobatan. pikiran Rian kembali ke sikap Gia yang cenderung datar dan menghindari nya,acara hari ini memang di pegang Gia, tapi saat Rian tak berada jauh dari kedua orang tua nya,Gia mendekat ke orang tuanya dan begitu pula sebaliknya.
bahkan Gia sempat mengantikan sang mama, menjaga papa nya di kursi roda, papa sanggup senang bersama Gia, beda waktu dengan Hana yang terlihat tertekan. Rian tersenyum saat Gia berusaha memotong puding yang ada di piring ayah nya, tapi puding itu meluncur bebas ke lantai, mereka berdua pun tertawa, Rian jarang melihatmu ayahnya tertawa selepas itu, sayangnya Gia langsung pergi saat Rian mendekat.
"kenapa ya, disaat gw ketemu cewek yang bener, malah ada aja cobaan nya? apa karena kesalahan gw di masa lalu?" ucap Rian berdialog sendiri di kamarnya, saat sedang melamun, Tiba-tiba pintu di ketuk sang ibu.
"mama... " saat buka pintu, "kenapa ma?"
"mama boleh masuk? "
"mama boleh minta sesuatu sama kamu?" tanya mama sambil duduk di ranjang anaknya.
"ada apa sih ma? kok serius banget kayanya"
"mama cuma minta, jangan mainin Gia, mama dan papa cocok sama dia, kalau kamu masih mau main main! jangan sama Gia! "
"Mama kok gitu? emang aku keliatan main main? "
"jangan sakiti dia nak, jangan buat dia terluka, kalau kamu masih butuh waktu untuk berfikir, bilang sama dia,sama sama meyakinkan diri,jangan bikin seakan dia berjuang sendiri."
__ADS_1
setelah ibunya keluar Rian tampak berfikir, " kenapa kata kata mama seperti nyambung dengan ucapan Gia?? apa sebuah pengakuan dan sebuah pernyataan begitu penting untuk seorang wanita? tidak cukup kah hanya dengan rasa perhatian dan tindakkanku" batin Rian.
flashback on
Gia terkejut saat keluar kamar ada yang menarik tangannya dan kembali membuat dirinya masuk ke dalam kamar,
"bang Rian" Gia terkejut
"bang?? " Rian ikut terkejut, dia langsung sadar bahwa hubungan nya kembali menjauh saat mendengar panggilan itu. "kamu kenapa? " tanya Rian tanpa perduli panggilan itu.
"aku gak apa apa bang" menghindar
"Sayang... aku mohon jangan kaya gini! panggilan kamu aja udah bikin aku tahu kalau ada sesuatu yang gak beres"
"jangan panggil gitu"
"kenapa? apa yang bikin kamu kayak gini? kamu bikin aku jadi serba salah dan di salahin semua orang!" jelas Rian " kamu ngerti gak? kamu bisa jelasin salah aku bagian mana! kamu menghindar dari aku tapi ketawa bareng Awan! bisa kamu rasain sakitnya aku kaya apa?" bentak Rian yang sudah tidak tahan dengan aksi diam sang kekasih.
"apa aku bisa tanya balik sama kamu?" Gia bertanya balik pada Rian. "kamu bisa rasain yang aku rasain? dituduh ambil tunangan orang, dibilang ngerusak hubungan orang, disamperin orang tiba-tiba cuma buat dikata katain, lagipula... kamu punya cadangan pacar kan?" ucapnya lagi sambil berjalan ke arah meja, membuka laci dan mengeluarkan foto foto itu ke atas tempat tidur dan memegang 2 foto yang menurut Gia terlalu vulgar. "ini hari terakhir dimana kita ketemu, kamu antar aku balik dan kamu langsung pulang,ternyata kamu mampir lagi kesana! ada tanggal nya di foto itu buktinya!!"
Rian yang melihat foto itu langsung terlihat marah, "bang***t gw di jebak" batin Rian.
"bisa kamu denger aku?"
"gak! gak sekarang bang aku cape"
"berhenti panggil aku kaya gitu Gia!" bentuknya lagi. "biar aku jelasin dan stop panggilan itu!"
__ADS_1
bukannya diam Gia malah beranjak dari tempat itu menuju pintu, sebelum sampai pintu dia berhenti, "aku harap abang bisa lebih berfikir lagi! bukan cuma tentang perasaan abang aja, tapi pikirin juga tentang perasaan aku! aku juga ga pernah minta abang deket sama aku, abang dateng gitu aja ke kehidupan aku, deket sama aku, bawa aku naik tinggi,bahkan sangat tinggi,saking tingginya aku sampe lupa. lupa kalau aku bukan siapa siapa" ucap Gia menahan air mata lalu membanting pintu dan pergi.
flashback off