Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
82


__ADS_3

sepanjang jalan Gia menyuapi Rian sambil berbincang konsep undangan dan resepsi agar tidak ada lagi keributan seperti sebelumnya, sebelum makan tadi Rian sudah menjelaskan kenapa harus tetap ada acara resepsi dan Gia pun sudah mengerti. Gia minta agar dia tetap memakai gaun yang sederhana tapi modern untuk pemberkatan pernikahan di gereja, dia membebaskan kepada Rian untuk resepsi nya tapi Rian menolak karena dia ingin Gia merasa nyaman dengan apa yang dia pakai dan Rian meminta Gia agar setuju dengan memakai jasa WO, walaupun awalnya kesal tapi menurut Gia ada benarnya juga pakai WO karena Rian dan Gia Sama sama orang kerja, otomatis tidak bisa sepenuhnya terfokus di situ.


...****************...


berhari hari sampai berminggu-minggu mereka lewati dengan sekian banyak perdebatan yang selalu di akhiri dengan kemenangan Gia, sama seperti pernikahan Risa yang memakai jasa WO, Rian tidak mau kalah,dia meminta Gua memakai jasa WO yang sama dengan segala macam permintaan. dibandingkan Gia yang setuju setuju saja, Rian adalah orang dengan seribu macam permintaan.


seperti hari ini, atas permintaan sang calon suami, Gia saat ini ada di sebuah mall yang cukup besar untuk fitting baju resepsi yang kedua, jadi Rian meminta agar Gia memakai pakaian berbeda di sore dan malam, sedangkan gaun pemberkatan menjadi tanggung jawab Risa dan itu sudah selesai beberapa hari yang lalu. Gia janjian dengan Rian di mall, Rian sudah memberi kabar kalau akan terlambat jadi Gia memutuskan untuk keliling keliling mall, hal yang belum pernah di lakukan Gia seumur hidupnya.


saat sedang berkeliling tiba tiba ada yang memanggilnya, Gia pun menoleh dan menatap orang tersebut dengan tatapan bingung bercampur heran apalagi dia memanggil dengan nama kecil Gia.


"maaf... siapa ya? "


"cinta kan? "


"iya... sorry, ga inget sama sekali"


"aku dafa"


"dafa? " ucap Gia kaget, " dafa anaknya tante sari? " sambungnya lagi.


"iya"


"astaga dafa... drastis bgt sih perubahan nya, kamu apa kabar?"


"baik cin, kamu gimana?"


"eh... sambil makan yuk"


"boleh boleh"

__ADS_1


sayangnya tanpa dia sadari ada sepasang mata yang menatap mereka dengan marah, tapi tetap mencoba sabar, karena dia tahu, wanita nya itu memang mempunyai sifat yang sangat ramah pada siapapun. hampir setengah jam terlewatkan bahkan Gia tidak sama sekali menghubungi nya, Rian pun tak berusaha menghubungi, dia ingin melihat seberapa peka calon istrinya akan hal itu, tiba tiba dari kejauhan Rian melihat pundak Gia yang di rangkul orang tersebut, Rian yang tadinya akan menghampiri langsung tidak jadi karena Gia menghindar dari rangkulan itu. "segitu sulitnya gue dapetin dia, masa lu mau segitu gampang nya dapet" ucap Rian sambil tersenyum.


Dafa yang rangkulannya baru di tolak wanita di samping nya sedikit terkejut, karna dulu dia sangat dekat dengan Gia,namun dia berusaha terlihat biasa saja.


"Ta... tapi kamu beneran engga apa apa kan setelah kejadian itu? mama ku khawatir banget, mama pikir kamu yang di apa apain mereka" tanya dafa dengan lembut.


"engga apa apa, Puji Tuhan aku baik baik saja"


"waktu itu aku pulang mama udah nangis katanya liat darah berceceran dirumah tante mu, mama engga berani masuk, tapi mama takut itu kamu yang berdarah. besok nya di sana tersebar berita kalau om yang meninggal. "


Wajah Gia memucat.... hal yang sudah lewat bertahun-tahun yang lalu itu,sebenarnya sudah tidak ada yang pernah membahasnya lagi,terakhir saat Gia hampir menjadi korban pemerkosaan,semua itu terungkap,Rian pun mengetahui itu tapi dari mulut kedua kakak nya bukan dari Gia.


dari meja lain Rian menatap heran,karna yang dia lihat sebelumnya Gia seperti akrab dan nyaman bercanda dengan orang tersebut,sekarang pemandangan yang dia lihat justru terbalik. 'sepertinya ini saat nya aku masuk' ucapnya dalam hati. Rian berjalan dengan santainya menuju meja dimana sang kekasih diam memucat dengan tatapan kosong.


"non..." panggilnya.


Gia langsung menoleh ke arah suara yang tidak asing ditelinganya. "mas..." sapa nya lalu langsung melihat isi tasnya,lalu mengambil ponsel nya yang ternyata ada 50 panggilan tak terjawab dari calon suaminya itu.


"cinta" kali ini suara dafa yang memanggilnya dan panggilan itu sukses membuat mata Rian melotot.


Gia menepuk keningnya,bahkan dia lupa kalau ada Dafa. "mas kenalin ini mas Dafa eh.. maksudnya Dafa" ucap Gia lagi. keduanya salaman tapi Rian dengan tatapan membunuh,sedangkan Dafa menatap dengan santai.


akhirnya fitting baju dengan mode diam,Rian yang kesal dengan jawaban Gia yang hanya mengatakan ada urusan tanpa mengatakan kalau mereka akan menikah, terlebih laki-laki itu selalu memanggil Gia dengan 'cinta' walaupun itu namanya juga,tapi dia selalu mengucapkannya penuh dengan rasa, Rian ingin tanya ke Gia tapi dia takut akan meledak makanya dia memutuskan untuk diam.


"mas... tadi itu... " jelas Gia saat sampai di depan rumah.


"gak apa apa non,aku langsung ya.. " pamitnya tanpa menunggu jawaban dari Gia dan langsung pergi.


"ini nih yang gak bener, harusnya kan menyelesaikan dan membicarakan bukan malah pergi" ucap Gia dalam hati nya.

__ADS_1


Rian yang mendengar ponsel nya berbunyi langsung mengambil earphone bluetooth dan memasangnya ke telinga.


"hello... Rian's speaking"


"mas" sahut suara di sebrang sana.


"oh.. hei... kenapa non?"


"aku masih di luar"


"lho? kenapa ga masuk? mendung lho!" sahut Rian sambil memutar balik mobilnya.


"bukannya kita janji untuk menyelesaikan masalah dengan kepala dingin? bukan kita pernah bilang selalu menyadari kesalahan masing masing dan selalu bilang kalau ada kesalahan yang mungkin kita gak tahu. " Gia mencoba tahan amarah nya karna sebelum ini setiap masalah selalu dia selesaikan dengan bicara, tapi entah kenapa Rian tidak melakukan hal yang sama.


"ayo masuk... " ucap Rian ketika kembali sampai di depan rumah Bagus, tapi tak digubris Gia. "kita ngomong di dalam ya, ini udah gerimis" ucapnya kembali dengan lembut dan membawa Gia ke dalam.


"kakak kakak pergi? " tanya Rian yang hanya di jawab dengan anggukan. "duduk di sini aja ya" Gia hanya mengangguk, "sayang... kamu tahu kan gimana aku sangat memperjuangkan kamu? kamu tanya deh Bagus, bahkan cukup sulit buat aku meminta bikin beliau. seperti yang kamu tahu aku ga pernah larang kamu mau berteman sama siapapun, tapi jujur aku ga suka sama yang tadi. kamu mau cerita ga sama aku dia siapa? " ucap Rian sambil mengenggam kedua tangan Gia.


"dia dafa mas... sebenarnya dia tetanggaku dulu, waktu masih tinggal sama tante. dia yang selalu nolongin aku kalau lagi di hukum sama tante dan sepupu sepupuku, dia dan keluarganya baik banget sama aku. sampai tahu tahu ada kejadian itu, kejadian dimana aku hampir di perkosa om dan kakak sepupu ku dan aku pergi buat menyelamatkan diriku, tapi aku lebih memilih tidak bersama mereka karna aku tahu mereka pasti akan di gangguin sama tanteku dan keluarganya." jelas Gia kepada calon suaminya.


"dia suka sama kamu? "


"ya" Rian memejamkan matanya saat mendengar jawaban ini, walaupun hal itu bisa dilihat dari sorot mata Dafa padanya.


"kamu juga suka?" tanya Rian memastikan perasaan sang calon.


"ya" jawab Gia pasti, jawaban itu membuat Rian kaget. "tapi dulu... sekarang sama sekali ga ada rasa apapun" sambung Gia sambil tersenyum.


Rian yang kesal karena di kerjain Gia langsung bangkit meninggal Gia ke dapur untuk mengambil minum, Gia ya sadar kekesalan calon suaminya langsung menyusul. "serius banget sih, kaya orang mau ujian" goda Gia yang sudah berdiri di samping Rian yang sedang minum.

__ADS_1


"mereka nggak tahu gimana aku berjuang sampai di tahap ini, mereka nggak tahu sekian banyak yang aku lewatin dan mereka nggak tahu sesulit apa dapet restunya hanya karena kakak mu tahu kaya apa aku." jelas Rian lalu merangkul nya. Gia tersenyum mendengar itu, ada sebuah kebangaan di senyum itu karena ada seseorang yang memperjuangkan dirinya sampai seperti itu, padahal dia rasa dia bukan orang yang pantas dapat perlakuan itu.


__ADS_2