Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
104. maaf... aku akan membagi cintaku


__ADS_3

Sementara itu di kamar mandi Gia menatap benda di tangannya penuh dengan rasa hari, tapi pikirannya kembali ke foto foto yang dia terima semalam. "Tuhan... apa yang harus aku lakukan... " gumamnya. "bukan tidak ingin menerima berkat yang Kau beri, hanya saja aku takut ini bukan waktu yang tepat. jika dia akan meninggalkan ku, apakah aku kuat menjalaninya" ucapnya lirih.


Gia mendengar ponselnya bunyi dia buru buru keluar untuk melihat ponselnya, sebenarnya dia tidak takut jika Rian mengangkat telfon di ponselnya karena Gia tidak pernah menyembunyikan apapun dari suaminya, dia hanya tidak ingin suaminya membanting ponselnya karena terus berbunyi.


...****************...


Dua hari setelah itu Gia masih menyembunyikan kabar yang dia dapat, Gia bingung,bingung bagaimana cara memberitahu, apalagi nomor yang tidak dia kenal itu terus mengirimkan pesan tentang suaminya, foto foto yang terlihat suaminya menikmati momen kebersamaannya dengan Hanna makin membuat Gia ragu memberitahukannya.


suatu siang yang cukup panas Gia memasuki sebuah restoran yang ternyata ada suaminya juga disana bersama Hanna yang bergelayut mesra di sampingnya. sebenarnya itu bukan sebuah kebetulan, pagi tadi nomor itu mengirimkan nama sebuah restoran dan siang ini Gia membuat janji dengan Daffa untuk membicarakan pesanan yang akan di buat Daffa untuk acara kantornya.


Rian terkejut saat melihat istrinya masuk, dia lebih terkejut lagu saat melihat seseorang di samping istrinya,membuatnya menatap istrinya dengan tatapan marah tapi sayang yang di tatap hanya cuek tak memberikan respon apapun. Rian menggeser Hanna yang ada di sebelahnya, sebenarnya adegan Hanna bergelayut itu hanya taktik Hanna karena sudah melihat Gia yang hendak masuk, dia sengaja menyatukan pulpennya hingga terlihat Hanna seperti sedang bergelayut manja.


Gia mengambil jarak dua meja dari meja Rian, Daffa yang memang sudah tahu Rian sempat menyapanya tapi tidak dengan Gia dia cuek seakan tidak ada siapapun yang dia kenal di tempat itu.


"kau tidak keberatan kan jika saya bergabung" tanya Rian.


"keberatan... "


"tidak... "


jawaban Gia dan daffa bersamaan.


"Terima kasih" ucap Rian langsung duduk di samping Gia.


"selamat siang mba... " Jordan yang baru kembali membawa berkas yang tertinggal.


"duduklah dan mulai pekerjaanmu" ucapnya lembut pada Jordan, sontak membuat Rian melotot kesal, karena dia berbicara sangat lembut pada asistennya.


Gia dengan tidak perduli mencoba memfokuskan diri membahas kerja sama nya dengan Daffa, membicarakan pesanan prasmanan dan mengajak Gia untuk masuk ke kantin karyawan untuk membuka lahan di sana. sementara itu Rian malah sibuk memperhatikan istrinya, sedangkan Jordan berusaha memfokuskan pada meetingnya bersama Hanna.


Gia dan Daffa selesai lebih dulu dengan urusannya sementara Jordan masih membahas sesuatu dengan Hanna.


"Jordan... meeting ini kau saja yang pegang, aku mau mengantar istriku"


"tidak perlu... aku ada... "

__ADS_1


"tidak ada penolakan sayang... aku tidak memberikan pilihan padamu!" potong Rian.


Gia yang tidak ingin ribut mengalah pada suaminya, pamit pada Jordan tapi tidak pada Hanna, bahkan Hanna seperti tidak ada dari tadi untuknya.


"hati hati di jalan mba" yang di balas senyuman oleh Gia dan tatapan tajam dari Rian.


"selesaikan saja pekerjaanmu dan jangan memandang istriku! bonus mu tidak akan turun bulan ini, ingat itu! "


saat Rian hendak pergi tiba tiba Hanna memeluknya dan mencium pipinya, bukan hanya Rian bahkan semua yang di situ terkejut dengan keberanian Hanna, Rian langsung mendorong Hanna dengan sangat keras hingga tangannya membentur meja.


"aku sudah bilang untuk menjaga sikap mu!!!" ucap Rian lalu melempar jas nya. "Jordan batalkan semua kerja sama dengannya" serah Rian lalu menarik istrinya pergi.


sebelum masuk ke dalam mobil Gia masih sempat bercanda dengan Daffa sebelum akhirnya bercipika cipiki dan masuk ke mobil masing masing, Rian yang awalnya ingin marah akhirnya membiarkan karena dia tahu apa yang akan istrinya jawab jika dia menegur itu.


sepanjang perjalanan ke rumah diisi dengan keheningan tak ada yang bicara sedikit pun, mereka berdua sama sama bukan tipe yang meledak ledak di tempat umum, sampai di rumah Rian langsung memberi peringatan pada istrinya untuk bersikap lebih layak pada Daffa agar Daffa tidak berharap dengan sikap Gia yang kelewat 'welcome' menurut Rian.


"apa bedanya dengan yang mas lakukan?"


"mas tidak melakukan apapun! "


"yakinlah! kamu kenapa sih sebenarnya?" bentak Rian dengan suara tinggi, yang menandakan dia sangat marah, kesabarannya pun telah habis. "dari awal aku bilang sama kamu biasakan untuk bicara Gi... bicara... " Rian sudah mulai menggoyangkan pundak Gia, "kamu keluar makan siang sama laki laki, bilang sama aku aja ga! aku suami kamu bukan? kamu ada kerja sama bilang juga ga! pake ajak buka di kantin nya buat apa? supaya bisa ketemu sama kamu!? dari aku balik ke sini kamu jadi ga jelas Gi" Rian dibutakan api cemburu,apa lagi melihat perlakuan Gia pada Daffa sehingga dia marah marah tidak karuan bahkan dia sampai tidak sadar telah membentak istrinya hingga sang istri mengeluarkan air mata.


Gia yang memang tahu kesalahan yang dia lakukan makanya dia tidak balik marah pada suaminya, dia tahu dia sudah bersihkan acuh pada sang suami,yang sama saja tidak menghargai suaminya, dia juga tidak membicarakan masalah rumah tangganya dengan baik baik pada suaminya sehingga membuat suaminya tersinggung, tapi semua itu dia lakukan karena dia takut, ketakutan yang dalam karena dia mendapat foto sang suami bersama wanita lain, sedangkan di perutnya ada bayi.


pandangan Gia sudah terlihat kabur dan tak lama dia pingsan, Rian langsung menggendong istrinya ke kamar dan membaringkannya, dia mengambil minyak angin dan membuka kancing celana dan bra yang di pakai istrinya agar melancarkan peredaran darah, kemudian menggosok minyak angin hampir keseluruhan tubuh Gia karena badannya langsung dingin hampir seperti es.


Rian menunggu sang istri sadar tanpa memanggil dokter ataupun memberi kabar pada Risa, Rian menoleh ke arah ponsel Gia yang sedari tadi bunyi terus dan masih orang yang sama ' mas Daffa' beberapa pesan dia kirim karena mengkhawatirkan Gia, rata rata menanyakan keadaan Gia apakah baik baik saja karena melihat Rian yang tadi terlihat marah saat membawanya kembali tadi.


hampir satu jam menunggu, akhirnya sang istri sadar dengan cekatan dia langsung mengambil air minum dan obat yang biasa Gia konsumsi di saat seperti ini, dengan telaten dia menghapus sisa sisa air di bibir Gia, mencium bibir itu sekilas lalu menempelkan dahinya pada dahi Gia.


"maaf... " ucapnya sambil memejamkan mata, Gia tidak menjawab dia mengambil ponselnya dan memperlihatkan beberapa foto yang dia dapat dari nomor tak di kenal itu, melihat itu Rian mengertakan rahangnya, dia terlihat emosi melihat itu. 'pasti Hanna' ucap Rian dalam hatinya. "apa kamu marah sama aku karena itu? " tanyanyandan Gia mengangguk. "kapan kamu Terima foto itu? " tanyanya lagi.


"malam kedua saat kau di sana"


" kamu paham kan tidak bisa membicarakan hal ini dengan emosi? "

__ADS_1


"ya... tapi yang aku lihat kau cukup menikmati pelukkan perempuan itu, biar bagaimanapun kalian pernah menjalin hubungan cukup lama, aku pun tidak bisa melarang itu"


Rian langsung duduk di depan Gia dan mengangkat dagu wanitanya itu dan kembali menciumnya, ciuman yang lembut namun sangat dalam tidak ada nafsu dalam ciuman itu hanya ada curahan rasa saya yang begitu besar.


"aku minta maaf kalau itu membuat kamu tidak nyaman, aku minta maaf juga tidak mengatakan apapun padamu, aku pun baru tahu setelah aku di sana kalau aku bekerja sama dengan nya,setelah aku meminta Jordan untuk mencari tahu tentang keluarga Hanna yang tidak aku ketahui. ternyata beliau ayah kandung dari Gia dan ayah yang selama ini aku kenal adalah ayah tirinya. untuk pelukkan itu karena mereka mengambil sisi dari sebaliknya jadi terlihat seperti aku menikmati pelukkan itu, laki pula aku sama sekali tidak memeluknya tapi dia yang memelukku," Rian mencoba menjelaskan. "kalau kau tidak percaya aku akan meminta Jordan rekaman CCTV di sana"


"Sudahlah... tidak perlu sampai seperti itu"


"maaf ya... "


"iya... gak apa apa, aku kenal kok! " ucapnya sambil tersenyum.


saat mereka berbincang bertukar pikiran tiba tiba ponsel Gia bunyi, dengan cepat Gia menoleh 'mas Daffa calling' bukan hanya Gia yang terkejut, Rian pun mengalami hal yang sama apalagi saat dia melihat siapa yang menelpon. Gia beranjak untuk mengangkat ponselnya, itu pun sudah persetujuan Rian.


...****************...


*Gia are you okay? *


*gak apa apa mas*


*Gi.. denger aku... kamu harus bilang gitu sama dia, kalau dia denger dari orang lain dia akan kecewa, apalagi kalau dia tahu kamu dengan segala tidak memberi tahu dia, kamu tidak boleh egois Gi! * Daffa menasehati Gia karena sempat bertukar cerita dengan Daffa di jalan menuju restoran.


*iya mas... makasih ya... bye... *


Gia datang menghampiri Rian,tiba tiba ide jahil dia muncul, dia mengajak suaminya duduk, lalu....


"mas... aku minta maaf sebelumnya sama kamu, aku harus mengatakan ini, aku tahu pasti kamu kecewa sama keputusan ini, tapi aku mohon banget kamu harus ikhlas dan kamu harus rela, rela kalau 'aku harus membagi cintaku' " ucapan itu bagai menusuk pedang di dadanya.


"jadi kamu akhirnya suka juga sama dia"


Gia tidak menjawab, dia berjalan ke arah lemarinya dan mengambil beberapa alat tes kehamilan yang dia gunakan kemarin dan semua menunjukkan hasil 'positif' dia memberikan semua alat itu ke Rian dan kembali berkata. "aku harus membagi cintaku dengannya" sambil memegang perut.


Rian menangis terharu dengan kabar yang di beri istrinya, dia langsung mengelus perut rata istrinya dan mengucapkan doa agar bayi itu sehat hingga nanti bertemu kita di dunia, Rian langsung membaringkan Gia dan memeluknya.


"Terima kasih sayang... Terima kasih" ucapnya sambil menganggis.

__ADS_1


kebahagiaan yang tidak dapat di ukur dengan apapun penantian mereka tidak sia sia karena akhirnya Tuhan mempercayakan sesuatu luar biasa pada mereka, ada tanggis-tawa dan rasa hari yang meliputi. Rian memeluknya sepanjang malah tanpa melakukan apapun walau dia ingin, tapi dia tidak mau jika menyakiti sang istri.


__ADS_2