
setelah terang Rian langsung meminta Gia berbenah untuk jalan jalan sekaligus kembali ke jakarta, tidak lupa dia membeli obat untuk alergi yang di alami Gia. ada momen mengharukan saat akan masuk ke mobil untuk kembali, Gia meminta maaf untuk semua yang dia lakukan dengan tiba tiba dan tak beralasan dan Gia menerima lamaran yang di minta Rian di hari sebelumnya, Rian yang sangat terharu masih sempat menanyakan pada Gia 'apakah dirinya di perbolehkan memeluk' yang di jawab Gia dengan anggukan.
...****************...
menjelang makan malam Rian dan Gia kembali, disambut oleh ke-enam sahabatnya yang sudah tahu bahwa Gia menerima lamaran itu. setelah berbasa-basi mengucapkan selamat, Risa mengajak mereka untuk makan bersama, dia sengaja membuat malam ini untuk menyambut tamu yang sedang berbahagia.
Gia kembali setelah meminta ijin untuk menaruh barang barang nya di kamar terlebih dahulu,dia bergabung duduk di antara Bagus dan Rian. Bagus menangkap sesuatu yang janggal saat istrinya mengambil nasi untuk nya disusul Gia menaruh lauk di piring Bagus.
"aku ambil sendiri?" protes Rian yang di sambut tawa dari teman temannya, yang membuat Gia langsung menoleh.
"engga usah dia biasa kok ambil sendiri" larang Bagus sengaja agar Gia menoleh karena dia ingin melihat leher Gia yang sekilas ada bekas merah.
"lu mau mati ya?'
" apa? "
" gue ijinin pergi bukan ijinin apa apain dia... kenapa lehernya? "
"hahahaha"
obrolan singkat Rian dan Bagus di Whatsapp, jawaban terakhir Rian tidak bisa diterima Bagus,karna dia sangat menjaga adiknya ini.
setelah makan Gia pamit istirahat dan saat itulah Bagus langsung memberi sebuah pukulan yang langsung di relai oleh Awan, tentu nya itu terjadi setelah Risa juga kembali ke kamar nya.
"apaan sih lu berdua!" Awan mencoba memisahkan,tapi Awan pun tidak bilang apapun karna sebagai kakak Bagus memang terlalu over pada Gia dan Awan pun tidak ingin ikut campur karena Rian pun terlihat tidak ingin meluruskan salah sangka itu.
"udahlah... pulang aja! besok kerja kan!?!" Rezky mencairkan suasana.
"kamu kenapa gak tidur?" tanya Risa saat terbangun untuk mengecek sang Baby nya.
"aku kepikiran ade, takut dia di apa apain Rian"
"kamu itu kaya baru kenal Rian aja, kalian temenan udah lama masa kamu ga tahu Rian kaya apa"
"aku ga tenang liat leher nya merah merah gitu"
"mas... Gia udah bukan anak kecil, kita harus bersyukur dia mau buka lagi hati nya, dia mau deket sama orang lain selain kita karna kita kan gak bisa selalu sama sama dia. itu artinya Gia pulih sedikit demi sedikit, urusan yang itu nanti kita bisa tanya sama dia, aku yakin adik kita yang satu itu pasti pegang janji nya sama kita" ucap Risa, lalu mengajak Bagus untuk tidur kembali dan menanyakan hal itu besok pada adik nya.
__ADS_1
kesibukan pagi itu terasa berbeda karena masakkan pagi ini penuh dengan lagu atau nyanyian dari Gia yang membuat sarapan dari pagi penuh dengan semangat, Risa dan Bagus hanya saling pandang saat keluar dari kamar ada seorang wanita cantik yang sedang bernyanyi sambil menata makanan.
"pagi ka... pagi mas... "
"pagi sayang" jawab Risa tapi Bagus tidak menjawab.
"kamu kemaren tidur sekamar?" tanya Bagus tanpa basa basi yang langsung mendapat pukulan dari sang istri, "kok kamu malah pukul aku sih? pukul ade mu itu lho, jalan jalan kok malah sekamar" sambung Bagus lagi.
pertengkaran itu membuat tawa Gia meledak, akhirnya dia mengerti kenapa kepulangan nya semalam membuat Bagus amat ketus.
"mas... mumpung belum makan,aku ijin bicara ya." ijin Gia lalu mengajak kedua kakaknya dan baby untuk duduk di sofa ruang keluarga,lalu duduk di tengah tengah antara kedua kakaknya. "Terima kasih banget buat perhatian yang besar yang sudah kalian berikan padaku, kalian tahu? buat aku kalian termasuk anugrah indah yang Tuhan beri dalam hidup aku, mungkin terima kasih yang aku ucapkan ga akan sama dengan apa yang sudah kalian berikan." Gia diam sejenak kali ini dia turun kebawah dan berlutut di depan kedua kakaknya, melihat itu kedua kakaknya sempat meminta Gia untuk bangun, namun dia hanya tersenyum dan meneruskannya. "Gia minta maaf kalau Gia suka susah di kasih tahu, keras kepala dan suka ngelawan, jujur Gia sekamar sama Rian kemarin." setelah kalimat itu selesai Bagus langsung akan bangun dari duduknya, namun ditahan Gia. "mas... kalian jauh lebih dulu kenal aku di banding dia, aku yakin kalianpun lebih tahu aku seperti apa. kalian lihat aku, kalian percaya kan sama aku? walaupun kami ada di kamar yang sama tapi tidak terjadi apapun, kemaren di sana aku gak sengaja makan seafood jadi gatel gatel. aku mohon jangan pandang dia dari sisi jelek, kami berdua sangat menghargai kepercayaan yang kalian berikan."
pagi dengan air mata yang cukup membuat mereka saling mengerti dan saling memahami, kejadian ini membuat mereka saling percaya satu sama lain. Bagus menghubungi Rian untuk meminta maaf dan Rian hanya kembali tertawa, tapi Rian sempat meminta restu Bagus untuk datang melamar bersama keluarga nya yang di sambut sangat Baik oleh Bagus.
...****************...
1bulan kemudian.
di kediaman Bagus dan Risa tidak seperti biasanya yang sepi sekali, kali ini cukup ramai, seluruh karyawan kedai ada disana bersama beberapa sahabat Gia di sekolah paket yang ikut bergembira dengan acara pertunangan sahabat mereka Gia dan Rian.
"selamat malam rekan rekan sekalian, baik dari pihak laki-laki maupun dari pihak perempuan. pada malam yang berbahagia ini kita diundang menjadi saksi perjalanan cinta sahabat kita yang ingin membuktikan rasa sayang mereka dalam sebuah ikatan pertunangan dan sebagai langkah awal keseriusan Rian sahabat kami kepada Gia adik dari salah satu sahabat kami juga." ucap Hendra membuka acara.
"bener banget ndra... ini tuh langkah awal sahabat kita membuktikan kepada keluarga bahwa dia laki laki sejati ya.. " balas Hendri saudara kembar nya. mereka berdua memang ditunjuk langsung oleh Tian dan Bagus untuk acara ini. "kita sambut tamu jauh kita... Rian dan keluarga untuk memasuki tempat acara"
"selamat malam teman teman sekalian, saya Ignatius Robert tafarloza mewakili Ayah saya yang juga hadir disini,untuk meminta atau memohon ijin melamar pujaan hati dari adik saya tercinta Antonius Ryandika tafarloza yaitu Barara Giacinta defarie sekiranya kita sebagai kakak kakak memberi ijin dan restu kita pada mereka untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi" Robert perwakilan dari Rian datang dan meminta restu, sebenarnya Rian anak tunggal, tapi dia memiliki satu kakak angkat laki-laki dan satu adik angkat perempuan yang terlihat sangat akrab satu sama lain.
"sebelum saya memberi ijin saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu saya Bagus dan ini istri dan anak saya, kami keluarga angkat dari Gia, kami menyambut dengan sangat gembira niat baik sahabat kami untuk melamar adik angkat kami tercinta. kira nya saudara Rian dapat menerima adik kami apa adanya dan dapat menyayangi adik kami lebih dari kami menyayanginya serta selalu bersama nya dalam keadaan apapun. seperti apa adik kami Rian sudah cukup mengenalnya, kami yakin Rian bisa membimbing adik kami menjadi wanita yang lebih baik lagi." sambut Bagus dengan air mata.
"gak usah lama lama lagi kami nih... kita panggil aja GGGIIIIIAAAAA..... " panggil Hendra dan Hendri, tak lama Gia muncul bersama dengan Awan yang memang di tunjuk langsung oleh Bagus untuk membawa sang adik,Rian tidak berkedip melihat kedatangan Gia dengan dandanan sangat sederhana serta pemilihan gaun yang sangat tepat sehingga menjadi terlihat sangat manis.
"eh eh eh... biasa aja kali liat nya" goda Hendra,membuat semua yang hadir tertawa.
"nah... sekarang kita mesti tanya sama cewenya nih, mau ga dia di lamar sama anak keras kepala ini, jangan sampai Rian udah kesenangan ternyata Gia nya ga mau" ledek Hendri setelah Gia hadir.
"Gia... maksud kedatangan ku ke sini bersama seluruh keluarga ku, mempunyai maksud baik untuk meminang kamu sebagai istriku nanti, apakah lamaran keluarga ku di Terima?" tanya Rian pada Gia yang sudah tidak sabar dan berdoa dalam hati agar jawaban nya sama.
__ADS_1
Bukan menjawab Gia malah diam, lima menit... sepuluh menit... lima belas... Gia pergi, bukan hanya Rian yang terkejut, bahkan semua yang ada di sana terkejut, Risa yang sadar terlebih dahulu langsung menyusul adik nya, tetapi baru setengah jalan adiknya sudah keluar lagi membawa cincin.
"ini... ketinggalan" ucapnya dan memberikan ke Rian,
"dijawab dulu" balas.
"hah? apanya" tanyanya bingung,Risa yang sadar adiknya gugup langsung maju mencoba menenangkan, "oh lamaran... iya di Terima" ucap Gia akhirnya, yang di sambut tepuk tangan oleh seluruh yang hadir.
acaranya berlangsung dengan sangat lancar, banyak terpancar wajah bahagia apalagi dari para karyawan kedai yang tahu perjuangan percintaan mereka. Gia melibatkan anak kedai di dalam nya karena buat dia mereka sudah seperti saudara, sebenarnya tidak terlalu banyak yang datang, akan tetapi tetap terlihat ramai karena acara itu sangat mengharukan. pernikahan akan di adakan enam bulan yang akan datang,Rian menyerahkan semua pada Gia, dia hanya akan membantu.
......*****......
Gia sudah membicarakan pada Rian tentang pernikahan sederhana yang di inginkannya,yg akan di hadiri kurang dari 150 tamu, akan tetapi Rian menolak karena dengan jabatan yang Rian punya tidak mungkin hanya akan di hadiri 150 tamu, hal ini pun sudah membuat keduanya bertengkar hingga membuat keluarga nyangkut turun tangan.
terdengar denting piano lagu rohani mengalun yang menandakan ada panggilan masuk di handphone nya,Gia yang baru selesai mandi langsung mengangkat tanpa tahu siapa yang menghubungi.
"selamat sore nak... " suara lembu dan hangat menyapa.
"mama? sore ma" jawab nya sedikit terkejut.
"iya nak, kamu lagi sibuk?"
"ga kok ma" jawabnya tenang tapi dalam hatinya si Rian abis ngadu apa lagi nih...
"gimana persiapan kamu? udah sampe mana? "
"eehhhh... belum sampe mana mana ma"
"lho?? kok gitu?"
"aduuhh....gimana ya... "
"apa perlu mama bantu?"
"enggak ma nggak usah"
"kalian berdua bikin mama bingung... kemarin mama telpon Rian juga jawab nya begini, kalian sebenarnya mau nikah atau engga? ada apa sih? "
__ADS_1