
mereka duduk di sofa menghadap ke TV, tadinya Gia ingin duduk di balkon tapi tatapan suaminya yang tidak setuju membuat nya tidak jadi kesana,sembari menyesap teh nya Rian memeluk pinggang istrinya.
"kita mau bulan madu" ucap Rian sambil tersenyum.
"ahh... bukan kejutan itu mah... aku udah tahu"
"tapi tahu gak kemana tujuan kita?"
"manado atau raja ampat" kemarin itu keputusan kamu.
"tetot... salah"
"terus?"
"malang" jawabnya singkat membuat istrinya bersorak kegirangan,membuat Rian tertawa.
"naik kereta ya... plis plis plis..."
"nah... kalau yang itu TIDAK"
"ah... mas mah"
"aku gak mau kamu cape"
"tapi aku engga bisa naik pesawat mas, aku takut ketinggian"
Rian langsung menepuk kening nya, dia lupa kalau Gia tidak bisa berada di ketinggian,
"yasudah kamu atur aja gimana, tapi aku yang pesen penginapan, tempat makan dan lainnya, kamu cuma akomodasi" Rian menyerah, dia memang mengutamakan kenyamanan istrinya.
...****************...
Hari yang di tunggu tiba, Rian dan Gia akan pergi berbulan madu sesuai dengan kesepakatan mereka akan menuju malang mengunakan kereta,perjalanan akan memakan waktu 16 - 18 jam paling lama jadi Gua sudah menyiapkan perbekalan buah buahan untuk Rian yang sama seperti dirinya hobby makan buah.
"mas... nanti kalau kamu rasa pegel jalan aja lalu lalang... "
"lurusin aja kamu ke depan"
"janganlah... itu bangku orang"
Rian tertawa sebentar lalu dia kembali memfokuskan dirinya pada yang dia kerjakan di tablet nya, Gua curiga dengan tawa itu tapi dia diam saja, hingga keretanya akan berangkat tak ada satu orang pun yang duduk di depan mereka,membuat Gua makin curiga.
"mas... jangan bilang kamu beli tiket sampai kursi yang didepan kita" tanya Gua menahan marahnya.
yang di tanya bukan menjawab malah nyengir membuat Gua kesal, "kamu tuh!! apa salahnya sih bersosialisasi sama orang lain, itukan bikin kamu jadi kenal orang lain" omel Gua yang kesal dengan tingkah suaminya yang menurut dia lain dari pada yang lain.
Inilah yang Gia suka perjalanan dengan pemandangan pemandangan indah, membuat Gia tersenyum saat memandang terus keluar. Rian yang di sampingnya ikut tersenyum melihat tulusnya senyuman itu, dia rela naik angkot sekalipun agar dia bisa terus melihat senyum itu.
sepanjang perjalanan mereka habiskan dengan nonton film, bercanda dan tidur. Rian tidur bersandar pada kursi dan Gia berada dalam dekapannya, lelap bahkan sangat lelap, ternyata dimanapun tidurnya asal bersama orang yang tepat, tetap akan nyenyak.
mereka mendapat makan malam dari kereta, setelah makan mereka kembali bercengkrama, membahas tujuan mereka dan melihat beberapa destinasi destinasi menarik disana mengunakan tablet yang ada di tangan Rian, destinasi yang akan di kunjungin semua sesuai dengan permintaan Gia tapi tidak dengan penginapan nya, penginapan sesuai dengan keinginan Rian.
__ADS_1
tak terasa mereka sampai juga di malang, berangkat jam 9 pagi dan sampai di malang pukul 6.15 menit berarti perjalanan 16 jam. setelah turun kereta mereka langsung menuju jemputan yang sudah di pesan Rian, sebelum memulai petualangan nya besok dia sudah meminta hotel terdekat dari stasiun untuk mereka beristirahat dan akan memulai petualangannya esok hari.
" tema kita kan backpacker kenapa jadi ada di jemput segala" ucap Gia saat tahu ada yang jemput mereka.
"kita backpacker elit"
"kamu mah! ga seru!"
didalam mobil Gia langsung mengeluarkan telpon nya menghubungi kakaknya untuk memberi tahu kalau mereka sudah sampai, setelah menghubungi Risa dia menghubungi Bagus.
"sayang... kamu udah sampe?" ucap Bagus padahal di loudspeaker.
Gia langsung menoleh ke arah Rian yang sudah terlihat kesal, "sudah mas.. aku juga udah kabarin ka Risa juga tadi"
"oke... have fun ya sayang... mmmuuuaaaccchhh"
Rian kesal tapi dia menatap terus ke arah tablet nya agar tidak terlihat oleh istrinya, hanya saja bukan istri namanya jika tidak tahu hal itu, dia langsung masuk ke antara tangan suaminya dan mengecup sekilas b*b*r sang suami membuat suaminya tersenyum.
"dia selalu begitu kalau telpon kamu? "
"iya"
"walapun ada Risa? "
"iya"
"yakin? "
"iya"
"hah!!!??? "
"dari tadi iya iya iya kirain bakal iya juga, sadar ternyata"
"jangan yang aneh aneh kamu mas! "
"kalau sampe Tuhan kasih 10 berarti Tuhan percaya kalau aku sanggup kasih makan dan mendidik mereka"
"ya Tuhan... jangan ya... dua aja cukup"
"berarti kamu mau punya anak sama aku kan?"
pertanyaan itu membuat wajah Gia memerah,dia malu dengan pertanyaan yang di lontarkan suaminya, membuatnya menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.
sampai di hotel mereka langsung membersihkan diri dan beristirahat, seperti biasa mereka selalu nyaman saling berpelukan,Gia pun merasa sangat aman.
16.45
Gia terbangun karena merasa ada sesuatu yang menggerayangi tubuhnya, saat dia membuka mata ada suaminya yang hanya mengenakan celana pendek tanpa baju, pemandangan yang belakangan ini sering di lihat Gia semenjak hari dimana Gia menggodanya.
"yah... kok bangun? "
"pertanyaan yang sangat aneh... dimana ada perempuan yang ga bangun kalau kaya gini" jawab Gia serak.
__ADS_1
"mandi yuk... terus makan... kita udah lewatin makan siang"
"kamu duluan aja... abis itu aku"
"engga ada cerita, bareng aja.. " jawab Rian lalu menggendong istrinya, Gua yang sudah dalam gendongan Rian berusaha melepaskan diri walaupun dia tahu hasilnya akan sia sia.
Tapi tenang saja mandinya tidak lama karena Rian tahu selain belum ada makanan yang masuk, Rian juga tidak mau menyakiti sang istri yang belum siap melakukannya.
setelah mandi tak lama ada suara pintu di ketuk, Gia beranjak untuk membuka tapi langsung dapat tatapan tajam dari suaminya karena dia hanya mengenakan handuk. Rian berjalan ke pintu dan membuka nya, 2 orang pelayan pria laki laki dengan dua troli.
yang satu menata makanan di meja makan yang sudah tersedia di dekat jendela ruang tamu, yang satu lagi menata snack di depan meja tv saat sedang sibuk menata Gia keluar dengan kaos polos putih dan celana pendek, membawa kaos sewarna untuk suaminya yang keluar hanya berbalut handuk di pinggangnya.
"nih.. " Gia memberi baju. "celananya di dalem, kamu ga mungkin pake disini kan."
"aku ganti dulu ya" berlalu
"ini kenapa makanan nya banyak amat mas?" tanya Gia pada yang menata snack.
"pesanan bapak seperti ini bu... "
"ouh ini kue... makanan berat nya yang di sana? " tanya nya lagi sambil menghampiri meja makan.
"iya ka... ini makanan berat nya, mungkin bapak mau makan snack terlebih dahulu karna belum jam makan malam, mungkin kakak juga makan snack dulu supaya tidak makan karbo di jam jam segini" ucapnya lembut, sedikit mencari perhatian.
"eeehhheeemm... kalau udah selesai keluar aja.. " Rian menegur karena melihat si pelayanan tadi berinteraksi dengan istrinya dengan akrab.
"tapi pak, saya di tugaskan untuk menyiram sausnya agar bapak memakannya masih dalam keadaan panas" dalih si pelayan.
"taro aja troli nya di situ beserta kompor dan saus nya, nanti biar saya yang menuangkan untuk ISTRI saya" Rian sengaja menekan kata ISTRI karena melihat si pelayan sedikit cari perhatian pada istrinya, sedangkan si istri malah sibuk mencomot snack yang sudah tertata rapi.
dengan berat hati si pelayanan pergi meninggalkan mereka, sebelum menutup pintu dia tersenyum manis pada Gia dan Gia membalasnya tidak kalah manis tanpa perduli ada Rian di sana.
Rian menghampiri lalu memeluknya dari belakang, "mulai nakal ya... godain cowok"
"orang cuma senyum di bilang godain"
"dengan kamu balas senyuman nya sama aja kamu mengoda dia, memberi dia kesempatan untuk berharap."
"kamu itu suami, dia itu baru aku liat. ga mungkin kamu yang ganteng dan keren gini bisa di gantiin dia" Gia sengaja memuji agar Rian tidak cerewet.
"wanita ini selalu bisa bikin hati dia porak poranda dengan pujian pujiannya! paling pinter ambil hati orang" ucap Rian dalam hati.
"kamu mau makan snack dulu, sambil kita nonton, kalau langsung dinner kamu langsung tidur lagi. "
"dinner??? kita mau dinner?? "
"yaitu udah di siapin... "
"kirain makan malem aja! aku ga ada baju buat dinner"
"itu belum dia keluarin semua isi troli nya, nanti aku yang beresin, dari pada dia liatin kamu terus disini. btw kamu ga usah pake baju juga engga apa apa, kan setelah makan aku buka juga"
mendengar itu Gia langsung duduk buru buru di depan TV, dia tidak mau suaminya melihat wajahnya yg bersemu karena ucapannya itu.
__ADS_1