
satu setengah bulan berlalu, Gia harus kembali ke RS untuk chek up, pagi pagi sekali mereka sudah rapi dan sarapan bersama, sampai sarapan selesai tidak ada tanda tanda Rian hadir, Gua mulai nyaman dengan kehadiran Rian, sudah tiga hari ini dia sama sekali tidak muncul.
"ayo.. " Bagus mengajak Gia berangkat.
"Iya mas, sebentar"
mereka berangkat tanpa menunggu Rian langsung menuju RS, sepanjang jalan Gia membuang pandangannya keluar, sesekali menanggapi pembicaraan ka Risa dan mas Bagus.
"halo cantik... gimana? mendingan atau... makin makin? " sapa Awan saat mereka sampai ke ruangannya.
"jauh lebih baik dok"
"oke... ini kita bakal cek organ dalam ya, untuk memastikan tidak ada yang memar" ucap dokter Awan, yang langsung membuat Bagus keluar dari ruangan, Awan melihat raut wajah takut di wajah Gia yang membuat nya tersenyum dan berkata "tenang Gia, bukan saya yang periksa, saya hanya mendampingi, akan ada dokter perempuan yang periksa kamu" tak lama dokter itu muncul dan memperkeruh dirinya, lalu mulai memeriksa Gia yang di dampingi Risa di samping nya. pemeriksaan berlangsung hampir satu jam, Risa yang tadinya berdiri di samping Gia sekarang telah duduk karena kelelahan.
dokter yang bertugas menangani Gia berbicara serius dengan dokter Awan, yang sesekali melihat kearah Gia.
"gimana dok? " tanya Gia dan Risa bersamaan.
bukan menjawab Awan malah memandang kedua nya cukup lama, sampai akhirnya. "begini Gi, Ris... " baru akan menjelaskan tiba-tiba pintu terbuka, sosok yang di tunggu datang dengan kemeja biru yang lengan nya telah di gulung setengahnya.
"Hai.. Hai... sorry telat.. " sapanya mecium pipi Risa dan kening Gia cukup lama. "gimana keadaannya?" beralih ke Awan.
"gini... bisa pindah ke ruangan gw? supaya kita lebih santai" ucap Awan yang di sambut anggukkan dari yang lain, saat Risa akan membantu Gia untuk bangun, Rian mengambil alih semua itu.
"begini semuanya... keadaan Gia secara fisik baik baik saja, tapi memar di beberapa tempat sensitif, sedikit lebih sulit untuk lebih jelasnya,bisa dokter Dessy yang berbicara, silahkan dok... " Ucap Awan.
"ibu dan bapak, mohon maaf sebelumnya karena saya hanya akan menjelaskan satu kali, mohon jangan di potong terlebih dahulu. begini pak, bu... ada memar di area dada kanan, diatas kandung kemih dan di kiri, mana pangkal paha atau mendekati area sensitif dari nona Gina yang memar nya cukup parah sehingga terjadi pergumpalan darah di area itu" jelas Dokter dessy sambil menatap semua orang didepannya, Rian meremas lembut tangan dalam genggamannya yang tiba tiba melemah,dia ingin mentransfer kekuatan nya melalui genggaman.
"dan... tendangan yang di alami nona Gia di area perut bagian bawah, agak sedikit fatal karena terjadi kerusakan di area rahim yang membuat kemungkinan nona Gia tidak bisa mengandung..... " belum selesai dokter Dessy berbicara, Rian merasa tangan yang dia gandeng makin melemah, buru buru dia menangkap Gia yang pingsan dan membaringkan nya di bed yang ada di ruangan Awan.
"biar saya cek" ucap dokter dessy. "dia baik baik saja pak hanya kaget, biarkan dia istirahat" sambung dokter dessy lagi.
__ADS_1
"jadi solusi nya gimana dok?" tanya Risa
"tidak ada pengobatan khusus bu, mungkin nona sendiri yang harus melakukan pijatan melingkar di area terjadi nya pengumpulan, untuk rahim, kita tidak bisa berbuat banyak, terlalu beresiko untuk nona jika dia hamil." jelas dokter dessy.
Rian keluar dari ruangan itu dengan emosi yang tidak bisa dia tahan, Bagus menyusulnya bersama Awan tapi terlambat karna Rian keburu masuk mobil dan pergi. Bagus mengikuti nya tapi Awan harus tinggal karena dia masih bertugas, Awan menghubungi Rezky untuk menyusul kedua sahabat nya itu.
......******......
sementara itu di rumah tahanan tempat dimana Derry dan Dendi berada, semua petugas menyapa Rian dengan sopan, Rian berjalan kearah ruang tahanan mencari orang yang dia cari, setelah sampai di ruang itu tanpa basa basi dia langsung menghabisi dia pria itu tanpa ampun, sampai petugas yang ada di sana kewalahan dengan emosi yang sudah membendung pada Rian. Bagus dan Rezky muncul bersamaan, dia langsung menghampiri sahabatnya yang yang masih di liput emosi itu, Bagus menarik dan langsung memukulnya.
"ban***t !! loe ga udah ikutan! "
"jangan buang buang tenaga loe! itu ga akan bikin Gia kembali seperti semula"
"mereka penyebab nya!! mereka harus rasain"
"mau lu bikin mati pun ga akan rubah apa yang sekarang cewe loe hadapi!" kali ini Rezky yang bicara. "yang harus loe lakukan dukung dia! bantu dia dengan cara apapun, doa, perhatian,empati, itu akan lebih penting buat dia saat ini. gw yakin dia akan lebih sakit kalau liat loe luka gini" sambungnya lagi berusaha mengembalikan kesadaran sahabatnya.
"heehh... " Tiba-tiba Gia mengeluarkan suara, Awan yang juga ada di situ langsung menoleh, dia mengeser gelas yang berisi air kearah Risa.
"minum dulu de"
"kepala ku sakit banget ka"
"iya tahu... makanya minum dulu"
setelah cukup tenang dan kesadarannya cukup pulih, Awan mencoba memberi dukungan padanya agar Gia tidak terlalu stress menghadapi nya, walaupun sebagai dokter dia tahu itu akan sangat berat, terutama untuk sahabat nya.
"Gia kamu harus semangat biar cepet sembuh, ga usah pikirin yang macem macem dulu, banyak berdoa, ini kan masih secara medis kalau Tuhan mau kamu sembuh, aku yakin kamu sembuh" ucap Dokter Awan.
kata kata itu di jawab dengan senyuman manis dari Gia.
__ADS_1
"kalian gw yang anter pulang ya, jam tugas gw udah selesai" sambung dokter Awan tegas.
perjalanan pulang hanya di isi obrolan ringan antara Awan dan Risa, Gia diam seribu bahasa tidak banyak bicara sama sekali dari mulai dia sadar bahkan sampai sekarang saat dia sudah sampai rumah juga, dokter Awan sengaja mampir agar bisa memantau sahabatnya juga.
"jangan diem aja.. ada yang dirasa? " tanya Awan
"gak apa apa dok, cuma kaya cape badannya"
"karena kamu kaget. nanti juga ilang, pokoknya kamu jangan banyak pikiran, bawa happy ya" balasnya sambil tersenyum.
"iya dok... saya kekamar dulu ya, badannya kaya cape banget." ucapnya pamit pada Awan.
"ini akan sulit buat Rian, hubungan mereka yang sudah lebih baik kemarin malah menjauh karena Gia lupa ingatan, sekarang akan makin menjauh karena perempuan ini malah akan ngerasa ga berguna" ucap Awan dalam hati.
"lho... mana Gia?"
"ke kamar, cape katanya" jawab Awan santai. "ga usah disusul, biarin... dia butuh waktu sendiri" ucapnya lagi saat melihat Risa ingin menyusul Gia. akhirnya Risa juga membenarkan kata-kata Awan, adiknya itu memang butuh waktu untuk berfikir sendiri, entah untuk menumpahkan kesedihannya atau meluapkan marahnya, tapi sejauh yang Risa kenal Gia hanya akan diam dan tenggelam dengan pikiran sendiri.
setengah jam kemudian saat sedang berbincang dan sesekali tertawa bersama, Rian datang disusul dengan Bagus dan Rezky dibelakangnya.
"mana Gia?"
"dikamar" jawab Risa
"ga usah di susul, biarin dia tenang dulu, dia juga butuh waktu buat mikir, buat nenangin pikiran nya, supaya dia juga ga meledak ledak" tahan Awan pada sahabat nya.
Rian yang merasa omongan sahabat nya itu ada benarnya juga langsung setuju, akhirnya dia bergabung dengan sahabat nya yang lain. Risa kembali ke Dapur untuk membuat kopi untuk yang lain, kembali bergabung dan larut dalam obrolan mereka.
tanpa terasa sudah waktunya makan malam, Risa minta mereka makan malam dirumah, bahkan sudah ada Hendra dan Hendri bergabung, Risa meminta sang suami memanggil adiknya.
"hei... abis mandi?" sapa Bagus mencium pipi sangat adik, Gia membalas nya dengan senyuman. "makan ya... udah malem, nanti yang disini bunyi semua cacingnya" Ucapnya lagi sambil menepuk pelan perut sangat adik, yang dibalas dengan anggukkan. orang yang tak mengenal mereka pasti akan mengira mereka layak nya pasangan, terlalu romantis untuk hubungan kakak adik, walaupun hanya seorang kakak angkat dan adik angkat, mereka akrab satu dengan yang lain, begitu pula dengan Risa.
__ADS_1