
sebelum pergi Rian berbincang sebentar dengan Risa dan Bagus, tentang rencananya untuk membuktikan cafe kecil karena kue yang di buat Gia termasuk enak, Gia cukup multi talent di bidang masak dan Rian sendiri cukup paham tentang kopi. mereka setuju asal tidak membuat Gia lelah dan tetap mencari satu orang lagi yang memang basic di kue agar tidak terjadi kesalahan karena sejauh ini Gia selalu memegang makanan berat.
...*****...
waktu terus berlalu tak terasa besok adalah ulang tahun berdirinya kedai, tidak ada yang special hanya syukuran sesama karyawan dan beberapa tamu undangan saja, malam ini Gia menempelkan pengumuman kalau besok akan libur dalam rangka hari jadi kedai yang ke 3,Gia juga menempel poster menu baru yang akan keluar nanti dengan diskon 50% yang akan berlaku lusa.
Gia sedang merapikan beberapa meja saat Rian datang, Risa sudah pulang karena perutnya yang semakin membesar membuat dia sangat mudah lelah.
"hei" sapa seseorang disampingnya, membuat Gia melompat terkejut.
"Hai Mas... mas Bagus udah balik,ka Risa cape"
"aku ga cari mereka kok! aku cari kamu... " jawabnya mengecup pipi Gia.
"kamu tuh" memukul lengan Rian, mereka memang sudah semakin dekat, beberapa kali Rian melibatkan diri untuk urusan Gia termasuk check up ke RS beberapa waktu lalu, tapi jika di dekati orang lain selain Bagus dan Rian, dia masih memasang siaga nya, bahkan Awan yang terhitung dokter pun Gia masih takut dan langsung diam di tempat.
"aku mau ke kontrakan" ucap Gia saat sudah berada di mobil Rian, yang membuat Rian menoleh memandang Gia penuh tanda tanya, terakhir Gia ke kontrakan dia lupa minum obat yang akhirnya harus ke RS. "aku udah hampir satu bulan di rumah kakak, aku harus balik, kasian kakak kalau mesti bangun ngecek aku" ucapnya menjawab pertanyaan yang dilontarkan Rian hanya lewat tatapan.
"oke... apa kalian punya batal lebih?"
"hah? maksudnya? "
"aku juga disana kalau kamu disana"
"ya ga bisa dong mas, kamu itu... "
" berarti balik ke tempat kakak mu atau kamu mau ke rumah aku "
"ga"
"berarti ke rumah bagus" tandanya tak ingin di bantah.
tak ada suara sepanjang jalan kembali ke rumah bagus,sepanjang perjalanan hanya di isi keheningan, Gia telalu lelah untuk berdebat dengan Rian dan dia tidak ingin membuat sangat kakak khawatir, makanya dia mengikuti keinginan Rian.
__ADS_1
sementara itu ditempat yang ingin mereka kunjungi, "mas... udah... ntar lagi ade datang" ucap Risa yang baru selesai membersihkan diri dan masih memakai handuk, sebenarnya dia kesal setengah mati pada suaminya ini karna menanyakan 'apakah mereka masih bisa melakukan hubungan layaknya suami istri dengan keadaan Risa hamil bulan ke empat seperti ini' dan dokter pun mengijinkan dengan berbagai catatan.
"satu kali lagi sayang" ucap Bagus yang juga baru selesai membersihkan diri, langsung menerkam sang istri dengan sentuhan sentuhan yang membuat sang istri tak berdaya. mereka sudah konsultasi untuk posisi posisi yang aman untuk Risa,yang tidak menekan posisi perutnya yang baru memasuki bulan ke empat.
tak lama suara getar erangan kenikmatan keluar dari mulut mereka berdua, saling memeluk dan menc**m "makasih sayang" bisik Bagus yang di jawab dengan senyuman manis dari istrinya, Risa bergeser sambil menarik selimutnya, walaupun sudah suami istri dia tetap Risi jika harus berjalan tanpa busana. saat Bagus ingin menyusul sang istri terdengar suara pagar di buka, akhirnya dia hanya membasuh wajahnya dengan air tanpa menganggu Risa dan beranjak keluar kamar.
"kok baru balik?" tanya Bagus sok tidak terganggu.
"aku nyelesain ruangan biar besok tinggal masak" jawab Gia sambil berlalu ke arah dapur.
Rian melihat sahabat nya hanya mengenakan kaos dalam dan celana pendek serta sebuah garis merah yang tidak terlalu kentara.
"kakak mana mas? " tanya Gia lalu duduk di sofa.
"tidur" jawabnya ingin mendudukkan diri di samping Gia, dengan sigap Rian menarik sahabat nya itu menjauh dari Gia dan berbisik.
"bersihin badan baru dekat deket dia" Bagus yang sadar dengan maksud sahabat nya itu langsung tertawa.
...*****...
malam datang, syukuran telah berjalan, para undangan pun sudah berdatangan. beberapa undangan dari pihak Bagus, beberapa dari pihak Risa dan tamu undangan dari pihak Rian, Gia hanya mengundang dokter Awan dan suster Sisi yang beberapa waktu ini menanggani nya.
seluruh karyawan pun ikut bergembira, karna mereka bekerja dari awal Gia dan Risa memulai usahanya, mereka juga yang tahun pasang surut dan jatuh bangunnya kedai itu, mereka ikut antusias dengan menu baru yang Gia hidangkan.
"mana sih... apa ga dateng ya" ucap Risa menunggu seseorang
"siapa sih ka? " tanya Gia yang melihat sang kakak gelisah menunggu seseorang.
"klien baru kakak mu, pesenan beberapa waktu yang lalu, dia ketemu sama cewek cantik katanya, yang suka banget sama menu menu kamu yang rencananya bakal jadi pelanggan tetap kalian setiap kali kantor nya bikin acara" Bagus menjelaskan.
"tapi katanya mau datang?" tanya Gia lagi.
"dia bilang sih di usahain, soalnya dia juga lagi sibuk ngurus tunangannya." jawab Risa
__ADS_1
"pas banget, berarti dia juga bakal pake kalian di catering pertunangannya dong? " kali ini Rian yang antusias, karna menurut dia Risa dan Gia memang bakat di bidang usahanya tapi mereka takut untuk bergerak.
"rencananya sih gitu kalau ga ada halanagan." jawab Risa.
tak lama orang yang Risa tunggu hadir, dengan dandanan yang sedikit berbeda dari yang lain,
"mba hana... " panggil Risa
Rian dan Bagus sangat terkejut dengan orang yang di panggil Risa tadi, lain dengan Awan yang sudah terkejut dari tadi karna kedatangan Hana.
"mba Risa" ucapnya bersalaman dengan Risa
"ini adik saya Gia, dia orang yang ada di balik menu menu kami"
"halo... Hana, Cantik banget chef nya... pasti udah ada yang punya" sapa Hana sopan, lalu beralih lagi menatap Risa, tanpa memandang seseorang yang berdiri di samping Gia.
"hahaha... iya sudah,sudah ada yang punya,oh iya ini suami saya Bagus" ucap Risa memperkenalkan suaminya.
"lho... ya ampun... Bagus" Sapa Hana yang di jawab senyuman dengan Bagus, menurut Gia senyum bagus sangat aneh, ditambah dengan tangan Rian yang tiba-tiba mengenggam tangannya dengan sangat erat "jadi kamu istrinya Bagus? " tanya Hana lagi,lalu beralih pada Risa.
"mba Hana kenal suami saya?"
"oh dia sahabat tunangan saya, namanya Rian"
Duaarrrzz....
bagai petir menyambar, Gia langsung melepas genggaman tangan nya, Gia memejamkan matanya, dia berusaha menata hati nya,dia sadar rasa nyamannya dengan Rian membuat dirinya lupa kalo mereka belum memiliki hubungan apapun. sejujur dia ingin tertawa, ingin berteriak, ingin menangis, semua itu ingin dia lakukan secara bersamaan, tapi dia tetap tersenyum, beda dengan Risa yang langsung pingsan,dengan cepat Bagus dan Rian menangkapnya. Hana juga terkejut, bukan hanya karna Risa yang tiba-tiba pingsan, tapi karna adanya Rian disitu.
"lho... sayang" panggil nya pada Rian
"pindah! ga liat sikon ya orang lagi ngapain" jawab Rian ketus.
Rian sadar masalah nya dengan Hana memang belum selesai tapi untuk dirinya masalah itu telah selesai, Rian sangat menghargai keberadaan Hana sebelum ini dan Hana sendirilah yang menghancurkan itu semua, dengan segala yang dia lakukan.
__ADS_1