
"besok pagi gw kesini buat liat dia, nanti malam tolong ditengok lagi takut badannya panas, atau takut dia nanggis lagi" ucap Rian sebelum pergi .
...*****...
"ka... maaf ya" ucap Gia besok pagi saat melihat Risa.
"gak apa apa, aku ngerti yang kamu rasain"
"kakak mau aku bantu ga?"
"bangunin mas gih... "
"oke"
tak lama Bagus dan Gia kembali,sebenarnya badan Gia masih cukup hangat yang membuat nya sempat adu argumen dengan Gia agar kembali ke kamarnya, tapi bukan Gia namanya kalau tidak keras kepala, bahkan keributan itu berlanjut di meja makan yang membuat Risa pusing, tak lama ada suara mobil yang berhenti di depan.
"pagi... " ucapnya sedikit terkejut karena wanitanya disitu, " mendingan? " Tanyanya langsung duduk di samping Gia, Gia menjawabnya dengan senyum dan anggukan.
sarapan pagi kali ini agak berbeda karena Rian tidak menggunakan pakaian kerja dan itu membuat Bagus tahu kalau temannya ini tidak akan berangkat kerja.
"Hari ini Gia akan ke kedai, gw akan berangkat kerja, apa bukan sebuah ide konyol meninggalkan kalian disini?" tanya Bagus setelah selesai sarapan, Bagus tahu kalau Rian sudah lebih dulu meminta bikin pada Risa dan Risa pun mengijinkannya.
"gw jamin saat kalian kembali semua barang akan masih lengkap" jawab Rian
"coba aja kalau sampe ada barang yang hilang, berarti gw ga akan liat loe di rumah ini!" tungkasnya sambil berjalan ke arah Gia dan memeluknya "kalau terjadi sesuatu atau kalau dia macem-macem tendang masa depan nya biar dia tahu rasa. " kali ini dia memberi warning untuk sang adik sambil berjalan kearah pintu.
...*****...
"ga kerja mas?" tanya Gia mengeser menjauh dari Rian.
"aku cuti" ucapnya sambil tersenyum, Rian tidak tersinggung dengan apa yang di lakukan Gia karena dia tahu, kejadian kemarin memang pukulan berat untuknya. "aku mau temenin kamu seharian di rumah, Risa dan Bagus setuju. kamu mau ngapain hari ini? " sambungnya lagi agar Gia terlihat lebih rileks.
"aku baru rencana nyoba bikin kue sih" jawabnya sambil berjalan ke arah dapur, Rian mengikuti agak jauh di belakang, dia sengaja menjaga jarak pada gadis ini agar dia tidak risih dengan keberadaan Rian.
percobaan pertama mereka membuat roti dan donat, tidak banyak namun berhasil dengan rasa yang memuaska, menjelang waktu makan siang Rian meminta Gia berhenti sejenak untuk makan siang yang telah dia buat.
"mas bisa masa?"
"sedikit, aku pernah kost di Malang jadi cukup terbiasa masak supaya irit"
"apa yakin ini bisa di makan?" tanyanya ragu, yang hanya di jawab dengan sebuah tawa oleh Rian.
__ADS_1
setelah makan Gia beristirahat sejenak, saat dia akan melanjutkan aktivitas nya kembali Rian mengingatkan agar dia minum obat terlebih dahulu, kali ini jarak mereka tidak terlalu jauh karna Rian sendiri yang menyuapi obat padanya. "aku rasa dia bukan orang yang berbahaya sama sekali." ucap Gia dalam hati.
Gia meneruskan membuat kue tart, namun gagal, Rian yang membantu nya berusaha menyemangati, Gia hanya tersendiri.
"bantu aku bikin yang asin aja yuk mas, kali aja ka Risa setuju masukin di menu baru"
"yakin sama aku?"
"yaudah kalau gak mau"
"aku kan gak bilang ga mau, aku cuma tanya, yakin ga sama aku"
" ayo ah... "
Gia dan Rian membuat menu baru untuk kedai, mereka memasak sambil berbincang masalah kedai, Rian juga bercerita jika sebelum ini Gia juga sering membuat percobaan makanan untuk menambahkan menu ke kedai, Rian, Bagus dan Risa bagian mencicipi masakan itu, yang berawal hanya kedai ayam geprek biasa, menjadi kedai berbagai macam menu. setelah berjibaku cukup lama hingga menjelang sore dan setelah beberapa percobaan, akhirnya terpilihlah tiga menu unggul hari ini yang akan disajikan sekaligus untuk makan malam, tiga menu itu rencana akan di masukan ke kedai, dengan persetujuan Risa.
"mandi gih... biar aku rapihin sisanya" ucap Rian sambil membereskan meja makan, Gia tersenyum lalu berlalu ke arah kamar. setelah selesai Rian menyalakan TV, sambil menunggu Risa selesai mandi, entah karena kelelahan membantu Gia atau kelamaan menunggu Rian sampai tertidur di depan TV. melihat itu Risa mendekati Rian, tapi tidak tega membangunkannya akhirnya Gia ke dapur dan membuat secangkir kopi karna Gia sering melihat Risa membuat kopi untuk Rian harum kopi itu membuat Rian terbangun lalu tersenyum "kamu udah selesai? " ucapnya sambil merenggangkan ototnya,
"kopi mas.. " ucap Gia mendekati, kali ini Gia yang mendekati nya walaupun dalam hati sedikit bingung tapi dia berusaha tidak bergerak agar Gia tidak canggung.
"aku mandi dulu, nanti pasti aku minum" ucapnya sambil beranjak ke kamar tamu.
"kamar ku aja mas, kamar tamu ga ada sabunnya" panggil Gia yang membuat Rian langsung menghentikan langkahnya.
"iya boleh" jawabnya membuat Rian tersenyum lalu menuju kamar sang pacar.
Risa dan Bagus sampai hampir pukul enam sore melihat pemandangan yang tidak pernah mereka lihat, Gia membaca sambil bersandar pada punggung Rian yang sedang memegang pad nya sambil mengerjakan sesuatu dan secangkir kopi dan teh di samping mereka.
"Gia belum pernah sedekat ini dengan pria manapun" batin Risa.
"cepet juga geraknya ini anak... hebat banget peletnya" ucap Bagus dalam hati.
"ehem... " Bagus berdeham membuat Gia kaget setengah mati, tapi tidak dengan Rian, dia terlihat biasa saja, hanya membantu Gia bangun dari duduknya.
"kalian udah pulang? "
"ganggu ya?" goda Risa lalu mengecup pipi sang adik dan menerima kecupan di pipi nya dari Rian.
"ga kok... kami habis bikin kue, tapi yang ini gagal gaga" ucapnya menunjuk kuenya yang gagal.
" kenapa bisa gagal? kamu di ganggu dia? " tanya Bagus menunjuk Rian lalu mencium sang adik.
__ADS_1
"hahaha.. ga mas, kayanya aku ada kurang kasih apa gitu" ucapnya membela Rian.
"negatif thinking mulu" sanggah Rian.
"yaudah kalian bersih bersih deh,abis itu makan aku bikin masakan buat menu baru kalau kalian setuju... " usul Gua.
"mandi nya bareng aja yang, biar cepet, jadi cepet selesai" ucap Bagus tanpa malu sambil membawa Risa kekamar.
"itu mah makin lama... " ledek Rian.
...*****...
"gimana ka? mas? " tanya Gia saat dua kakaknya mencicipi masakannya.
"ini apa? " tanya Bagus menunjuk satu piring.
"tofu nori crispy" jawab Rian, "ada dua saus, ini asam manis dan yang ini kecap pedas" sambungnya lagi mencoba menjelaskan.
"kayanya asam manis lebih cocok" potong Risa.
setelah mencoba semua masakan Risa dan Bagus setuju dengan menu yang baru masuk, tapi karna dikit lagi ulang tahun kedai jadi tiga menu ini akan masuk saat acara ulang tahun kedai bulan depan.
setelah makan mereka bercengkrama sebentar, Risa sedikit lebih lega melihat senyum Gia, walaupun semuanya tahu kalau Gia akan jauh dari kata sembuh, tapi Gia sedikit lebih bersemangat, tentu berkat Rian yang selalu siap di sampingnya.
"istirahat gih ! udah terlalu malem" ajak Rian pada Gia yang masih asyik berbincang.
"iya mas"
"aku pulang ya, kamu istirahat... ayo aku anterin ke kamar dulu, sekalian minum obat"
"iya gih... ini nanti kita yang benahin" sambung Risa membereskan meja kecil berisi cemilan.
"mas... obat ini buat apa?" tanyanya sambil menerima obat dari Rian.
"supaya kamu cepat sehat, katanya mau ke kedai"
"apa pasti bisa sembuh?"
"yakin... percaya dan berdoa. jangan pernah khawatir, Tuhan taro semua pada porsinya" jawabnya sambil tersenyum lalu menggecup kening Gia, lama.... baru akhirnya dia lepaskan "I love you... good night" ucapnya lalu keluar.
"I love you? ini maka aku di tembak? apa dia baru nyatain perasaan nya... " batin Gia.
__ADS_1
sebelum pergi Rian berbincang sebentar dengan Risa dan Bagus, tentang rencananya untuk membuktikan cafe kecil karena kue yang di buat Gia termasuk enak, Gia cukup multi talent di bidang masak dan Rian sendiri cukup paham tentang kopi. mereka setuju asal tidak membuat Gia lelah dan mencari seorang lagi yang memang basic di kue agar tidak terjadi kesalahan karena sejauh ini Gia selalu memegang makanan berat.