Cakar Seram

Cakar Seram
Episode 100


__ADS_3

“Wah giliran aku yang kena!“


Menjerit. Kesakitan. Tangan mahluk itu memegang dengan erat pergelangannya. Seakan tak ingin melepaskan. Bagaimana mau dilepaskan. Baru tertangkap. Sekian lama menanti. Juga sangat ingin menangkap, bukan hanya wanita itu, tapi semuanya. Bahkan terutama si Lalan. Karena sudah jadi incaran semenjak awal. Tapi yang kali ini tertangkap si wanita. Bisa jadi mau di tukar tambah dengan yang lainnya, supaya nanti ada saja yang dibawa ke pisowanan di perkumpulan mara mahluk, sehingga ada bahan untuk saling dibicarakan nantinya.


“Kau Lin,“ ujar Aqi.


Dia berhenti sejenak. Menatap yang mengeluh. Lilin tak sanggup berbuat banyak. Hanya pasrah dalam sedihnya saja. Mau bagaimana lagi. Kini musuh sudah sangat getol mencengkeramnya. Juga sangat senang akan segala yang diperolehnya. Makanya muka-muka menyedihkan para mahluk itu menjadi sumringah dan ada harapan untuk memperoleh hasil yang sangat menguntungkan itu.


“Iya ini.“


“Wah gawat.“

__ADS_1


Aqi hendak menolongnya. Tapi bagaimana lagi. Dia juga tak bisa berbuat banyak. Kalau kembali mereka semua bakal di tangkapnya. Jika meneruskan, maka akan berdampak pada keselamatan istrinya. Mesti berpikir. Tak bisa sejenak. Namun harus secepatnya. Sebab berkaitan dengan nasibnya kini. Selanjutnya tentu saja mesti melepaskannya. Bagaimana caranya, itu yang membingungkan. Mesti dibarengi dengan kesatuan antara pemikiran dengan karya nyata supaya segalanya berjalan lancar, akan tetapi bisa menuntaskan segala persoalannya dengan baik dan tepat sehingga semuanya selamat hingga di akhirnya nanti. Keluar dari lokasi tersebut.


“Kau menangkap istriku!“ Aqi murka. Mungkin mahluk itu belum paham kalau sudah tua Bangka begitu marah. Tentu bakalan taka da hasil baik yang di dapat dari musuhnya. Walau tidak kali ini. Si mahluk tetap saja meneruskan niatan demi mendapatkan musuh.


Hrrr… Samantha.....


Mahluk itu hanya menggeram. Seakan tak ingin bicara apapun. Selain ungkapan mengerikan tadi. Selebihnya hanya musuh di hadapan itu yang tahu. Karena tidak ada lain kecuali demikian.


Aqi mengambil barang yang ada. Yakni kayu. Sangat besar. Dengan sekuat tenaga dipukulkan pada mahluk tersebut. Dimana langsung bisa membuatnya terpelanting. Tapi si mahluk diam saja. Kayu itu yang remuk. Tenaganya sangat kuat. Dan sangat tak bisa di lawan dengan kekuatan lumrah. Itu yang jadi bertambah mengerikan.


“Qi bantu,“ rintih Lilin.

__ADS_1


“Ini tak mempan,” ujar Aqi. Yang juga mengeluh. Akan ketidak berdayanya dalam membantu sang istri untuk terbebas dari segala derita.


Lilin meronta-ronta. Dan berusaha melepaskan diri. Bagaimanapun, dia tak ingin seperti adiknya yang harus terus dalam cengkeraman tidak sedap tersebut. Makanya mesti di buat keluar dari suasana itu. Dan akan langsung melarikan diri ke pintu yang di maksud serta tak usah balik-balik lagi. Nyatanya sekarang dirinya juga di tangkap. Jadi bukan hanya adiknya saja yang diincar. Dia yang tak tahu menahu juga diinginkan. Ini yang mesti dibicarakan baik-baik untuk selanjutnya.


Terlampau keras dia meronta. Hingga terdorong oleh kekuatan sendiri. Untuk kemudian membentur dinding. Dan akhirnya jatuh terguling.


“Aduh kakiku terkilir.“


Rintihnya tertahan. Sakit sekali rasanya. Bahkan hampir tak bisa bergerak. Begitu keras usahanya sampai membuat demikian. Ini sebenarnya tak bagus. Tapi usaha keras tersebut setidaknya membuahkan hasil. Setidaknya bisa terlepas dari semua cengkeraman musuh. Dan bisa dibayangkan kalau kemudian akan melarikan diri. Hanya saying memang.


“Wah.“

__ADS_1


__ADS_2