
“Tapi…“
“Takutnya mereka menunggu.“
Mereka masih khawatir. Dalam diam itu. Untuk memulihkan tenaga, dan menghilangkan rasa sakit. Tetap saja terus membayang, bayangan para mahluk ganas yang sebelumnya mengejar-ngejar mereka dengan buasnya.
Serta tak segan-segan menyeret siapa saja yang tertangkap. Untuk kemudian di tawan dan di masukkan dalam sebuah ruangan sunyi. Bahkan untuk selanjutnya tidak tahu bakalan di jadikan apa nantinya sama perkumpulan para mahluk tersebut. Sebab jumlahnya memang banyak dan hampir serupa.
Bisa saja akan di jadikan semacam persembahan darah. Atau tumbal bagi sebuah upacara tertentu yang sangat menyedihkan. Ini yang patut diwaspadai dan ditakuti. Karena selain menderita, jiwa mereka juga nantinya akan terperangkap dalam suatu ikatan mengerikan yang sangat sulit keluar dari lingkar itu.
“Atau bahkan lagi mencari kita.“
Ini nampaknya sudah pasti. Hanya kali ini keberadaan mereka dimana, itu yang belum jelas. Apakah ada di ruang sebaliknya, atau pada tempat yang belum di lewati serta mereka akan menuju ke sana, juga belum pasti.
__ADS_1
Dan yang lebih mengerikan kalau mereka berada dalam suatu tempat misterius dimana sekali lompat sudah ada di situ, ini yang paling berbahaya, serta bertambah menyeramkan saja kalau nampak.
“Jadi kita kaget nanti.“
Pikirnya lagi jika berada terus di situ. Maka tak ada harapan untuk bebas. Sebab semakin banyak para pemburu itu.
“Kalau disini kita kacau.“
Diperhatikan lingkungan itu. Yang sama sekali tak ada bagus-bagusnya. Selain hanya kursi yang kali ini di pakai untuk istirahat saja. Barang yang demikian itu sudah merupakan alat bantu yang paling dihargai kali ini.
Dan lebih jauh lagi bakalan bisa memperingan rasa sakitnya. Serta untuk selanjutnya akan mampu membuat sembuh yang bukan sementara. Agar di kehidupan seterusnya juga bisa melakukan berbagai aktifitas keseharian yang telah biasa dikerjakan sejauh ini.
“Bagaimana luka ini.“
__ADS_1
Lilin menunjuk kakinya. Selain sulit di gerakkan, juga sakitnya semakin parah saja. Walau sudah berdiam sekian lamanya, akan tetapi tetap tak menurunkan rasa tersebut. Dan masih saja terus menjadi halangan dalam bertindak selanjutnya.
“Siapa yang akan mengurutnya nanti. Sementara kalian tak pada bisa. Aku yang terus sakit kan.“
Lilin terus saja mengeluh. Kali ini benar-benar tak tertahankan. Katanya suruh mendiamkan setidaknya seminggu. Bagaimana lagi. Kalau hanya sebentar saja sudah tak bisa menahan rasa sakit yang baginya teramat parah ini.
Walau menurut kedua rekannya tersebut sepertinya biasa saja. Hanya karena dia wanita maka dianggap cemen yang tak sanggup menahan yang begitu saja.
“Makanya segera kita lari.“
Itu usul selanjutnya. Yang barangkali bakalan langsung sukses. Walau sebelumnya juga sudah melakukan semua itu. Tapi tak satupun ada hasil, atau setidaknya sampai sekarang tak ada keberhasilan yang di dapat. Mesti bagaimana lagi caranya.
Tapi kalau terus berdiam diri juga seakan membiarkan apa saja yang terjadi biar terjadi. Dan pasrah pada sesuatu yang sebenarnya bisa dihadapi kalau masih bersedia melakukan banyak hal.
__ADS_1
“Biar segera bisa mencari si tukang urut itu.“
“Ya. “