
“Awas, jangan sampai menginjak kaleng. Entar kedengaran mereka.“
Itu yang biasa terjadi. Kalau tengah berdiam. Malahan ada yang kacau. Jika tak menabrak kaleng. Maka menabrak kursi yang teronggok. Lokasinya seakan tak terawat. Atau tak ada yang merawat.
Karena memang tak ada yang melakukan hal tersebut. Semua terlalu fokus pada kegiatannya sebagai mahluk misterius. Sehingga semua pada melakukan kegiatannya sendiri-sendiri. Jadi tempat yang semestinya bersih karena digunakan melakukan usaha di suatu peristiwa penting.
“Ya enggak, mana ada kaleng,“ kata yang lainnya keras. Biar bisa langsung mendengar. Sebab jika tak demikian siapa yang bakalan paham akan ucapan mereka.
Sementara masing-masing terlampau fokus dengan usaha meredam segala suara yang bisa timbul dari setiap gerakan mereka. Sebab sudah dipahami semua, kalau disitu, daun yang rontok saja sangat keras terdengar, apalagi suara mereka yang mesti terdengar yang lainnya.
Bisa-bisa ikut menggema dan menjadi suara berulang yang justru membuat apa-apa jadi keras sekali. Inilah mengerikannya ruangan luas, sepi dan taka da siapapun, tapi menjadi masalah bagi yang melintasinya.
“Stt….“
__ADS_1
Saling memperingatkan. Nanti bukan kaleng yang membuat semuanya ketahuan, malahan suara mereka yang terdengar bagaikan guntur, walau sejatinya hanya bicara biasa saja. Karena ruang sunyi itu membuat seakan jadi keras.
Belum lagi kalau saling terpantul di sisi-sisi tembok pembatas antar ruang yang bisa menambah kerasnya apa yang terdengar itu. Hal tersebut berikutnya membuat semua bisa mendengarnya.
Serta bakalan jadi heboh andai berikutnya sudah diketahui bersama. Akan saling kejar. Berikutnya ingin menangkap. Dan lebih jauh akan jadi perburuan yang mengerikan.
“Oke…“ ujarnya. “Mana ada kaleng.“
“Ya biasanya ada kan?“ ujar Lalan. “Bekas minuman. makanan, biskuit.”
Kalau habis makan snack, biasanya langsung main buang saja. Makanya dengan sembarangan akan ketabrak oleh orang yang tak tahu apa-apa, tentang daerah itu.
Sebab makanan sekarang banyak yang terbuat dari peralatan itu. Selain lebih praktis, makanan juga akan awet untuk di makan pada waktu yang lumayan panjang dari semenjak di buatnya makanan tersebut hingga di konsumsi.
__ADS_1
Karena selain untuk menabung, makanan itu bisa di lakukan di saat yang diperlukan. Dan dalam tempat yang tepat tersebut, membuat makanan bisa menjadi sesuatu yang sangat bagus di kala dibutuhkannya.
“Ini nggak ada.“
“Yang ada kursi rusak atau meja.“
Yang ada memang peralatan itu yang di pergunakan oleh kelompok orang-orang aneh yang sangat terisolir ini. Bedanya mereka memang sengaja mengasingkan diri dengan kemampuan menyembunyikan diri dengan sangat lihai. Dan berusaha sebisa mungkin orang di luar kelompok mereka tak usah mengetahuinya.
Sehingga sangat jarang orang luar yang mengetahui keberadaan mereka. Untuk itu hanya alat penting begini yang ada. Kursi dan meja biasanya di pergunakan. Baik saat santai maupun kala tengah menemui seseorang.
Walau begitu kala tengah ada pisowanan juga tak mempergunakan alat tersebut. Juga keanehannya adalah alat-alat itu seakan terbengkalai dan menjadikan seakan berada dalam suatu ruangan yang penuh dengan penghalang.
Entahlah, hanya pemikiran mereka lokasi tersebut seakan sering terjadi pergumulan hebat yang menentukan suatu kemenangan salah satunya dalam menunjukkan adu kekuatan dalam mempertahankan berbagai kepentingan. Inilah yang menjadikan segalanya seperti apa yang Nampak saat ini. Tentunya bukan hanya di situ saja, tapi juga di lain ruangan yang sudah mereka lewati tersebut.
__ADS_1