Cakar Seram

Cakar Seram
Episode 45


__ADS_3

“Bukan itu.“ Memang bukan. Mereka mesti mencari yang lain. Sebab yang demikian bukanlah yang mereka cari. Meskipun punya cakar yang sama sama seram, namun cakar yang di cari tentunya lebih menyeramkan dari apa yang kali ini mereka temukan. Sebab semua itu hanya sedikit saja tingkat keseraman nya. Yang untuk selanjutnya lebih bersikap lucu saja. Untuk itu masih memerlukan waktu yang lebih panjang untuk bisa menemukan pencarian panjang mereka ini.


“Kemana lagi kita?“ tanya Lilin. Nanya, terus nanya. Maklum memang tak paham. Kalau tak demikian maka akan kesulitan sendiri. Ibarat pepatah mengatakan bakalan tersesat di jalan kalau tak mau bertanya. Itulah yang di butuhkan demi sebuah pencarian panjang. Sebab hal demikian belum merupakan akhir dari apa yang jadi tujuan nya. Serta butuh waktu yang lebih lama lagi. Dan terus bersabar. Walau sabar saja tidak cukup. Karena masih memerlukan tenaga yang panjang guna menjangkau tempat-tempat yang sangat jauh dari lokasi mereka, terutama untuk perjalanan darat yang tak bisa menggunakan kereta cepat, atau pesawat tanpa awak. Yang kali ini mesti di telusuri dengan teliti, juga mesti di cari satu demi satu agar menemukan di akhirnya.

__ADS_1


“Ya, terus menelusuri jalanan sepi dan lengang ini,“ ujar Aqi. Supaya mencari keterangan selanjutnya. Dari apa yang sudah mereka dapat. Ternyata kali ini pun belum mendapat hasil maksimal dari pencarian panjang mereka. Mesti sabar di bilang. Juga mesti punya tujuan yang lebih jelas serta terarah dengan panduan dari keterangan yang tidak banyak dari orang yang sebelumnya bersedia memberikan semua itu. Akan lebih sulit lagi kalau sebelum nya tak bertemu orang yang bersedia memberi semua itu. Tentu nya ini lebih menyenangkan hati. Karena bakalan lebih panjang lagi urusan kalau sama sekali tak di temui apa yang menjadi tujuan itu sebelum nya. Dengan kata lain, hasil tak lengkap kali ini merupakan suatu keberuntungan demi hasil panjang lain nya yang di butuhkan agar memperoleh hasil yang lebih banyak lagi.


“Ih, apa itu Qi?” tanya Lilin saat mereka melintasi suatu gerombolan yang sangat lebat dimana nampak ada bayang yang bergerak.

__ADS_1


“Burung itu,” jelas Aqi. Memang tak di sawah, tak di hutan, yang namanya burung selalu ada dan selalu punya acara untuk mendapat makanan sendiri. Mereka liar. Sehingga ada saja yang sanggup membuat mereka tumbuh subur, membesar bagaikan ada yang memelihara saja. Nyatanya tak satupun yang memberi nya makan. Hanya untuk kali ini Nampak besar sekali. Serta cakar di sepasang kakinya itu akan sanggup merobek mangsa yang tengah mereka incar. Sebab itu kemampuan dahsyat mereka sehingga bisa menakutkan. Walau itu bukan elang, namun besar juga. Di situ yang tersisa hanya bangau dan burung sejenis belibis. Itu yang paling banyak di jumpai dengan kondisi tubuh yang besar. Sebab memang masih banyak makanan yang di peroleh. Dari rawa atau di hutan dengan memburu sejenis binatang pengerat, tikus dan sebagainya yang mampu membuat mereka bertahan. Sementara yang lain, terutama yang langka sudah jarang sekali di temukan. Terkadang elang juga di temui satu dua. Mereka ini terkadang masuk ke perkampungan penduduk untuk sekedar mencari mangsa. Dimana banyak yang di temui. Antara lain binatang peliharaan penduduk terutama yang masih kecil, jenis anak ayam dana yam itu sendiri yang langsung akan melayang jika kena tatapan mereka yang sangat tajam. Lalu bakalan langsung akan di cakar tubuhnya serta menjadi santapan malam mereka. Sementara bila di hutan, kalau lihat pelanduk, atau tikus liar akan langsung kena sergap. Sebab intaian mereka sangat canggih. Bisa lebih jelas beberapa kali dari pandangan manusia.


“Wah dia juga punya cakar, seram lagi,“ kata lilin yang merasa akhir-akhir ini perasaan seram terus saja dating menghantui mereka. Terutama kala mereka berada dalam tempat mengerikan yang sangat mencekam ini. Terutama karena mereka memang tengah menuju ke lokasi yang sangat menakutkan. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di sekitar hutan lebat itu.

__ADS_1


“Yap…“


__ADS_2