Cakar Seram

Cakar Seram
Episode 79


__ADS_3

“Eh, kenapa ini,“ ujar Lalan.


Dia telah berhasil membuka pintu itu. Sepi memang. Tapi kenapa dia malah kebingungan.


“Bukan ya?“ ujar Lilin.


Maklum baru kali ini dia menjangkau tempat yang seperti ini. Tak bisa tidak. Dia harus ikut merasakan kengerian akhirnya. Dan kali ini merasakan kalau lebih nyaman berada dalam rumah saja tinggal bersama Junior kalau dibandingkan harus melakukan petualangan mengerikan yang tak kenal ujung pangkalnya demikian.


“Kenapa asing,“ ujar Lalan.


Seakan dia mengingat-ingat sesuatu. Maklum sudah lama. Segalanya menjadi terabaikan. Jangankan yang demikian, apa yang singkat saja terkadang lali. Ini belum lagi kalau memiliki sesuatu penyakit yang cukup berat.


Bisa yang memang se-alur atau memang jauh sekali berbeda. Hal ini bisa saja menimbulkan suatu yang seperti terurai di atas. Karena otak langsung saja membuang hal itu. Yang begitu mudah tertutup oleh sebuah pengalaman baru. Walau saja terkadang ada suatu ingatan yang begitu membekas. Sehingga akan mudah diingat walau sampai liang kubur. Sesuatu itu yang demikian menggurat dalam.

__ADS_1


Dan seakan selalu saja membuat keringatan terus. Ini karena demikian besar rasa mengguncang tersebut. Namun ada kalanya langsung hilang. Meskipun bukan penyakit. Akibat merasa tak membutuhkan. Jadi tidak membekas. Seperti mimpi saja. Sebagian besar akan langsung hilang dalam beberapa menit.


Akan tetapi terkadang bisa teringat terus. Kalau merasa pernah memimpikan sesuatu. Bahkan terkadang suatu mimpi mendahului sebuah kisah. Dan ini kerap terjadi. Semacam ramalan saja akhirnya. Namun yang jelas pada kali ini demikian ingin dilupakan saja.


“Gua lupa.“


Ujar keduanya. “Lupa bagaimana?“


“Ini bukan?“


Dan bukan ada percabangan yang memang seringkali di buat pada banyak gedung. Dibuat supaya mudah menembus ke berbagai ruangan. Tapi untuk hal ini memang sedikit aneh. Segalanya hanya menuju ke suatu ruang dengan tembusan ke sebaliknya.


Dan ini terasa lebih aneh lagi jika memikirkan kalau segalanya itu terjadi akibat rasa yang terus saja menjadi sebuah pemikiran kalau untuk keluar harus menembus pada bagian yang ada di seterusnya itu. Dengan kata lain kalau ingin menuju ke pintu terakhir harus menyusuri pintu tersebut. Seterusnya.

__ADS_1


“Iya sih. Kita sedari tadi tak menyimpang.“


“Karena tak ada simpangan.“


Tak ada simpangan berarti lurus. Walau pintu di seberang tak harus lurus. Tetapi dianggap lurus. Karena sesekali bentukan ruang itu sedikit menyerong. Ini di hubungkan dengan ketersediaan tempat guna kebutuhan apa yang diinginkan. Jika diantara dua sisinya.


Maka aka nada bagian yang lega. Dan jika pada ujung yang berseberangan, maka pada dua sisi itu yang tersedia tempat. Makanya tidak selamanya lurus.


Karena kalau berada di tengah apa yang digunakan harus pada kanan kiri. Jika tengah yang terpakai maka untuk menelusuri satu ruang saja memerlukan perjalanan panjang yang lebih. Itulah yang terjadi, sehingga membuat berbagai susunan dalam ruang ada beberapa bagian yang memang di sengaja untuk memenuhi kegunaan dari sistem penataan ruang tersebut.


Dan seturut dengan apa yang bisa di capai dengan ruang yang ada namun memfungsikannya untuk banyak kepentingan.


“Ya sudah lanjutkan saja.“

__ADS_1


“Oke. “


__ADS_2