
“Tidur Aqi,“ ujar Lilin. Dia bergolek saja di atas papan-papan kayu dalam gubug terbuka itu. Dingin. Tanpa selimut. Dengan tidur dalam posisi miring dan menekuk lutut, demikian saja sudah bisa mengurangi rasa itu. Mungkin ini belum seberapa, menjelang pagi nanti, pasti yang di rasakan bakalan lebih hebat lagi.
“Aku mau dekat api dulu, biar hangat,“ kata Aqi yang terus saja membakar apa saja yang ada di dekatnya. Selagi makanan habis, ubi kayu, ubi jalar, dan minuman akibat rebusan dengan bambu gosong itu semua tak bersisa. Mau mencari enggan, selain sudah malam, juga lokasi nampak gelap yang sulit mencari keberadaan benda yang tersembunyi di balik bumi begitu. Kalau siang, meskipun tak Nampak bakalan bisa meraba-raba serta mencari titik pasti guna mendapatkan benda yang diinginkan. Tapi kali ini kondisi nya lain.
Lilin terus berada di dalam gubug. Dan mencoba memejamkan mata sembari merasakan betapa tubuhnya pegal-pegal, akibat melakukan aktifitas yang sangat melelahkan, sepanjang hari itu.
Nampak disana bulan semakin redup dan suara keheningan benar-benar meraja di hutan sepi tersebut.
__ADS_1
Tiba-tiba dia mendengar sesuatu. Nampak bergerak. Berikutnya goyangan dari semak-semak liar. Dalam keadaan yang gelap dan sepi begitu terasa sekali kalau sedikit saja ada yang membuat suara. Makanya dia yang kini tengah melangkah dalam pekat, tak demikian saja lepas dari pendengaran orang yang dalam kesunyian itu.
“Aqi…“ Lilin berbisik. Memanggil suami nya. Nampak dia tak ingin suara keras. Takut sampai terdengar mahluk itu. Bisa fatal akibat nya. Apalagi di tempat yang gelap, dan tak terbayangkan kalau ketahuan terus marah dan melakukan penyerangan, maka akan berdampak tak baik nantinya, yang mungkin saja bisa celaka hingga luka-luka dan cedera serius.
“Hah…“ Aqi menoleh. Dia tak menyadari. Suara api yang membakar api unggun nya lebih dia rasa daripada apa yang di lihat oleh bini nya. Namun dia kemudian mengikuti apa yang di tunjuk Lilin. Dia juga melihat sesuatu. Apa yang di lihat Lilin dia juga menyaksikan nya. Perlahan dia padamkan apinya. Apalagi mengeluarkan asap mengepul dimana bisa menimbulkan bau yang tak enak di pakaian nanti nya. Setelah api padam, kini menjadi semakin jelas. Karena pandangan nya langsung tertuju ke sosok tersebut dengan sinar dingin bulan banyak yang menyorot ke arah benda misterius tersebut.
Mereka menatap ke suatu tempat, tempat meninggi itu. Dimana cahaya rembulan benar-benar semakin meredup tertutup awan menghitam. Namun nampak satu sosok manusia Serigala yang sangat mengerikan.
__ADS_1
Dia tengah menelusup diantara semak-semak rimba. Seakan tak perduli dengan apa yang ada di sekitarnya. Dia tak mengacuhkan dua orang yang mencari nya sampai di bela-belain berada dalam hutan begitu. Terus saja melangkah diantara semak-semak hutan.
Berikutnya berhenti. Pada suatu tempat yang sedikit lebih tinggi. Di atas sebuah gundukan tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya. Dalam posisi ini, terlihat tubuhnya sangat kuat dan perkasa. Apalagi sinar rembulan berhasil membias tubuh tersebut.
Dengan menatap bulan redup. Yang bersembunyi di balik awan yang berarak. Lalu menegakkan tubuh. Cakar nya nampak mengerikan. Dan memperlihatkan gigi - gigi tajam nya. Sembari membuka mulut.
Dia dengan lolongan keras, seakan membelah keheningan malam. Sunyi yang mencekam, pecah dengan suara nya.
__ADS_1
Au….