
“Kan mereka melihat,“ ujar Lalan.
Dia panik. Bakalan menuduh dia nanti. Padahal dia hanya melirik mahluk itu. Lirikan pastinya tak bisa di anggap sesuatu yang membahayakan.
Walau dalam kerumunan banyak orang, sikap mata tadi dianggap sesuatu yang lain. Karena merasa tak takut, pada satu sosok yang di lirik itu. Dan merasa tertantang untuk membuat mata tadi seakan tak punya rasa takut. Sehingga harus di tangani lebih jauh agar tidak mengeluarkan lirikan mata yang demikian membahayakan.
Karena setiap gestur tubuh terkadang memiliki makna. Dan artinya bisa sangat membahayakan. Orang yang tak pernah mengalami tak bakalan merasa itu. Atau sedikit saja. Yang berarti dianggap sebagai sesuatu yang artinya demikian.
“Hus…“
Semua berusaha tetap tenang. Dan menenangkan sesamanya.
“Aku tak menabrak kaleng. Tapi mereka melihat,“ ujar Lalan berusaha meyakinkan, bahwa bukan dia yang bikin gara-gara. Tapi mereka memang sudah melihat.
“Ya sudah, jangan bersuara.“
__ADS_1
Berusaha sebisa mungkin tak mengeluarkan bunyi. Sehingga mampu meredamnya dan membuat telinga peka mereka tidak akan mendengar bunyi apapun.
Dengan kata lain, jika sekali saja mendengar suara yang aneh, akan langsung mereka incar sebagai sesuatu yang mencurigakan dan hendak di bentak atau ditangkap untuk selebihnya bakal tahu sendiri.
“Oke.“
“Tetap tenang.“
“Ya tenang kan.“
“Malah terus ngomong.“
Heran semuanya. Kalaupun tak berisik, namun omongan mereka bisa saja terdengar. Sebab daerah tersebut tidak kedap udara. Kalau di luar angkasa, atau di planet gas, baru tak akan di dengar meskipun berteriak. Sebab taka da media penghantarnya.
Yang kali ini jelas ada di lingkungan itu, tentu saja akan tetap di dengar siapa saja yang berada dalam jangkauan gelombang merambat tersebut.
__ADS_1
Makanya sudah dikatakan mesti hati-hati. Bahkan hati-hati saja tanpa penuh pertimbangan rasanya tidak cukup. Karena daya sensor mahluk tersebut di lokasi sendiri tentu sangat peka terhadap rangsang. Sehingga apa yang sekiranya merangsang tadi bakalan langsung bisa terdeteksi oleh syaraf mereka yang sangat canggih.
“Aku nggak nabrak kaleng tapi,“ jelas Lalan masih tetap yakin dan tak mau di salah-salah terus.
“Omongan lu itu lo. Kita Jadi begini,“ ujar kakaknya yang yakin kalau semua itu akibat omongan adiknya yang gaduh-gaduh.
Sehingga membuat mereka merasa ada yang berisik. Dan satu atau beberapa kata yang keluar dari mulut kaleng adiknya itu yang membuat mereka benar-benar merasa terusik untuk menatap sesuatu yang menggelitik itu.
Dan kenyataannya hanya mereka yang ada di lokasi tersebut. Makanya langsung di tunjuk. Dan yang mengerikan lagi mereka tentu tak akan pandang bulu. Serta tak mau tahu siapa yang menabrak kaleng.
Yang Nampak kini mereka semua dalam tatapan tersebut. Sehingga akan langsung di kejar, di tangkap, serta kembali seperti sedia kala untuk masuk ke ruangan tertutup penuh penjagaan itu.
“Walah. Katanya kaleng-kalengan. Aku kan enggak.“ Lalan tetap yakin, jika bukan dia yang bikin gara-gara.
Orang nggak menginjak kaleng kok. Apalagi membuat kegaduhan. Kan yang mestinya di tuduh yang kaleng-kaleng. Ini enggak. Makanya mesti tetap santai.
__ADS_1