
”Dulu, di hutan sana ada goa. Namanya goa macan.”
”Harimau dong.”
”Mungkin.”
”Macan kan harimau.” Itu hanya nama saja. Bahkan di suatu tempat yang lain ada yang menamakan tiger. Sementara yang populer kan nama kendaraan. Namun itu tak jadi soal. Yang jelas berdasar nama lokal hal itu sudah sangat populer. Sehingga orang-orang kalau melintas suatu tempat berrongga itu akan langsung menyebut demikian. Bahkan kalau ada COD dengan alamat tersebut akan langsung ketahuan dan sampai.
__ADS_1
”Kelihatan nya begitu. Dahulu pernah ada macan di goa tersebut. Namun sekarang sepertinya sudah tak ada.”
”Kenapa”
”Tak ada yang lihat.” Ya binatang seram. Walaupun ganas seperti kucing yang suka mencakar-cakar lengan orang, juga nggak bakal di sebut mengerikan. Karena banyak jenisnya serta yang lucu dan imut lebih banyak lagi. Atau anjing, yang semula hidup di hutan sebagai saudara serigala, kali ini sudah tak lagi di sebut demikian. Walau bentuknya besar, bertaring dan suka daging, namun sangat lembut dan sama tuan sendiri sangat setia. Melebihi istri yang sering selingkuh. Tapi tentu saja itu hanya berlaku pada sebagian besar binatang itu. Selebihnya yang lebih kejam juga banyak. Semisal suka mengorek korek sampah, atau makan daging tanpa bilang bilang. Itukan suatu yang tak patut di contoh. Tidur juga tak bisa di tempat bersih. Setidaknya kalau sangat di sukai maka akan di rawat sedemikian rua sehingga akan baik di lihat dan di pelihara. Yang jelas semakin banyak binatang itu yang nampak maka akan hilang rasa seram nya. Dan kalau jarang, maka untuk membuktikan bahwa yang seram itu bisa baik juga akan sulit.
”Ya kali sudah pergi atau punah sebab namanya binatang besar mengerikan begitu, di jawa kan sudah tidak ada,” jelas si bapak. Karena dokumentasi terakhir bisa di lihat pada foto langka dengan gambar yang sudah tak jelas. Meskipun beberapa orang terkadang masih bisa melihat keanehan itu. Banyak yang beranggapan itu semacam halusinasi, atau karena mistis. Misalkan di lereng jalur utara pernah ada para pendaki yang melihat. Hanya sayang tak sempat mendokumentasikan nya. Sehingga kala orang-orang penasaran serta ingin melihat namun tak pernah ada yang ketemu, membuat kisah itu langsung di ragukan kebenaran nya. Apalagi saat melintas malam-malam di batas sepi, namun kemudian hilang dengan sendiri nya. Maka orang-orang langsung yakin kalau harimau itu hanya sejenis hewan misteri yang jelas tak akan bisa di temukan. Dan itu memang demikian. Namun kisah seram itu sudah terlanjur tersimpan dalam ingatan orang-orang desa sepi. Sehingga akan terus di ceritakan hingga anak cucu tentang suatu pengalaman mistis bertemu dengan simbah mengerikan yang pernah ada di situ.
__ADS_1
”Kebun binatang paling ya?” Kalau di sini sih jangankan harimau yang belang, kuda hitam, gajah bengkak, hingga domba-domba yang membisu juga ada. Karena memang tempatnya. Bukan karena kebun yang banyak binatang nya. Namun sengaja di namakan demikian sebagai suatu suaka agar habitat mereka tak punah. Serta orang-orang yang ingin melihat, menyelidiki, atau memastikan kelangkaan binatang yang melegenda bisa di telisik di sini.
”Nah, disitu lah ada yang melihat, namun bukan di dalam, tapi di luaran,” ujar si bapak.
”Anda yang melihat?” tanya Lilin yang merasa kalau orang ini barangkali yang memang punya pengalaman berharga dan bisa di tularkan pada semua orang yang ingin mencari sisik melik ing pengetahuan.
”Bukan lah. Cerita saja,” kata Bapak petani itu.
__ADS_1
”O begitu.”