
“Kan enak?“ ujar Aqi. Mulutnya terus saja mengunyah ubi kayu dan ubi jalar yang tumbuh di batas tanah milik peladang itu. Tak semuanya ada isi nya. Namun saat di tarik, beberapa ada yang sudah berbuah. Ada yang besar dan ada yang kecil. Dengan ukuran maksimal demikian saja.
“Tapi nyuri kau Qi,“ ujar Lilin mengungkit kejadian yang sudah-sudah.
“Besok bilang,“ kata Aqi. Tak enak rasanya kalau istri kepikiran hal-hal yang sedemikian tak perlu di pikir sebenarnya. Terutama di hutan yang hampir tak ada siapa-siapa. Sehingga apa yang di makan juga sulit. Dan mesti mencari apa-apa sendiri dari apa yang dihasilkan hutan itu.
__ADS_1
“Terlambat. Kita sudah pergi,“ kata Lilin. Membayangkan sehari saja di situ sudah demikian menjemukan. Apalagi kalau lebih lama lagi. Lagian besok bukan nya mereka sudah mesti mencari tempat di mana ada orang yang pernah melihat mahluk itu dan menelusuri keberadaan sarangnya yang mana tahu meletak kan si Lalan di suatu lokasi yang kali ini belum ketemu itu.
“Bagaimana lagi. Ini juga sudah habis,“ ujar Aqi sembari minum sedikit air hasil mencari di suatu sumuran tak dalam yang biasanya di pakai buat berbagai keperluan. Terkadang air itu tak seberapa jernih. Beda dengan aliran sungai atau sumber yang langsung keluar dari pegunungan. Disini sumber taka da. Sungai juga jauh. Hanya semacam aliran dimana semua itu Cuma di pakai sebagai saluran melintas air kala hujan dating. Itupun seakan tak terserap. Hanya lalu begitu saja menuju sungai yang jaraknya jauh. Makanya sebuah sumur kadang penting bagi mereka di sini. Untuk terus nya diambil air nya, dan dengan tempat seadanya, semisal potongan bambu yang kemudian menggantungnya di atas bara api, sehingga sedikit masak tanpa menghanguskan bambu tersebut. Yang berikutnya layak di minum. Tentunya enak jika di kasih sedikit kopi. Yang saying juga kopi taka da. Di sini taka da yang menanam kopi juga. Itu yang membuat kesulitan meminum. Apalagi teh yang tak cocok di daerah hutan yang suhunya kurang dingin.
“Sedikit doang sih.“
__ADS_1
“Sudah, tinggal istirahat.“
“Iya.“ Lilin segera menuju ke gubug untuk rebahan. Sementara Aqi masih saja di dekat api yang saying kalau di biarkan panasnya menghilang begitu saja. Soalnya kayu juga tak seberapa bagus kalau di pakai untuk api unggun. Yang ada hanya ranting - ranting kering yang patah dari dahan untuk membiarkan nya berserakan di sekitar ladang terbuka itu.
“Gelap Qi,“ keluh Lilin. Tak ada lilin tanpa petromaks, membuat suasana Nampak mencekam. Hanya pohon-pohon hutan yang lebat.
__ADS_1
“Aku bikin api unggun saja.“
“Oke. Biar terang.“