
“Dulu sih pernah ada kisah tentang sosok itu. namun sudah sangat lama dan sekarang seakan hilang dari percakapan,“ ujar si bapa pemilik gubug dan ladang sembari mengingat-ingat kisah menyeramkan tersebut.
“Tapi kami butuh dengar pak,“ ujar Aqi.
“Iya, adik saya hilang,“ kata Lilin ikut memojokkan orang itu supaya sudi bicara kebenaran yang pernah dia dengar.
“Belum tentu dia kan. Jangan-jangan mahluk lain yang punya cakar mirip namun seingat kalian hanya mahluk tersebut karena yang pernah berurusan dengan kalian hanya mereka.“
__ADS_1
“Orang saya pernah mengalami,“ ujar Aqi mengingat kala dengan Lalan terperosok jauh hingga masuk ke lokasi yang sulit di deteksi begitu.”Dan bekas cakaran itu mirip dengan apa yang pernah kami lihat serta pernah kami rasakan di alam misterius itu.”
“Wah begitu,“ Bapak itu hanya manggut-manggut. Jika benar berarti mahluk itu ada sebuah kepentingan, semacam misi khusus yang akan di sampaikan buat para manusia yang secara damai tengah menghadapi aktifitas seperti biasa di pedesaan yang asri.
“Iya, makanya perlu kisah itu.“
“Di hutan sana, agak jauh tapi, pernah ada yang lihat,“ Bapak itu akhir nya berkisah dan mengungkapkan walau dengan sedikit ragu dan ada bayang ketakutan. Mengingat dia selalu ke tempat begini yang sunyi sepi serta dengan mudah akan di temui kalau si para mahluk hendak menginginkan pertemuan aneh tersebut. Akibat dia mengetahui banyak serta tak bisa menahan agar cerita rahasia demikian tak tersebar diantara mereka-mereka juga.
__ADS_1
“Bentuknya aneh. Menyerupai orang, namun kepala nya anjing. Dia tengah melintas dengan santainya di suatu jalan setapak pada tepi hutan. Yang melihat tentu saja terkejut, ketakutan dan siap berlari. Namun mahluk tersebut seakan tak perduli. Dia pergi begitu saja, dengan tanpa menghiraukan orang lain. Atau memang dia tak menyadari ada yang lewat. Jadi mengenai bagaiman jadi nya atau bagaimana asal mula terbentuknya mahluk tersebut tak ada yang melihat. Apakah dia punya ilmu beralih rupa. Atau tengah mendapat kutukan karena tergigit oleh suatu virus mengerikan, semua itu tak ada yang tahu. Kami sebagai penduduk desa yang berkelana di hutan menganggap semua itu sebagai kisah yang lalu saja. Sebab sejauh ni kami juga tak pernah di temui nya atau malah kena gangguan. Tidak. Kami hidup berdampingan kalaupun ada mereka.”
“Wah terima kasih atas keterangan nya yang panjang lebar ini pak. “
“Sama-sama. Tapi mengenai lokasi dan lain sebagainya tak tahu menahu,“ ujar si Bapak memutus cerita yang dia dengar dari mulut ke mulut. Kebenaran nya sendiri tak dia yakini. Namun kisah itu banyak beredar di masyarakat. Dan hanya itu yang dia ketahui. Akibat selalu ke hutan namun jangankan bayangan nya, kelebat nya pun tak pernah dia lihat. Itulah yang membuat dia ragu untuk menceritakan kisah yang belum tentu benar adanya. Yang mestinya cukup dianggap kisah lalu yang akan hilang seiring berjalan nya waktu. Seperti yang kali ini sudah berjalan. Namun bagaimanapun masih tetap lestari dalam ingatan.
“Baiklah. “
__ADS_1
“Kalaupun ada dia mungkin berada di dimensi lain. Namun kalau tak ada mungkin orang yang melihat itu hanya sekedar berhalusinasi atau tengah halu yang berlebihan. “
“Baiklah kami akan tetap menganggap ada supaya adik kami segera di temukan. “