Cakar Seram

Cakar Seram
Episode 101


__ADS_3

“Sini Aku papah.“


Mau tak mau Aqi membalik. Lalu berusaha menarik tubuh Lilin. Dengan sekuat tenaga dia tarik lengan itu. Dan diletakkan ke bahunya. Mungkin dengan cara demikian sebuah hal yang sangat pantas dalam satu tindak pencegahan sekaligus cara yang paling tepat untuk bisa terus bergerak tanpa diam, namun bisa terus juga menghindar dari sergapan musuh yang sudah pasti akan terus mengejar sampai batas mereka tak bisa melakukan hal yang sama tadi.

__ADS_1


“Waduh bagaimana ini?“ suasana kebingungan terus saja menjadi-jadi. Disatu sisi ingin segera aman, dan di lain posisi mesti memperhatikan kalau-kalau mahluk tersebut akan kembali melakukan serangan mendadak yang bakalan menambah mereka kocar-kacir. Lalan baru saja jatuh. Dan lilin sekarang. Kalau demikian terus, maka semua akan jatuh. Dan mengalami hal menyakitkan seperti yang kali ini tengah terjadi. Ini gawat. Mana tenaga juga menipis. Itu bisa saja membuat keadaan yang tidak menyenangkan tadi akan semakin kacau saja. Semula sejak Lalan yang terjatuh saja posisinya sudah sangat panic. Dirasa bakalan gagal untuk melakukan pelarian panjangnya. Kali ini malahan di tambah dengan istrinya yang sudah barang tentu semakin memperlemah gerakan mereka. Karena mau tidak mau mesti melawan sendirian musuh kalau bertemu. Sebab sebelumnya yang dengan kekuatan bertiga saja sudah demikian kerepotan, apalagi kini yang sudah menurun kekuatan rekannya tadi. Maka akan semakin repot saja posisinya.


“Lihat dia masih terus menyerbu tidak?“ ujar Aqi diantara langkahnya yang tertahan akibat beban berat dengan Lilin yang jalannya masih terpincang-pincang. Jelas hal ini menambah konsentrasi yang dirasa tak bisa terus terfokus pada jalan. Tap mesti menghindari musuh juga. Dan selanjutnya bakalan kelimpungan jika benar-benar dia muncul di dekat mereka dengan tiba-tiba. Ini patut dihindari.

__ADS_1


“Wah. “


“Terus kita jalan.“ Tapi mau bagaimana lagi. Jalan juga tertatih-tatih. Dan Lilin tak bisa diharapkan akan mampu melakukan lebih banyak. Sejauh ini hanya merintih-rintih. Lukanya demikian baru. Dan sangat sulit menahannya. Luka itu demikian menyiksa. Dan hal tersebut akan semakin parah kalau terus kejadian dimana musuh tak demikian saja membebaskannya. Maka harus dicari cara bagaimana menghindari pandangan mereka, akibat tak bisa melangkah lebih jauh tersebut.

__ADS_1


“Selagi tak ada dia.“ Yah, kemungkinannya sebentar lagi ada. Karena sudah terlanjur menangkap. Itu berarti pikiran mereka kalau musuh sudah dianggap telah lengah, dan juga sudah tak mampu bergerak lebih panjang lagi, hingga menangkapnya semakin mudah. Inilah makanya yang harus diwaspadai untuk selekasnya pergi menghindar.


__ADS_2