
“Awas. Ada Lagi!”
“Wah gawat!”
Tahu-tahu ada saja yang meluncur. Namun belum juga sampai di tempat mereka, sudah langsung terhenti. Seraya menunjukkan muka seramnya.
“Ih, dia menghadang.“
“Makanya mesti gerak cepat,“ ujar Aqi yang semakin merasa ngeri.
Kali ini sudah tak mungkin untuk melakukan duel diantara dua lelaki yang saling berseberangan prinsip itu. Yang ada hanya rasa khawatir terhadap keselamatan mereka. Terutama istrinya yang lagi cedera.
__ADS_1
Bahkan dia sendiri yang tak begitu parah mendapat luka, kalau mesti berhadapan langsung juga mesti berpikir beberapa kali supaya bisa mengalahkan musuh yang sudah terkenal di seantero jagad, jika dia sangat sakti dan kekuatannya berlebih dibanding sekitarnya yang bukan mahluk.
Inilah yang mesti di waspadai, serta mungkin akan dihindari kalau bisa dalam bentrok fisik secara langsung. Akan lebih asyik jika bis menghindar termasuk melarikan diri secepatnya. Karena tahu, betapa berbahayanya sosok ini jika diladeni kemarahannya.
“Bagaimana mungkin?“ Lilin mengeluh.
Bahkan cenderung ngeri, kalau sudah melihat mahluk yang memang mengerikan itu. Belum lagi jika memandang diri sendiri yang lagi tak berdaya.
Mau menghindar sudah sulit. Lari tak bisa. Sebagaimana mahluk itu kini tengah menghadang mereka, dan dengan seramnya berada di depan seraya menunjukkan berbagai bentuk fisik yang menambah ngeri suasana kala melihat tampang seramnya itu.
“Oke. Aku bantu.“ Aqi terus saja membantu.
__ADS_1
Sebisa mungkin. Sebisanya yang dia bisa lakukan. Dengan memapah dan bergerak pelan, membuat jalanan yang sudah lumayan sulit, menjadi semakin rumit saja saat musuh mulai melakukan aksinya, baik itu menghadang atau bahkan melakukan penangkapan dengan gerak cepatnya. Sehingga hanya keberuntungan saja yang diharap mampu membuat mereka lepas dari serangan tersebut.
“Tapi ini terpaksa Lin,“ ujar Aqi.
Supaya bantuannya itu juga di imbangi dengan kemampuan yang dimiliki si Lilin sendiri. Sebab kalau tidak, maka tenaganya akan sia-sia. Bahkan gerak mereka bakalan semakin terhambat saja, atau lebih jauh lagi akan sia-sia. Bahkan semakin membuat mereka lemah.
Karena terbuang percuma hanya untuk menggendong si wanita, namun tak ada tenaga lain yang berusaha membantu perjuangan mereka lagi. Inilah yang akhirnya menjadi tak menentu, bahkan kemungkinan mereka bertambah lemah semakin jelas. Hingga menunggu waktu saja buat mereka para pengejar menangkap dengan senang hati.
“Iya. Aku juga berusaha cepat.“ Lilin tertatih-tatih dan terus berusaha berjalan dalam bimbingan si Aqi. Tangannya menggapai pundak suaminya itu, dan tangan Aqi memegang pinggangnya. Dengan demikian maka bisa melangkah. “Tentunya, sedapatnya yang aku bisa kan?“
Itulah. Mau bagaimana lagi. Kondisi kali ini semakin mengkhawatirkan. Walau terkadang segala rasa lara itu juga sudah berusaha di hilangkan. Akan tetapi selalu saja tetap terasa. Apalagi jika kondisi sedang tak nyaman. Baik kondisi lantai yang kacau, atau bagian lain yang memaksa, kerja kaki berlebihan.
__ADS_1
Misalkan ada sedikit perbedaan ketinggian. Atau tengah melewati suatu rintangan. Semacam kayu bekas benda yang rusak. Maka mesti melompatinya. Kondisi yang sebenarnya bukan suatu halangan, atau beban berat, namun karena lagi sakit, menjadikan begitu saja sudah merupakan keluhan tersendiri yang mau tidak mau harus di hadapi. Pastinya dengan kemantapan jiwa. Dan keberanian yang tersisa. Agar bisa terlepas dari segala hadangan oleh musuh yang terus saja berdatangan itu.