Cakar Seram

Cakar Seram
Episode 74


__ADS_3

“Wah kita membalik ini.“


Pastinya. Sebab lokasi yang menggembirakan. Karena merasa sudah berada di ujung. Namun ternyata harus berbalik. Dan menuju ke lokasi dimana tadi mereka menemukan si Lalan. Dan mesti kembali lagi.


Sementara anak itu terus mengeluh. Dengan tak ada makanan yang mengisi perutnya yang kelaparan karena secara perhitungan semenjak kemarin belum terisi. Dan menurut hitung-hitungan pula, setelah mengisinya, pasti bakalan lanjut ke belakang guna mendapatkan apa yang dia mau buang. Itu sudah suatu logika.


Serta selanjutnya menuju ke kamar untuk meniti impian manisnya. Itu seperti kebiasaan. Dan kebiasaan itu mesti terhapuskan. Disini. Dalam ruang berkabut yang aneh. Dan hanya Nampak terlihat sebagai suatu kesuraman saja. Selebihnya hampir tak ada. Baik hingar bingar, kehidupan yang manis, bahkan hiburan yang biasanya terlihat kalau mereka keliling desa, jelas tak nampak untuk saat ini.


Berikutnya membuat mereka mesti teringat dengan lokasi yang menjenuhkan ini. Yang bagi para mahluk malahan jadi tempat favorit dimana mereka bisa melanjutkan kesendirian serta lokasi sunyi tersebut untuk bisa menjadikan rasa tentram dan damai jauh dari hiruk pikuk manusia yang saling berebut sesuatu laksana serigala buas di hutan rimba yang ganas. Ibarat kata manusia adalah serigala bagi yang lain. Siapa kuat dia yang mampu bertahan. Itulah yang membuat serigala sungguhan ini justru senang di lokasi yang damai dan jauh dari segala apa yang mampu di perebutkan itu.

__ADS_1


Dan disini suatu lokasi yang tak bisa di tembus oleh mereka yang suka berbuat aneh begitu. Makanya saat ada manusia mesti di buang supaya tak memberitahu posisi itu serta menyuruhnya membalik tanpa ada memori di alam ini yang nantinya akan jadi rebutan bagi mereka yang menginginkan sebuah hal yang aneh.


Berikutnya mesti membuang segala sesuatu yang berkaitan dengan hal ini. Jauh dari kata omong kosong dan mesti menjauhi segala hal yang berkaitan dengan duniawi. Makanya segalanya mesti melalaikan semua ini. Baik lokasi, tempat serta siapa saja yang kini berada di situ, agar tidak menjadi incaran mereka-mereka yang ingin mengetahuinya dan mengabarkannya kepada yang lain sehingga banyak yang penasaran tentunya.


“Bagaimana lagi, kalau mereka mengejar terus.“


Nampaknya jalur itu memang sudah jadi kebiasaan. Yang tak bisa dihindari. Dan jadi suatu kisah tersendiri. Bagi mereka yang sampai ke dalamnya.


“Apa itu?“ tanya Lilin. Dia belum pernah soalnya. Apa yang dia lihat Hanya sejauh yang mereka lewati itu. Dan rasanya benar-benar mengerikan.

__ADS_1


Berbeda jika di rumah yang bisa saja tak perduli. Tak percaya. Serta membuang apa yang di dengar itu untuk lalu begitu saja. Sebab hal yang di ceritakan rasanya mustahil untuk di rasakan. Itu dulu.


Namun sekarang mau bagaimana lagi. Ternyata kisah itu Dirasakan sendiri. Baik rasa ngeri. Takut. Panik dan segalanya. Menjadi sebuah hal biasa. Yang terus dia rasakan sepanjang di lokasi tersebut.


“Paseban mungkin.“


Sangat mengerikan kalau sampai di tempat itu. Apalagi bila semuanya berkumpul. Maka akan sangat membahayakan. Satu mahluk saja sudah demikian mengerikan.


Apalagi jika seluruh mahluk berkumpul dalam ruangan yang sangat luas itu. Pastinya tak ada tempat lagi untuk meloloskan diri. Karena dimana-mana pasti ada mahluk tersebut. Dan akan terus mengejar keberadaannya.

__ADS_1


__ADS_2