Cakar Seram

Cakar Seram
Episode 28


__ADS_3

“Nah yang lain coba tanya ke pemilik gubug sana. dia ada. kami biasanya pulang bareng,“ ujarnya seraya menunjuk ke suatu ladang yang lain. Walau samar-samar nampak tertutup oleh pepohonan hutan yang besar dan tinggi. Kalau siang mungkin gambaran nya akan semakin nyata dengan besar dan suram nya bayangan dari hutan-hutan begini. Namun andai malam maka akan terasa sangat menyeramkan. Sehingga apa yang sudah nampak tinggi akan semakin meninggi saja, seiring rasa ketakutan yang masing masing orang punya proporsi yang tak sama. Andai berbarengan dengan rasa takut yang sangat besar, maka akan semakin tampak begitu tinggi juga bayangan apa yang serasa menakutkan tersebut. Namun kalau masih di batas sebuah rasa saja, maka pohon itu hanya bentukan dari bayangan yang keluar darinya sebagai benda mati saja yang alamiah menampakkan suatu gambaran tentang alam yang memang demikian adanya.


“O begitu.“

__ADS_1


“Ya.“ Bapak itu juga hendak beranjak pergi. Nampaknya sudah enggan berada di situ terus. Karena entah apa. Barangkali malam menjelang, jadi selain gelap dan sepi, juga ada bahaya lain yang tak di ketahui orang, hanya bapak itu saja yang paham.


“Baiklah kami akan mencoba ke sana.“

__ADS_1


“Terima kasih atas segala informasinya ya pak. Ini sangat bermanfaat buat kami melanjutkan langkah pencarian. Dari titik situ kami akan mulai lagi. Harapan kami, semoga lain waktu kita bisa ketemu lagi,“ ujar Aqi masih terus berusaha berkomunikasi dengan yang memberi info. Mereka juga enggan untuk selalu di tempat aneh begitu. Namun bagaimana lagi. Berkali-kali terulang yang hanya berurusan dengan adik yang mereka sayangi itu. Kalau kali ini tak mendapat keterangan, maka esok juga bisa berarti sama. Namun andai kali ini sudah dapat, maka langkah selanjutnya adalah mencari kebenaran itu. Serta syukur bisa akan langsung menemukan nya. Dan bakalan mengakhiri proses pencarian yang sedikit menegangkan. Karena berhubungan dengan gelap dan kegelapan. Antara malam yang hendak datang, juga rasa suram untuk lokasi yang memang tak seharusnya manusia ada di sana. Itulah salah satu keengganan yang langsung di pikirkan oleh keduanya. Hanya kembali pada persoalan rasa kasih yang besar untuk adiknya membuat segala rasa takut dan jengah untuk melakukan nya, mesti di usahakan juga agar segalanya beres dan tak butuh waktu panjang untuk membiarkan dia terus berada dalam ketakutan. Sebab tentunya akan semakin tersiksa dia dalam cengkeraman mahluk bercakar itu. Mereka sudah merasa demikian tersiksa, pastinya si Lalan juga lebih lagi. Sudah tak bisa bergerak bebas, akibat keterbatasan itu, lebih-lebih berada pada situasi aneh yang tak dia kenali sepenuh nya.


“Iya. Sama-sama.“

__ADS_1


Keduanya meninggalkan si bapak. Dan menuju ke lokasi yang di tunjuknya tadi. Seraya berharap ada tambahan kisah yang nanti bisa dia telusur supaya cepat ketemu. Walau hari nampaknya terus bergulir dan waktu menjelang malam sudah mendekati. Serta dalam hutan begini sudah nampak gelap. Meskipun mentari belum sepenuhnya terbenam. Saat senja sandekala begini, mesti sudah meninggalkan hutan agar candra, sang bulan yang bersinar terang benderang nanti malam menggantikan hari. Walau dengan nuansa yang sangat berbeda.


__ADS_2