
“Sini, Aku papah,“ kata Aqi.
Dia langsung meraih tangan Lilin. Dengan demikian bakalan ada kekuatan untuk terus melangkah. Tidak berdiam diri terus. Sebab, kalau di situ terus taka da artinya. Kalau tidak mati membusuk, juga bakalan ditemukan sama mereka yang selalu aktif bergerak mencari sasaran.
Sebab mereka ini sudah paham daerah tersebut dengan lingkungannya yang memang sudah dikenali sejak lama serta telah bertahun-tahun menjadi sarang kebanggaan mereka yang tidak sembarang orang bisa menemukannya. Makanya langkah paling tepat adalah bergerak. Mencari dan terus mencari, sebab pintu itu tetap diam.
Kalau mereka juga diam diri terus maka tak bakalan ketemu. Selain mereka mesti mau berusaha, niscaya aka nada hasil yang didapat. Apa yang di cari pasti ketemu. Hanya lama dan singkatnya waktu itu, proses yang menentukannya. Inilah asiknya berjuang. Dimana ada kemauan, disitu akan mendapatkan.
“Iya. “
__ADS_1
Lilin diam. Dia gantungkan tangannya ke pundak Aqi. Lalu mencoba melangkah. Memang terasa berat. Tapi mau bagaimana lagi.
Cara ini yang paling bisa dilakukan. Yang lain akan sedikit bermasalah. Dan sedikit juga mendapatkan hasil untuk sebuah jarak yang terasa amat panjang.
“Aduh.“
Kembali dia mengeluh. Sebab memang tak tertahankan. Mau bagaimana lagi. Mesti dilakukan ini. Dan secepatnya. Sebelum segalanya terlambat.
Baik melalui pencegatan, atau sekedar mengejar untuk menangkapnya, bahkan yang lebih parah jika sampai membelenggu mereka. Ini yang jelas-jelas tak bisa diterima dengan baik.
__ADS_1
Sebab harus terus berusaha supaya keinginan mereka yang tak baik itu mesti di buang, dan secepat mungkin meninggalkan lokasi itu, layaknya keinginan mereka semenjak awal, yang sampai kini masih berupa angan-angan. Dimana keinginan tadi tak bisa langsung di lepaskan serta di wujudkan.
Harus melalui jalan berliku serta berbagai halangan dan rintangan yang menghadang mesti di singkirkan. Inilah mengerikannya lokasi yang kali ini mereka pijak. Maka tak seharusnya mereka kembali ke situ. Bahkan sebelumnya juga demikian. Kalau taka da kepentingan, maka lebih baik untuk tidak mengarah ke situ.
Apalagi sampai masuk ke dalamnya. Sebab batasannya sangat tipis, dari selaput yang memisahkan dunia mereka. Walau demikian tak banyak yang bisa menembusnya. Karena berbagai perbedaan itu.
Sehingga batasan yang dekat itu menjadi sebuah jarak yang sangat panjang dan penuh rintangan layaknya berbatasan langsung dengan waktu yang sangat panjang dan lama. Serta proses yang juga tidak mudah dan lebih cenderung pada berbelit-belit dan mencemaskan.
Inilah yang mesti di hindari supaya selalu merasa aman tenteram, dan menganggap mereka taka da sekalipun ada, supaya tak saling mengganggu dan diganggu. Itu yang kemudian menjadi pilihan paling baik bagi manusia demi aman dan tenteram nya, dan tak usah mengulik keberadaan mereka yang juga telah tersembunyi oleh ruang dan waktu dengan ketenangannya di lokasi yang demikian aman itu.
__ADS_1
“Pelan…“
Mungkin lama-lama juga akan menjangkau jarak panjang yang sudah di perhitungkan. Sejauh apa yang terukur, dan hambatan yang ada bisa di kurangi. Jadi bila mengetahui ada musuh, maka akan bisa membelok, mencari jalan lain yang lebih aman. Inilah asiknya berusaha.