Cakar Seram

Cakar Seram
Episode 78


__ADS_3

“Barangkali di depan itu.“


Mereka menatap sekali lagi, satu pintu aneh. Setidaknya itu yang kesekian kalinya menuju ke tempat yang rahasia. Tempat yang sebenarnya tak ingin mereka lalui, tapi harus di datangi. Karena menuju ke titik keluar dari lokasi demikian menuju ke kondisi aman. Setidaknya sudah tidak berada dalam lingkup kekuasaan mereka. Ini yang jelas mesti di pahami. Dan ini juga yang harus di tuju. Tentunya akan semakin berdegup jantung mereka rasanya. Dimana akan semakin kacau peredarannya, saat melewatinya, atau berhasil mendapatkannya. Untuk berikutnya mesti menghadapi musuh yang sesekali tidak kelihatan dan kelihatan. Jika kelihatan maka akan membuat mata langsung ngeri, namun andai tak Nampak, tapi langsung menyerang, maka hasilnya yang justru mengerikan, akibat luka di beberapa titik yang sesekali bisa dirasakan hingga jauh ke lokasi rumit itu.


“Ya coba buka.“


“Tapi….“

__ADS_1


“Kenapa?“


“Aku ragu.“ Demikianlah. Membuatnya termangu-mangu. Antara menatap pintu tersebut. Dengan menghendaki kembali. Atau menunggu siapa yang berani melakukan tersebut. Sebab kalau mereka ada di sebaliknya. Maka yang paling depanlah yang bakalan kaget. Serta membuatnya jadi ngeri.


“Lo.“


“Tapi tak menjebak kan, mereka. “

__ADS_1


“Mana menjebak kalau kita yang selama ini ketakutan.“ Sebab yang namanya takut, pasti mempunyai banyak cara. Dan cara itu yang mesti di gunakan serta di pakai buat mengalahkan musuh. Dan membuat mereka yang bakalan langsung terkapar. Itu yang mesti dilakukan. Maka jika sampai menjebak, karena merasa tak kuat sehingga bagaimana caranya bisa memenangkan sebuah pertandingan. Dengan hanya mendapatkan satu cara yakni memakai akal. Dan terjadilah jebakan itu. Supaya bisa terkalahkan si pemenang tadi. Serta menjadikannya sebagai tawanan atau pecundang di kali ini. Walau tentunya sedikit sulit, karena mesti bisa mengelabuhi lawan. Dan sebisa mungkin sampai tak ketahuan sampai mereka bisa dikalahkan itu.


“Hooh. “


“Jika menjebak itu kalau mereka yang panik.“


Setelah sampai. Mereka mendorong. Kembali pelan. Seakan menjadi ritual saja kelihatannya. Soalnya dari awal demikian. Apa-apa selalu penuh dengan rasa yang tak nyaman. Seakan segalanya berjalan mesti pelan. Akibat terlampau besar rasa ngeri yang ditanggung. Itu yang kemudian membuat pemikiran tersendiri sebagai dampak dari rasa ngeri yang terjadi. Serta akibat dari berbagai tekanan yang tak wajar dari sesuatu yang tak kelihatan namun dirasakan. Dan itu suatu ketakutan. Berbuah pada sebuah petualangan rasa yang bisa berhasil jika segala kengerian hilang dengan sendirinya berubah jadi rasa semangat dalam menghadapi ketakutan tersebut. Tapi jelas tak mudah. Akibat membuangnya sangat sudah. Dan segalanya terjadi akibat watak dasar yang dimiliki untuk satu keberanian yang memang telah ada semenjak awal. Kalau dipaksakan pasti tak bisa, serta membuatnya selalu berada di bawah rasa ngeri tersebut, yang tak mudah di rubah dalam waktu sekejap seperti membuat suatu rasa asam menjadi manis, hanya dengan menambah gula. Atau manis jadi pahit jika menaruh dalam brotowali. Ini tak demikian.

__ADS_1


__ADS_2