Cakar Seram

Cakar Seram
Episode 131


__ADS_3

“Eh, kok kita disini?“


Mereka terkejut. Saat pagi menjelang. Dan sinar mentari yang panas mulai menyengat, mereka semua segera terjaga. Dan untuk selanjutnya menyadari diri. Jika tengah berada di suatu kawasan yang aneh. Tapi posisi mereka juga sama persis kala melakukan istirahat tadi malam. Hanya bedanya kali ini Nampak semua.


“Iya yah…“


Aqi ikut terkejut. Dia sangat paham daerah tersebut. Seperti sebelumnya yang tahu-tahu berada di lokasi tersebut. Kali ini juga. Itu adalah tempat dimana mobil mereka terperosok.


“Di tempat mobil kita terjun ke jurang yang lima meter itu.“


“Dan terjepit diantara pepohonan.“


“Hooh.“


Kembali di perhatikan sekeliling yang sudah semakin hafal saja. Sebab tiap kali ada bencana, selalu di situ munculnya. Sehingga bagi mereka hal ini sangat aneh. Meskipun lokasi tersebut sudah bukan hal aneh lagi, akibat merasa sudah sangat hafal dan mengenali tiap kondisi tanah, maupun pepohonan yang mengelilinginya. Juga bagaimana bekas mobil mereka yang melintang dengan susah payah di keluarkan dari situ dengan bantuan berbagai tenaga.

__ADS_1


“Tapi, aduh….“ terdengar Lilin masih mengeluh.


“Kenapa Lin?“ tanya Aqi.


“Kaki gue.“


“Kenapa?“


“Masih sakit.“


Barangkali perasaan Lilin, kalau sudah tak di kejar mereka, maka kakinya bakalan pulih, sembuh seperti sedia kala. Nyatanya masih saja di rasakan hal itu. Atau sedikit banyaknya mereka hanya melakukan mimpi panjang yang segala bentuk rasa lara bisa di buang dengan segera. Akan tetapi semua itu tak semudah yang dia bayangkan. Tetap saja memerlukan orang lain guna menyembuhkan yang di rasakan tadi.


“Ya sudah,“ ujar Aqi memahami situasi. “Yuk kita segera pulang.“


“Tapi dia parah.“

__ADS_1


Lilin hanya diam saja. Mau bagaimana lagi. Kalaupun sendiri juga bisa, tapi akan terlampau memaksa diri, dan resikonya tentu saja besar. Bisa saja nanti tulangnya malahan akan semakin kaku, sehingga saat tidur tak bisa di luruskan. Atau kakinya bertambah bengkak saja yang tentu saja karena posisi tersebut akibat benturan kuat yang sebelumnya terjadi serta berulang-ulang itu.


“Kita jalan saja menuju jalan raya,“ ujar Lalan.


Dirasa jalan tersebut tak terlampau jauh dari situ. Walau kali itu tak jelas posisinya. Karena berada di bawah. Pada suatu tanah menurun yang posisinya rumit. “Disana nanti menghentikan bus. Dan ikut menumpang.“


“Benar juga.“


Seperti kebiasaan, kalau dekat jalan, pasti ada angkutan. Dan disitu langsung bisa naik, menuju lokasi dimana arah jalannya memang demikian. Tak harus semacam travel yang bisa mengantar hingga depan rumah kali ini tentu saja Cuma sampai di jalan raya. Sebab banyak penumpang dengan rumah yang masing-masing, serta biaya yang murah. Sehingga asal menjangkau bagian itu saja, maka akan langsung disambut oleh para tukang ojek yang sudah mangkal.


“Tapi kau bantu aku memapah Lilin yah. Jalanan menanjak ini,“ ujar Aqi.


Dia merasa sedikit repot jika mesti membawa Lilin yang tentunya tidak enteng. Dan lagi posisinya yang begitu, maka akan semakin menambah kesulitan lagi. Terutama jika dia membimbing sendiri.


Akan sangat pelan jalannya. Juga akan bermasalah kalau sampai menggelundung lagi. Sehingga akan bergulingan untuk kembali ke posisi terakhir yang sama seperti yang sudah-sudah. Berada di situ terus dan terus saja. Inilah yang mesti di hindari. Bagaimana bisa sampai di tujuan namun tidak sampai tergelincir lagi.

__ADS_1


“Oke.“


__ADS_2