
“Wah gawat.“
Mereka mengeluh. Tidak bisa tidak. Kemana lagi harus melangkah. Kalau selalu bertemu dengan mereka. Mana wujudnya begitu. Dan berkali-kali mesti mendapatinya. Harus melawan, jika berani. Tapi sejauh ini untuk memupuk keberanian selalu terganjal. Mengingat bagaimana perkasanya lawan. Dan tidak mau tahu, seberapa kuat kemampuan tersebut dalam mengatasi perlawanannya. Dan itu semua merasa gagal sebelum bertindak. Akibat memang sudah terlihat sangat menyeramkan. Makanya lebih baik berhati-hati, sebelum sampai. Dan berikutnya menuju ke tujuan dengan senang.
“Ada terus mereka.“ Karena yang mengejar memang Cuma dia. Makanya selalu saja demikian. Dan itu tak bisa dihindari. Setidaknya sebelum mereka meninggalkan lokasi, maka akan selalu demikian. Bertemu dan jumpa lagi dengan musuh yang serupa tapi tak sama. Atau sama tapi beda. Sebab mereka tak hanya satu dan kesemuanya punya stau tujuan demi mendapat mereka.
“Cepat, mesti bergerak.“ Itu yang harus dilakukan. Kalau terdiam tak akan berhasil. Jika melangkah, maka kemungkinan lolos akan lebih besar. Sebab masih ada harapan. Walau hasil bisa sebagian saja dari kemungkinan itu. Setidaknya masih ada kemungkinan. Beda dengan jika berdiam saja, dan hal tersebut sudah jelas tak akan bisa.
__ADS_1
“Kemana?“
“Ke arah sebaliknya,“ ujar Aqi. Setidaknya kembali harus menghindari hadangan si mahluk mencengangkan yang tahu-tahu muncul sana, muncul sini. Seakan semua lokasi itu adalah tempat ideal buat mereka main petak umpet. Ini hal yang tak menguntungkan buat mereka. Walau memang semenjak awal. Tapi kali ini rasanya yang paling parah dari semua itu. Dimana taka da jalan keluar. Dinding itu terlalu tebal untuk di terjang. Dan ruangan itu jadi ladang yang mengerikan bagi mereka buat di buru para musuh.
“Yah bolak balik terus.“
“Tertangkap kita nanti.“ Bertambah khawatir saja mereka. Walau belum di laksanakan, tapi semua sudah berjalan sedari awal, hingga kali ini yang membuat sangat lelah. Dan itu akan bisa langsung membuat mereka berada dalam cengkeraman mereka.
__ADS_1
“Ya ayo.“ Cuma itu yang bisa di ucap. Selebihnya tinggal menjalankan rencana yang mesti dilakukan, karena untuk mencari hal lain juga kesulitan. Akibat tidak adanya pemikiran lain dalam membebaskan diri.
“Lalu nanti kembali dan menuju ke sana.“ Ini strategi yang mesti di jalankan. Akan tetapi mau bagaimana lagi, kalau bertiga dan dalam mengucapkannya sangat keras. Bisa saja langsung di dengar mereka, serta bocornya rencana, tentu saja membuat segalanya bisa gagal. Apalagi mereka sangat tajam dalam pendengaran, juga lokasi ini milik mereka. Pastinya bakal di antisipasi, bagaimana supaya semuanya tak bakalan meninggalkan ruangan itu, untuk kemudian ditangkap kembali dan diamankan, seperti tujuan awal mereka dalam usaha mendapatkan anak tersebut.
“Karena itu pintu yang dituju.“
“Oke.“
__ADS_1
Pintu itu demikian menantang. Terlihat sangat nyata. Namun juga kembali butuh pengorbanan dalam mencapai lokasi yang sudah nampak dengan jelas tersebut. Apalagi mesti melangkahi hadangan musuh yang sangat menakutkan itu.