
“Tapi jangan cepat-cepat.“ Bisik lilin. Lirih, nyaris tak terdengar. Dia sendiri sudah kepayahan membawa badan, tentu saja akibat dari luka yang tak kunjung sembuh itu. Maklum luka dalam. Namun dia mencoba terus untuk melangkahkan kaki, sebisa mungkin demi keselamatan bersama. Serta keamanan yang juga bisa di raih. Sebab kalau selalu di situ, maka bakalan celaka. Lama-lama mereka ke situ. Dan tak bisa langsung menghindar. Dalam kondisi segar saja sudah kelimpungan menghadapi serangan mereka, apalagi kini ada yang tengah cedera, pasti bakalan bertambah sulit dalam melangkah secara cepat.
“Hah…“ lalan hanya ternganga.
“Masih sakit ini.“ kata Lilin memastikan. Sakit sekali memang. Walau mesti di paksakan supaya bisa meninggalkan daerah menyeramkan itu, dan selanjutnya menuju ke lokasi pengobatan yang paling ampuh setelah benar-benar terbebas dari kepungan mahluk tak menyenangkan tersebut.
“Ya lah. “
__ADS_1
Lalan sigap. Dia terus menuju ke pintu seberangnya.
“Yuk jalan lagi.“
Lilin menurut saja. Melangkah pintu itu sudah sulit. Kali ini mesti menjelajahi ruangan lumayan luas yang memang mesti di lakukan guna menuju ke pintu setelahnya yang mereka pastikan itu jalan keluarnya. Kalau bukan itu kemana lagi, mesti membalik, tentu akan membutuhkan waktu, serta bahaya yang mengancam semakin panjang. Sebab kali ini mereka seakan berada dalam labirin misteri yang tak kunjung usai. Walau demikian, namanya suatu ruang, pasti ada jalan keluarnya. Hanya lokasi itu yang belum di dapatkan, dan meyakini, sebentar lagi pasti sampai, kalau saja mereka terus menjalani hingga ke suatu ujung. Disana jalan keluar itu pasti ditemukan, dan bisa langsung keluar untuk menghirup udara bebas. Dan setelahnya bakalan bercerita kesana kemari, kalau mereka telah berhasil masuk ke suatu portal gaib, menuju ke rumah banyak pintu, dan selanjutnya berhasil dengan gemilang menaklukan labirin misteri itu. Tentu saja itu masih sekedar harapan. Kenyataannya kini, melangkah menuju satu pintu ke pintu lain sudah sangat kepayahan. Kalau memaksa diri, tentu akan cepat, tapi tak memperhatikan orang lain, apa kata dunia nanti. Tentu akan membicarakan jika semua itu terjadi karena egois yang berlebihan, dan mementingkan diri sendiri, diatas kepentingan negara dan masyarakat. Pasti akan mendapat dampak buruk setelahnya. Pasti, ia meyakini itu. Dan selebihnya kalau mendapat celaka lagi, tidak akan ada orang mau-maunya menolong dirinya yang nanti bakalan terkena musibah sendiri. Lebih baik berlalu, pergi dan sedikit menangis, daripada memberi pertolongan pertama pada sesuatu yang tak menjanjikan itu.
“Ada?”
__ADS_1
“Enggak.“
“Bener nih.“
“Hooh.” Lalan meyakinkan. Sebab dalam pandangannya yang sangat liar itu, sama sekali tak nampak mahluk mengerikan yang sebelumnya mereka sangat hindari itu. Dan yang jelas sangat berharap tak usah bertemu-temu lagi, untuk saat itu hingga waktu akhir mereka keluar dari ruang mengenaskan ini. “Tuh kalau nggak percaya lihat sendiri.“
Setelah yakin. Mereka melangkah pelan.
__ADS_1