Cakar Seram

Cakar Seram
Episode 123


__ADS_3

“Ayo, aku buka pintunya.“


Aqi mendorong pintu dengan kuat. Supaya si Lilin melewatinya. Nanti kalau sudah berada di dalam, maka dia akan ikut bersamanya. Serta kalau sempat bakalan mengganjal pintu tersebut, sehingga para musuh yang mengejar tak akan mudah mendapatkannya akibat pintu telah terganjal dari dalam.


“Waduh gawat.“


Lilin terus mengeluh. Dia tak kuasa sudah kalau mesti berhadapan dengan musuh yang nampak semakin liar dan beringas, tentu saja dengan kekuatan yang semakin berlipat ganda, kala mengetahui musuh hampir tertangkap, serta berbagai kekecewaan yang diperoleh selama mereka berusaha menangkap mereka sebagai buruan di lokasi mereka sendiri serta tak bisa dilakukan dengan mudah. Itu barangkali yang membuat tenaga mereka semakin berlipat ganda saja.


“Cepat menghindar.”


Hanya itu kata-kata tanpa perbuatan. Karena untuk melakukannya sungguh sangat sulit. Sudah berbagai cara dilakukan tetap tak berhasil. Tentunya hingga saat ini yang membuat mereka menjadi marah saja kalau menyaksikan buruannya sudah di depan mata begitu.

__ADS_1


Aqi sedikit menyeret. Lilin hanya diam saja. Dia mengikuti. Walau sakit itu masih terasa. Dipaksakan juga untuk tetap melangkah. Daripada tertangkap, tentu akan semakin membuatnya menderita.


Andai tak semakin parah, bisa saja nyawa melayang kala berada dalam penahanan, serta berada dalam tekanan yang tak sewajarnya oleh musuh. Baik itu mendapat makanan yang tak layak, maupun pemberian dari mereka yang tak paham akan keperluan perutnya yang tentu saja berlainan dengan mereka yang menyajikan masakan ala-ala para mahluk yang pastinya sangat menjijikkan dengan melihat tampang mereka yang sama sekali tak menunjukkan rasa simpatik itu.


“Hrr…”


“Wah…”


“Kita tak bisa berkutik sekarang.“


Semakin panik saja sekarang. Posisinya sangat mencemaskan. Para mahluk itu semakin dekat. Dan pada berdatangan seiring dengan tersudut-nya musuh dalam suatu dinding tebal yang tak bisa di tembus dengan mudah. Kecuali membawa peralatan. Semisal godam atau palu besar yang sanggup meruntuhkan dinding beton di belakang mereka itu. Itu juga masih membutuhkan tenaga sangat kuat sampai-sampai mereka melakukannya dengan tidak mudah.

__ADS_1


“Di kepung itu.“


Para mahluk itu terus berusaha mendekat. Mereka masing-masing sudah berada di depannya. Di balik pintu yang dirasa paling aman tersebut, nyatanya merupakan lokasi buat mereka menyergap mereka. Sungguh sesuatu yang sangat mengerikan. Dan untuk selanjutnya hanya bisa pasrah saja.


“Stt… Sini…“


Disaat genting itu, tahu-tahu ada suara yang membisik. Lirih, nyaris tak terdengar. Apalagi dalam ruangan yang sunyi senyap, jika tanpa ada mereka dan para mahluk.


Namun buat mereka yang tengah waspada, membuat berbagai gerakan sampai-sampai suara demikian saja mampu di tangkap oleh pendengaran mereka dengan di pandu oleh tatapan mereka yang rupanya langsung mengarah ke posisi sang adik yang lagi dalam kondisi bersembunyi dari tatapan para mahluk yang sangat liar dan demikian mengerikan tersebut.


“Eh, kau Lan,“ semua terkejut.

__ADS_1


Ternyata Lalan yang tengah menunggu mereka. Rupanya dia berhasil melepaskan diri dari kepungan musuh dan kali ini ingin mencoba kedua kakaknya itu supaya terbebas dari mereka yang terus dengan gencarnya mengintimidasi mereka.


__ADS_2