Cakar Seram

Cakar Seram
Episode 62


__ADS_3

Dengan hati-hati di buka nya pintu tersebut.


“Stt…“ Kembali mencoba menguak. Mesti pelan, dan hati-hati sekali. Supaya bisa membuka, namun jangan mengagetkan yang ada di dalam. Namun tak jadi. Begitu seterusnya. Tangannya Nampak sedikit membuka, namun kembali di Tarik. Takut masih terus mendera. Jangan-jangan. Itu yang terpikir. Jangan jangan memang mereka ada di dalam. Lalu main sergap. Dan berikutnya tentu akan membuat diri jatuh dalam pegangan dan tawanan mereka. Makanya untuk kesekian kalinya mesti hati-hati. Jangan sampai kejadian yang sudah-sudah akan mereka rasakan ulang. Itulah mengerikannya.


“Hah…“


“Ada apa?“ masih tanya. Dan tanya lagi. Bertanya-tanya. Memang kondisi tersebut terus saja membuat mereka mencekam. Sudah berada di lokasi aneh, sudah itu kejadian yang mereka alami terus saja penuh keanehan. Makanya membuat mereka tak berhenti berpikir. Kalau, kalau. Dan kalau itu terus yang menyudutkan mereka dalam suatu pemikiran yang tak pasti. Sekiranya kali ini benar, maka itu yang diinginkan. Kalau belum mesti mencari pintu yang lain, dimana menghubungkan antara ruang dan ruang lainnya yang menyimpan apa yang tengah mereka cari tersebut.


“Tak tahu. Belum terbuka semua.“


“Dorong dong. Pelan tapi.“ Sebab memang masih penuh kekhawatiran. Walau apa yang belum ada mestinya tak perlu di takutkan, nyatanya kali ini segalanya masih bersifat dugaan, untuk menghubungkan apa yang sesungguhnya terjadi. Serta hal itu memastikan mereka untuk melanjutkan masuk atau belum.


“Oke.“


Kembali perlahan di kuak. Pelan. Pelan-pelan sekali. Masih penuh dengan nuansa yang takut dan penuh keragu-raguan. Karena itulah sebabnya, segalanya masih belum bisa dipastikan. Serta dalam ruangan yang serba aneh dengan membandingkan banyak hal tentang kurangnya rasa percaya diri dengan banyaknya kejadian nihil yang sudah di peroleh akibat banyak ruang dan pintu yang sudah mereka masuki kenyataannya hanya kosong belaka, yang isinya hanya barang bekas, serta perkakas kotor tak berguna, itu yang membuat mereka kecewa. Dan beranggapan kalau pintu selebihnya juga akan sama saja seperti kondisi yang sudah-sudah. Makanya penuh kekacauan dan semu. Begitu yang ada dalam pikiran mereka kali ini.

__ADS_1


“Nah…“


“Nampak?“


“Belum.“


“Kok bilang nah.“


“Siapa tahu nampak.“ Rupanya apa yang diinginkan lagi-lagi belum kesampaian. Mana belum berani lagi. Sekali lagi akibat kurangnya keberanian guna mendapat apa yang dilihat itu. Jadi tak bisa melihat keseluruhannya. Yang jika ingin, maka semua hanya praduga serta dugaan itu belum tentu sesuai kenyataan. Walau terkadang segalanya mesti melakukan dugaan supaya untuk masuk lebih terarah, akibat segalanya memang belum di ketahui sepenuhnya.


“Coba dikit lagi.“


“Ya.“


Takutnya mahluk tadi tengah menunggu untuk mengagetkan mereka.

__ADS_1


“Nah itu dia,“ tunjuk Aqi. Barulah kini tampak. Setelah semua terlihat. Walau pintu tak sepenuhnya terbuka lebar, tapi apa yang di tengok sudah bisa dipastikan. Setelah dari awal selalu takut dan takut. Dengan membandingkan apa yang mereka lihat satu sosok sebelumnya yang nampaknya terlebih dulu masuk ke ruangan tersebut, namun belum kelihatan. Itu yang menambah rasa khawatirnya. Karena belum kelihatan itu. Jika sudah Nampak, baru akan merasa lega, tapi kali ini belum. Makanya penuh dengan nada khawatir. Tapi sekarang sudah jelas.


“Apa?“


Setelah pintu di buka, nampak satu hal mengerikan.


“Itu adikmu.“


Nampak seseorang di sana.


“Lalan.“


Namun hanya gumaman yang keluar dari padanya.


Hmm…

__ADS_1


__ADS_2