
Mereka kini lari kocar kacir. Yang semula tujuannya satu arah, yakni ke pintu lanjutan itu, karena dicegat serta di kejar, membuat tak jelas. Yang jelas ada daerah kosong dari ara mahluk tersebut, maka itu juga yang berikutnya akan mereka tuju.
Yang jelas secara pemikiran bisa membebaskan diri dari kepungan tersebut. Dan itu sudah merupakan langkah aman. Entah mengapa memang untuk kali ini rasanya semakin sulit saja. Para mahluk tersebut berdatangan. Dan seakan telah paham kalau mereka yang dikejar sudah berada dalam suatu lokasi yang kali ini tengah di kepung tersebut.
“Yah bagaimana ini?“
“Terus saja dulu.“
Dilanjutkan langkah demikian. Untuk bisa menghindari sergapan. Dari para pengepung yang jumlahnya tentu saja bakalan semakin banyak. Kini saja sudah demikian mengerikan.
Dengan perbandingan satu mereka, tenaganya akan lebih dari jumlah yang ada. Tentu saja dengan semakin banyak yang berdatangan, maka sudah bisa dikalikan berapa kalau mereka saling bahu membahu untuk melakukan penyergapan pada mereka.
Dan tentunya tambang butut yang sebelumnya berhasil menjerat leher mereka, kali ini tak bakalan ada artinya. Sebab kekuatan mereka akan semakin bertambah dahsyat saja dengan semakin merasa marah, akan perlawanan mereka yang dianggap telah melebihi batas dan berhasil melakukan suatu tindakan tanpa mereka bisa menghindarinya.
__ADS_1
Yang jelas mereka bakalan lebih waspada untuk tidak melakukan kesalahan yang sama dengan berada dalam jeratan musuh yang tengah di kejar. Jika terjadi dapat dibayangkan, pasti mereka akan segera lolos serta mereka bakalan gigit jari kembali sebab sudah bersusah payah dan mendapatkan satu, namun berikutnya akan kehilangan lagi tangkapan mereka ini.
“Kita berpikir sambal jalan.“
Ternyata semua sudah di cegat.
“Gawat, jumlahnya juga akan semakin banyak kalau begini,“ di situ juga sudah mulai sulit di hitung.
Ternyata mereka langsung kemari. Atau benar langkah mereka dalam mencari, serta menemukan di tempat seperti ini.
“Lan…“
Anak itu begitu ketakutan. Sehingga langkahnya demikian jauh. Tak memperhatikan kalau di belakangnya terpincang-pincang.
__ADS_1
“Sini Lan…“
Seakan tak dengar. Maklum dalam suasana panic. Jika tidak pun, andai tengah konsentrasi, maka suara yang Nampak keras menjadi hilang. Tidak terkecuali kala ini. Lalan sudah tak memikirkan apa-apa lagi.
Dia terus lari. Bagaimana bisa membebaskan diri dulu. Baru kemudian memikirkan untuk bersama lagi. Sebab kala itu juga lagi kalut. Dan sebisa mungkin terbebas.
Tanpa memperhatikan yang lain. Di pikirannya yang lainnya juga tengah berlari menjauh. Terbukti tak ada di dekatnya. Itu yang kini dia pikirkan makanya sebisa mungkin terus menjauhi para pengejar, serta menuju ke pintu yang kira-kira bisa membebaskan diri, dengan tanpa adanya para mahluk yang ada di tempat begitu.
Namun nahas, ada mahluk itu. Dia mencegat, seakan tak ingin membebaskannya nyaman barang sekejap saja. Dan terus saja berusaha menangkap dirinya, untuk kembali memasukkannya dalam satu ruang terkunci.
Kali ini nyata, jika tidak hanya si Lilin yang dikejar, namun siapa saja yang lengah, dan tertangkap, itu yang kemudian akan di sekap. Untuk selanjutnya bakalan di masukkan bersama-sama nantinya. Terutama setelah salah satu atau beberapa orang tertangkap, yang lain akan menyusul untuk masuk ke ruang isolasi.
Bisa berbarengan atau sendiri-sendiri. Tergantung mereka mempunyai ruangan nantinya, atau kemungkinan menjaga supaya tidak terbebas mereka-mereka ini.
__ADS_1
“Ah…”
Si mahluk mencoba menangkap.