Cakar Seram

Cakar Seram
Episode 132


__ADS_3

Lalan semangat. Mereka berdua membantu jalan si Lilin. Yang sesekali meringis-ringis juga. Apalagi jika halangannya berat. Maklum jalan hutan. Yang sedikit banyaknya penuh dengan rintangan. Itu untung jika tak banyak rumput berduri. Sebab tanaman itu sangat mudah tumbuh dan menjengkelkan. Bahkan sesaat setelah mati juga masih merepotkan. Karena durinya masih tajam. Bahkan akan cenderung lebih beracun daripada kala masih hijau daun.


Lumayan lama mereka menunggu.


Maklum jalan hutan


Sepi.


Juga jarang angkutan.


Sekarang sukanya pada kendaraan pribadi. Atau mencarter kendaraan untuk di gunakan sesuka hati. Sebab akan langsung tujuan, serta kembali juga sampai di depan rumah. Hal ini yang membuat suka. Serta tak terlampau banyak merepotkan diri sendiri. Serta buat pemilik kendaraan ada pemasukan akibat lumayan mahalnya jika menyewa satu kendaraan tersebut. Belum lagi kalau bawa barang banyak, maka tak perlu repot jika bakalan menghilang begitu saja akibat kelupaan. Kalaupun lu

__ADS_1


“Wah, kenapa berhenti?“ Pada celingukan. Tak tahu mengapa, tahu-tahu bus kecil itu berhenti. Masih dalam lokasi hutan. Dimana tempat tersebut sungguh sangat lebat. Hanya saja berada di tepi jalan. Jadi tak kentara kalau tempatnya memang penuh dengan pepohonan yang jarang di dapati kalau berada di sekitar rumah. Sebab memang lumayan tinggi-tinggi dan begitu menyeramkan kondisinya. Dan itu tak mengurangi niatan buat angkutan pedesaan ini untuk tetap menghentikan gerakannya. Dan disitu juga sesuatu terjadi.


“Eh Qi…“


“Ya?“


“Itu cewek yang di toko,“ ujar Lalan memastikan. Dia memang tak seberapa ingat. Sebab hanya sepintas kala menemui si wanita ramah yang langsung nyambung kala di ajak berbincang. Dan kali ini dalam situasi yang aneh tersebut, dirinya terlihat kembali. Walau tentu saja hanya samar. Tapi Lalan menghafalnya dengan sangat jelas.


“Emang iya apa?“ Aqi sendiri rada-rada pangling. Sebab walau dia sering ke toko tersebut untuk mengantar jemput barang dagangannya, akan tetapi kalau untuk memahami wanita penjaga yang terkadang ganti-ganti itu dia tak paham. Yang dia tahu pemiliknya yang merupakan langganan. Sebab baginya toko tersebut sudah menjadi bagian dari sesuatu yang merupakan kebutuhan dalam kesehariannya. Dan hal itu juga yang lumayan mencukupi kebutuhan keluarga kecil mereka. Apalagi buat anaknya yang masih kecil, sungguh merupakan sebuah kebutuhan sendiri untuk asupan gizi yang memang sangat di butuhkan buatnya sebagai masa pertumbuhan yang kelak bakalan menjadi sebuah tenaga besar kala tengah beranjak dewasa dan sekaligus menambah kekuatan untuk menghadapi kehidupannya yang juga sangat berat tersebut.


“Kok turun di hutan?“

__ADS_1


“Aku samperin ah…“


“Lan apa-apaan kau lan.“ Lilin teriak-teriak. Tak nyaman dengan yang lainnya. Makanya berusaha memberitahu si lalan kalau hal tersebut bisa sedikit memalukan keluarga dan lingkungan nantinya.


“Jangan lan.“ ujarnya lagi. “Malu-maluin nanti.“


“Ah biasa saja. “


Dia terus turun. Seakan tak memperdulikan kalau ada orang yang tengah memburunya untuk sekedar melihat wajah manisnya di balik penutup kepala itu.


Dan saat menoleh. Baru ketahuan.

__ADS_1


Muka itu mirip .


Lalan terkejut. Dia diam dan tak bisa berkata apa-apa.


__ADS_2