
“Nah pintu itu,“ kembali di tatapnya pintu aneh. Banyak. Sama. Bentukannya itu. Yang berarti kesemuanya itu hanyalah sesuatu yang layak untuk di tinggalkan.
Jika tidak bingung. Sebab dalam kondisi yang meragukan demikian serasa semuanya sama. Apalagi posisi yang kacau serta sangat menakutkan begitu yang kelihatannya sama Nampak beda.
Dan yang lain tersebut merupakan satu hal yang mestinya beda, namun dianggap sama. Akibat segalanya mirip. Dan dalam pandangan sekilas tak bisa membedakan sesuatu tersebut.
“Ah sama itu.“
“E, beda.“
“Mana beda?“ tetap saja nggak mau tahu. Kalau beda ya tetap beda.
__ADS_1
Sedangkan jika sama menganggap sama. Karena apa yang bukan satu berarti beda. Itu yang berikutnya membuat pemikiran kalau sesuatu yang membedakan hanya karena terlihat dari sosoknya yang memang lain. Akan tetapi dalam posisi demikian, hal beda itu suatu permasalahan yang lain. Tetap lain.
“Itu tadi di belakang. Yang ini ada di muka kita.“ Jelas saja semuanya ada di depan. Sebab yang tadi di muka juga kini ada di belakang.
Dan yang dibelakang sudah jadi ada di depan. Sementara di bagian kiri tentu saja yang kosong. Mungkin aman. Karena sisi itu yang tidak terhitung. Akibat membaliknya tubuh. Membalik karena ketakutan sehingga bisa di bilang dalam kondisi demikian akan membuat kebingungan sendiri, serta tak akan sanggup untuk menentukan mana depan mana belakang.
Yang akhirnya hanya berkutat pada lokasi yang sama secara berulang-ulang. Bahkan kalau bisa dibilang hanya sebagai kobeng atau hilang pemikiran normal.
“Berarti kembar.“ Yang berbeda belum tentu sama. Yang sama pasti ada perbedaan. Bila itu dua benda yang lain.
Maka tak ada gading yang tak retak. Tak ada benda yang tidak memiliki perbedaan. Karena semua di buat biar bisa diidentifikasi. Serta akan menjadi sesuatu yang lain bisa segalanya merupakan perbedaan. Beda kalau hal itu sama saja. Terpantul pada sebuah benda. Meskipun begitu tetap ada perbedaan. Karena bayangan akan berkebalikan. Sebab yang dipantulkan serupa dan sama namun berbeda posisi.
__ADS_1
Akibat segalanya merupakan sebuah pantulan cahaya yang menerpa benda saja. Pada sebuah kaca. Kalau sekarang. Sebab masa dahulu, sebelum ada kaca, cermin terbuat dari benda yang memantul saja. Dengan bentuk yang lebih bagus, lebih seni, tapi menghasilkan sebuah yang tak jernih. Itulah akhirnya terbentuk kaca. Dengan bagian sebaliknya yang di lekat benda tak tembus, membuat bentukan bayangan semakin nyata sebagai bagian dari diri yang nyata. Hanya terbalik posisinya.
Karena pantulan itu negative. Dan jika sama tepat, maka akan terbalik. Untuk berikutnya di putar lagi sebagai lensa pembalik. Yang menghasilkan gambar nyata dengan posisi yang sama.
“Berarti beda lah.“ Tentunya. Sebab benda yang Nampak sama itu tertinggal di belakang.
Dan akan sama kembali kalau di depan itu muncul mahluk mengerikan kemudian membuat mereka terpaksa membalik dan melewati pintu tadi. Ini baru sama. Serta membuat tidak bisa dibedakan akibat posisi yang terus menerus diburu leh rasa ngeri tadi.
“Ya masuk.“
Mereka membuka.
__ADS_1
Terus menuju ke dalamnya. Dan tak perlu bicara lagi langsung masuk.