
“Aku belum lepas ini.“
“Ih.“
Ternyata, Tarikan tersebut tetap kacau. Tak bisa langsung melepaskannya. Namun yang punya cakar itu tetap saja mengikuti. Sehingga tertangkap lagi.
“Coba kau tepis lagi kayak tadi.“
Diajari hal itu. Sesuatu yang belum lama terjadi. Dan sebagaiman mungkin supaya bisa mengulangnya dan dengan sendirinya dapat dengan mudah bebas lepas, sehingga nanti akan dilanjutkan sebuah petualangan baru, yakni lari-larian lagi seperti dulu kala, saat akhirnya bisa bebas dari cengkeraman para mahluk.
Walau akhirnya di buru hingga rumah, mungkin akan melakukan pagar gaib yang sangat hebat, dari orang yang pintar akan hal-hal menyeramkan tadi, sehingga pagar gaibnya sulit di tembus oleh mahluk yang punya kelebihan untuk mendeteksi sampai ke rumah sekalipun.
“Kayak tadi?“
__ADS_1
Bingung juga Lalan mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Dimana berulang kali lepas, namun di tangkap lagi. Berusaha kembali, namun menjadi perburuan yang lebih panjang juga. Inilah sulitnya kalau berada di lokasi yang tak menentu, bahkan bisa di bilang ini lokasi dimana mereka berkuasa.
Yang seluk beluknya sudah di kenali dengan hafal. Sehingga untuk melepaskan kembali sangat kesulitan. Bahkan untuk menerobos selaput batasannya antara dua dimensi itu sungguh-sungguh suatu yang sangat sulit.
Bukan suatu pemikiran yang dilebih-lebihkan, namun adanya demikian yang menjadikan tak ada beda antara menginginkan ke satu sisi ke suatu sisi yang berbeda sangat kesulitan.
“Iyalah.“
Lalan hanya menurut. Di coba dan sekali lagi berusaha. Dengan mengadu kekuatan pastinya. Satu mempertahankan, dan yang lain berusaha melepaskan sampai memuntir tidak jelas.
“Melintir kalau perlu.“
Mereka terus berusaha mencari cara supaya bisa terlepas dari para mahluk yang menyeramkan tersebut. Tentu saja sulit. Tapi bagaimana lagi.
__ADS_1
Ini pilihan terakhir. Dengan pertimbangan juga jika tertangkap akan terus di seret dan di bawa ke lokasi lain yang tak jelas bagaimana menemukannya. Bahkan berikutnya akan menjadi bencana yang lebih panjang lagi.
“Sakit dong.“
Bagaimana tidak sakit. Kena. Kalau dapat makan baru tidak sakit. Namun kali ini apa yang sangat memberatkan serta menjengkelkan. Dan selanjutnya bakalan jadi suatu hal yang tak bisa dianggap remeh.
Berada dalam cengkeraman mereka adalah suatu kengerian. Untuk itu jangan sampai terjadi. Kalau sudah terjadi bagaimana caranya supaya bisa lepas. Dan berikutnya membiarkan segalanya berlalu.
Bahkan untuk pikiran sekalipun. Mesti di buang dan tak usah di ingat-ingat lagi. Nantinya akan sirna dengan sendirinya. Walau suatu peristiwa, tak bisa di sama ratakan dalam proses penghapusannya.
Bisa sekejap, atau sangat lama sekali, ibarat kata sampai liang lahat tetap saja masih ingat. Dan itu suatu hal yang tak baik, tapi jika suatu kenyataan sudah membekas, maka berikutnya akan sangat sulit melalaikannya. Bahkan ada yang mendekati trauma yang tak akan hilang.
“Daripada tertangkap.“
__ADS_1
Dicobanya. Tetap sulit. Tak semudah membalik telapak tangan. Tentunya. Karena selain kuat, dengan cakar seramnya itu bisa saja merobek sisi luar dari kulit ari yang tipis. Jangankan oleh cakar yang begitu menyeramkan. Kena silet yang tipis juga sudah robek. Makanya mesti berhati-hati dalam menjaganya.