Cakar Seram

Cakar Seram
Episode 105


__ADS_3

“Sebentar. Kesakitan aku,“ ujar Lilin. Dia terdiam. Untuk bergerak semakin parah. Melanjutkan juga tak bagus. Rasanya ingin istirahat terus saja. Setidaknya sampai rasa sakit yang tengah dia derita berangsur menurun atau lebih jauh lagi bisa tersembuhkan sama sekali dan segala rasa yang menyiksa itu hilang dengan tuntas. Pasti langkah berikutnya akan terasa sangat nyaman.


“Oke, kita berhenti dulu.“


Dilepaskan pegangan. Lilin terduduk di lantai. Menggelosor pelan. Kakinya terjulur lurus. Hal ini mengurangi rasa sakitnya. Nikmat agi sebenarnya jika di tumpangi pada tempat yang sejajar dengan duduknya. Seakan posisi darahnya seimbang. Jadi rasa sakit sedikit menurun. Maklumlah luka yang baru dan belum bisa banyak di gerakkan.

__ADS_1


“Mumpung sepi.“ Sembari melihat sekeliling tempat tersebut. Nampak pandangannya masih sangat terbatas. Selain terhalang oleh dinding kusam ruangan tersebut, juga sedikit kabut yang menghalangi tatapan jauhnya. Membuat apapun dalam situ menjadi sedikit runyam, tentunya menambah suasana keangkeran dan runyamnya suasana.


Lalu ujar Lalan, “Bagaimana pakai kursi?“


“Memang ada?“ ujar Lilin tak yakin. Mengingat semenjak dia jatuh tadi tak melihat ada apapun kursi yang empuk atau bahkan kursi goyang yang bergoyang-goyang mengiringi detak langkah kaki mereka yang terus bergerak menghindari sergapan musuh yang demikian mengerikan tersebut.

__ADS_1


“Wah, kalau sampai kaki kursinya patah, ikut patah juga kakiku,“ ujar Lilin membayangkan jika patah, maka tubuhnya akan terantuk di lantai, dengan rasa sakit yang tak terbayangkan, juga kakinya yang bakalan jadi semakin tak terurus. Bahkan ada kemungkinan akan semakin membengkak saja nantinya. Ini yang patut di waspadai. Sehingga selain sulit sembuhnya nanti bisa jadi malahan bertambah parah dengan bakteri mengerikan ikut juga menggerogoti luka tersebut.


“Hooh…“


“Mesti hati-hati. Melihat di sini banyak perabotan yang jelek.“ Lihat saja sekeliling itu. Nampak berserakan. Andai dikumpulkan, lalu di buat api unggun, asti sangat besar dan demikian hangat sampai keringatan yang menyehatkan. Tapi semuanya seakan dibiarkan terbengkalai, dan dalam tempat itu rasanya tak ada tukang bersih-bersih yang sanggup membersihkan apapun dalam tempat itu dan membiarkannya berserakan untuk semakin mempersulit langkah gerak orang-orang yang melarikan diri serta menginginkan bebas lepas dari kejaran para petugas keamanan lingkungan tempat berkabut tadi.

__ADS_1


“Iya, aku hantamkan ke mahluk saja, hancur kayunya,“ ujar Aqi yang membayangkan jika dirinya yang terkena pentungan maling, pasti dia bakalan kliyengan. Tapi si mahluk sebaliknya. Dia seakan tak merasakan apapun, bahkan bisa tertawa dengan lebar, sangat lebar dan lebar sekali. Ini sungguh-sungguh sesuatu yang sangat mengerikan. Jadi seakan tak ada senjata yang mampu melukainya, terutama kayu-kayu keras yang ada dalam dunia lembab tersebut.


“Itu sih karena makhluknya juga sakti,“ ujar Lalan sangat yakin. Ini terbukti dengan di culiknya dia yang sangat perkasa, juga kakaknya yang kakinya sampai menderita begitu, sehingga apa yang dirasakan tentu tidak karuan dan sangat disayangkan tentunya. “Ini membuat apa yang mengenainya bakalan remuk. Dan itu pantas di maklumi. “


__ADS_2