
“Hanya sepinya yang aneh.“
“Hooh. “
Dulu juga sepi. Mencekam. Tak sekalipun melihat mahluk tersebut. Kayaknya seusai pasewakan. Dan sekarang mengulang hal yang sama.
“Tapi barangkali disana.“
“Dimana?“
__ADS_1
“Di suatu tempat.“
“Yang?“
“Untuk istirahat semua.“
“Kan kalau habis menghadap bakalan capek.“ lalu terbayang bagaimana mereka menghadap dalam posisi duduk bersila. Menghadap ke suatu titik. Serta tak yakin boleh mengalhkan pandangan ke yang lainnya. Akibat situasinya mesti begitu. Dalam suatu keheningan. Dan jika tak ditanya akan selalu diam sampai akhir acara. Dengan duduk yang seakan membuat pinggang sakit, dan encok kumat. Akan tetapi posisi itu sedikit berubah dengan pura-pura berbicara. Yang tentunya mencari kesempatan demikian akan sulit. Selain penguasa yang menyuruh. Untuk melaporkan sesuatu. Juga guna bisa gerak sedikit. Serta saling memahami perkembangan yang terjadi diantara dunia mereka yang sunyi dengan di balik kekuatan dunia yang membutuhkan berbagai pengetahuan hebat dalam menguasainya.
“Barangkali demikian.“ Ya hanya saling menduga. Sebab tak ada yang tahu pasti, jika belum mengalami sendiri. Mereka tak mengalami. Kali ini juga hanya kebetulan. Walau mengalami. Itu hanya sebagian kecil dari segala misteri besar yang tak bisa diukur kebaikannya tersebut. Inginnya terus menguak apa yang tak di pahami, namun hanya sebagian kecil begitu saja sudah ketakutan setengah mati. Apalagi bila ingin menguak lebih dalam, pasti akan lebih sulit lagi.
__ADS_1
“Ah itu kan kalau kita. Mereka ya lain lah.“ Terbersit gambaran jika dunia mereka pasti berbeda. Dimana mereka masih butuh nasi. Tentunya di ala mini, akan dibutuhkan selain itu. Hanya dengan sesajian, bunga tujuh rupa, kemenyan yang wangi dengan aroma yang membumbung tinggi untuk meliuk dan masuk ke dunia mereka yang penuh asap, serta mantra-mantra misterius yang akhirnya tercipta suasana magis guna mengisi dunia lain yang memang penuh misteri tersebut. Dan yang jelas kesemuanya itu tak ada hubungannya dengan kebutuhan duniawi yang serba hilang dalam sekejap sesuai dengan waktu yang terus merambat dalam putarannya yang jelas.
“Hah…“
“Mereka kan tak kenal capek,“ ujar Lalan. Dia yakin. Karena seringkali dia berbenturan dengan kekuatan tersebut. Dimana akhirnya harus berada dalam tempat itu, serta menjadikannya antara ada dan tiada. Serta selalu di seret dengan kekuatan hebat yang dikeluarkan si mahluk tersebut. Serta menjadikannya tawanan dalam dimensi yang misterius ini.
“Tidur saja belum tentu.“ Pikiran mereka. Sebab mungkin mereka sepanjang waktu tak butuh ngaso. Akibat dari sulitnya membedakan antara siang dan malam. Yang ada hanya situasi aneh demikian. Yang menggambarkan kalau sebenarnya mereka mahluk abadi. Serta tak mengenal kata istirahat.
“Orang siluman.“ Siluman kan tidak tidur. Berjaga sepanjang waktu. Sesuai dengan kinerja mereka di posisinya. Barangkali. Sebab kondisi ini yang sering di dengar. Akan tetapi tak pernah sekalipun mengalami sendiri. Makanya segalanya hanya berdasarkan katanya. Itu yang membuat banyak orang tentu akan ragu. Dan mempercayai seseorang yang drasa pernah kea lam tersebut hanya untuk bercerita keanehan yang dialami dengan kondisi yang jauh berbeda dengan di dunia nyata. Makanya akan terdapat perselisihan yang akhirnya terjadi.
__ADS_1
“Ya kali istirahat.“ Tetap yakin jika mereka juga melakukan itu. Namanya juga hidup. Walau tak bisa disejajarkan pemahamannya akan hidup dalam dunia nyata dengan hidup di suatu lorong misteri demikian yang sulit di cari keletakannya.