Cakar Seram

Cakar Seram
Episode 97


__ADS_3

“Si…. “


“Apa?“


“Depan itu, lihat…“


Tercengang mereka. Apa yang membuat gembira tadi. Seakan lenyap. Begitu menatap ke muka. Disana sudah terlihat kembali. Mahluk dengan wujud mengerikan. Manusia berkepala serigala. Buas tentu saja. Bahkan Nampak air liurnya mulai menetes. Siapapun pasti takut kalau menatap demikian. Belum lagi cahaya temaram yang seakan menyorot kengerian itu.


“Waduh…“ tentu saja Cuma bisa mengeluh.


Dimana acara lain jelas tak bisa. Kesulitan. Mau apa-apa sekarang jadi serba sulit. Untuk menghindar tak bisa. Menghadapi tak berani. Tetapi mereka begitu saja merintangi di jalan tersebut. Yang membuat semuanya jadi serba sulit.

__ADS_1


“Kan apa gua bilang,“ ujar Lilin.


Dia sudah yakin kalau semua itu bukan suatu akhir. Setidaknya sebelum meninggalkan tempat mengerikan itu. Nyatanya belum sampai tumbuh daun rasanya dalam bicara, sudah langsung Nampak saja orang-orang mengerikan itu di hadapan.


“Dia begitu mudah berpindah tempat.“


Karena pikirnya sebelum itu dia masih tertinggal di belakang. Tetapi kali ini ada di situ. Suatu tempat yang berbeda jauh. Antara muka dan belakang. Yang kini di tempatnya. Maka tak heran jika mereka menyangka si mahluk berpindah sangat cepat.


“Dan kali ini sudah di depan kita.“


“Dia menghadang.“

__ADS_1


Bagaimana tidak, orang pintunya Cuma satu itu. Selebihnya berada pada sisi masuk. Yang jelas telah di lewati, dan itu sudah diketahui, bahwa di sisi sana sudah jelas terdapat mahluk yang kali ini ada di depannya.


Maka kalau kembali ke sana, bakalan bertemu lagi, serta kesempatan untuk lepas tentu saja sangat kecil. Sekecil hati mereka kini akibat rasa takut yang sangat hebat serta sulit di jelaskan dengan kata-kata. Bagaimana tidak kalau terus saja dihantui serta di buru oleh mahluk mengerikan tersebut maka.


Akan lebih baik untuk diam diri saja di rumah. Andai ada pilihan tersebut nyatanya kali ini yang ada hanya mahluk tersebut. Serta ruangan dingin dan lembab, serta penuh dengan kabut pekat yang seakan tak sirna. Itu yang kali ini dihadapi.


Tak ada pilihan lain. Sehingga mesti berusaha sendiri semaksimal mungkin supaya bisa menghindari sergapan mereka, serta keluar, dan menjangkau rumah kembali guna berkumpul dengan sanak saudara yang telah cemas menanti kabar dari mereka tentang bagaimana dan mengapa segalanya bisa terjadi itu.


“Mungkin saja nanti bakal menangkap kita kembali.“


Sudah jelas. Pemikiran itu selalu terbayang di depan mereka. Tapi kalau melihat gelagat yang seperti semula, maka tak ada kata lain jika hal tersebut sudah pasti bakalan mereka lakukan. Baik secara paksa atau baik-baik saja.

__ADS_1


Namun kelihatannya jika baik-baik saja tak mungkin andai melihat situasi yang sama seperti semula, yang dengan enggan menolak untuk di tangkap. Sementara, mereka semua, mahluk-mahluk itu, akan terus memaksa mereka guna mendapatkan buruan yang menyenangkan itu. Dimana orang-orang pada suka memburu binatang hutan yang liar, tapi kali ini justru mereka yang lagi di buru untuk di tangkap oleh mahluk sangat kuat dan menyeramkan seperti apa yang kali ini Nampak di hadapan mereka itu.


__ADS_2