
”Pintu lagi.” Tidak heran jika benda itu yang selalu di temukan. Tetapi bagi lalan sedikit beda. Sebab dia merasa tak melewati hal demikian. Walau sebelum itu, saat dengan Aqi doang, dia juga pernah mengalami hal serupa. Namun merasa telah lama, sehingga sedikit lupa dengan hal demikian. Dia hanya merasa baru melewati beberapa saja sepanjang hari itu.
”Iyalah pintu terus.”
”Tapi benar, ini jalan kita ya?”
”Benar orang nggak ada jalan lain kok,” kata Lilin dengan yakin. Sejauh itu mereka merasa hanya jalan ini saja yang dilewati, dengan mengesampingkan kalau mereka melalui jalan lain yang tak nampak.
__ADS_1
”Baiklah. ”
“Benar lo ya, nanti kalau aku di luar di beri makan yang enak,“ ujar Lalan masih mengingat urusan perut yang semakin lama semakin tak nyaman di rasa. Ini terasa seakan melilit saja. Enak kalau di rumah, merasakan hal serupa akan langsung ke dapur dan mendapati makanan emak. Walau demikian saja dengan apa yang seadanya juga, tetapi tidak merasa samai demikian. Benar-benar siksaan alami yang terasa karena sesuatu ini. Lain waktu tentu tak ingin dia mengalami hal serupa. Kalau mahluk itu datang dan hendak memaksanya, dia akan menari penangkal. Baik sama dukun yang ahli, sampai penyanyi yang biasa main jaran goyang tersebut. Yang jelas mesti ada ilmu yang bisa menandingi kemampuan si mahluk dalam seret menyeret itu.
“Iya beres,“ ujar kakak nya sekedar memberi pengharapan, agar segera menjauh dari situ. Sebab tidak enak rasanya selalu di ruangan mengerikan. Yang hanya akan membuat sedih di rasa. Juga akan menambah semakin kangen dengan suasana rumah, lingkungan juga makanan yang menggugah selera. Dan dengan demikian, makanan yang teringat tadi akan semakin membuat rasa lapar. Itu juga yang kemudian akan menggugah semangat untuk terus melangkah.
“Nanti asal ketemu warung langsung kita beli makan.“ Begitu harapannya. Jadi badan akan tetap terjaga kesehatannya, juga selalu merasa kuat untuk terus melangkah hingga rumah. Begitu juga kenangan di sini, tentunya akan terus di hilangkan dari ingatan sehingga tak akan merasa takut demi sesuatu yang menyeramkan di luar sana. Yang kali ini tak nampak itu.
__ADS_1
“Alah warung di hutan paling dengan mendoan saja.“
“Ya kan lumayan terisi. “
“Oke.“
Mencoba lebih bersemangat untuk menjangkau lokasi tersebut dengan pintu yang nampak sama saja dalam suatu keremangan dengan kabut aneh yang terus ada, walau terkadang tebal, kadangkala hanya sedikit saja, sesuai dengan zat gas yang mengembang dan tak merata di setiap ruangannya. Hingga tiap berada dalam lokasi tertentu akan menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Atau luas tidaknya suatu tersebut bakalan membuat kabut menyebar memenuhi ruangan itu.
__ADS_1