Cakar Seram

Cakar Seram
Episode 106


__ADS_3

“Bagaimana ini…“


Mereka mengeluh. Menata nafas. Berikutnya terus berusaha. Apa yang kali ini dipikirkan masih terasa buntu. Kembali teringat jika masih berada di lokasi kekuasaan mereka. Maunya ingin segera keluar, untuk menjauhinya. Dan enggan kembali lagi.


Tapi mau bagaimana lagi, apa yang diinginkan sampai sekarang belum juga terpenuhi. Bahkan menambah luka baru buat kelompok kecil mereka. Sehingga satu kesempatan demikian saja sudah merasa sangat senang. Nafas bisa sedikit lega.


Dengan membayangkan jika pengejaran tersebut terus dilakukan musuh, maka akan semakin sulit saja apa yang menjadi tujuan mereka. Dalam kondisi sehat seperti sebelumnya saja membebaskan diri sudah sangat sulit, apalagi kali ini dengan banyak cedera yang dialami mereka, maka akan semakin berat perjuangan tersebut.


“Tambah berat perjalanan kita.“

__ADS_1


“Iya, pintu itu semakin sulit di temukan.“


Mestinya ada di ujung seberang. Karena itu tujuan yang belum terjadi. Dan pemikiran mereka dari sebelumnya di lokasi yang luas menuju ke mari, pada balik pintu ini, nyatanya semua masih serba membingungkan.


Dimana masih banyak pintu-pintu lain yang harus di kuak. dan di sana belum tentu merupakan akhir dari perjuangan panjang yang seakan taka da jalan keluarnya.


Lebih jauh lagi mesti memperhatikan jika si mahluk tiba-tiba muncul, berada di sekitar mereka, lalu melakukan tindakan tak menyenangkannya, maka akan semakin membuat pemikiran yang memberatkan bagi mereka yang berada dalam kondisi sedang tak bagus ini.


Bagaimana tidak seakan, kalau di semua lokasi yang ada hanya pintu dan pintu. Itu belum termasuk lokasi yang tidak mereka lalui, tentu akan semakin banyak pintu-pintu yang lain. Ya kalau bagus, kalau engselnya pada rusak, ini yang payah.

__ADS_1


Sudah membukanya sulit, menutupnya apalagi, sehingga memudahkan para mahluk yang memburu mereka itu akan langsung mengenai mereka, dan bergegas menangkap untuk menjadikan mereka sebagai bahan pengejaran yang berakhir dengan kondisi tertangkap tersebut.


Maklumlah banyak sekali pintu yang ada. Sehingga pembangunannya juga dilakukan secara serampangan. Apalagi si tukang belum tentu berkepribadian bagus. Bisa saja dia mudah ngambek.


Jadi akan marah andai batinnya tersentuh. Maka akan langsung meludah dengan sembarangan, atau melakukan gerakan tak sedap, kalau melihat si orang yang tak disukai itu. Padahal dia sendiri tak demikian sedap. Namun batin orang berbeda-beda. Apa yang nampak di kejauhan seperti semut, namun gajah yang ada di pelupuk mata itu tak Nampak. Dia bagaikan seperti itu saja.


Membuat orang lain buruk sementara dirinya tak merasa bersalah. Inilah akibatnya, membuat apa yang dibangun banyak menderita kerusakan, sedangkan barang yang dipakai demikian saja.


Dengan alasan terpentok pada anggaran, yang tak memperhatikan fungsi dari tempat tersebut apakah mau digunakan buat orang banyak, atau hanya stau mahluk saja. Jika hanya sendirian, barangkali kalau ada kerusakan akan melakukan segala sesuatunya dnegan hati-hati.

__ADS_1


Semisal membuka pintu, maka akan penuh perasaan, tapi jika banyak orang, maka tak bisa dilakukan demikian, kalaupun satu orang melakukan dengan lembut, maka sisi lain tak bisa diperlakukan sama, sebab banyak mahluk, maka banyak juga yang dipikirkan.


Belum lagi jika terburu-buru yang kemudian menjadikannya tidak lancar. Ini akan memaksa pintu itu terbuka dengan keras. Yang menimbulkan suara keras, serta mengagetkan orang lain, dan membuat tersiksa buat yang mendengar tersebut.


__ADS_2