
“Diam. Dia belum melihat kita.“
Saling memperingatkan. Dan saling tak bersuara. Yang satu mereka pastikan. Satu untuk diam. Untuk kemudian beringsut.
“Dekat.“ Jarak itu benar-benar sangat dekat serta tak bisa untuk di lewati demikian saja. Walau sebenarnya masih terasa panjang. Namun untuk kondisi demikian benar-benar menjadikan suatu yang sangat buruk karena lokasi nya yang memang tak begitu jauh. Apalagi dalam satu ruang. Yang bisa saja berbagai kemungkinan akan terjadi. Yang selanjutnya sudah bisa dibayangkan bila akan jadi bertambah mengerikan.
“Bahaya ini.” Bagaimana tidak bahaya kalau cakarnya saja begitu seram. Selain itu giginya benar-benar runcing. Juga terlihat sangat kuat. Yang bakalan sanggup untuk meremukkan tulang paling keras sekalipun. Dimana gigi sudah menjadi pengetahuan umum kalau memang paling mengerikan. Paling kuat diantara semua anggota tubuh. Setelahnya tentu saja tulang. Makanya kalau gigi di adu dengan tulang yang masih hidup, maka akan bisa terkoyak. Dan itu menjadikan tidak mengenakkan buat yang merasakannya.
__ADS_1
“Dia jelas akan melihat kita.“
“Makanya diam.“ Berjalanlah hanya dengan diam. Melangkah dalam diam. Supaya tidak terdengar siapapun. Langkah-langkah yang pasti bersuara. Apalagi dalam ruang demikian. Hening, senyap. Daun luruh juga seakan bersuara. Dan menjadi sangat keras kedengarannya. Apalagi langkah kaki mereka yang berdebum. Juga jika memakai alas kaki akan terdengar suaranya yang sangat nyaring. Hal inilah yang membuat kekhawatiran menjadi berlebihan. Kalau tidak memakai akan kesakitan dalam merambah tanah yang penuh dengan duri tajam. Tapi bila sedang begini inginnya tidak membawa apa-apa biar tak bersuara.
“Jangan sampai membuat mereka terkejut.“ Bagaimana tidak terkejut. Jika daun saja terdengar. Maka langkah kaki, walaupun itu hanya dengan jinjit, akan tetap kedengaran. Terutama saat melangkah. Atau kalau berpijak, meskipun hati-hati, namun berikutnya bakalan membuat kaki bergetar, serta persendian seakan lepas saja dan gemeletuk. Itu yang kemudian menjadi bencana. Akan langsung dikejar. Dan dijadikan santapan pagi yang menggairahkan. Bukankah lebih baik kalau enggak.
Mana sorot mata mahluk tersebut sangat menyeramkan, juga kemerahan. Dan pada sebuah waktu, dikala lebih gelap, akan lebih bisa memandang dalam kegelapan itu, yang sangat jelas dibandingkan dengan tatapan orang biasa yang cenderung rabun kalau sudah namanya hitam memenuhi daerah tersebut.
__ADS_1
“Ayo lekas pergi.“ Dicobanya melangkah. Menjauhi tempat dimana kali ini berdiri. Kalau tetap diam, mungkin tak akan ketahuan. Tapi jika melangkah akan langsung bersuara. Jika terus diam, lama-lama juga Nampak, namanya juga satu ruang, dimana suatu ketika musuh akan terus memandang satu sama lain.
Guna menuju ke lain lokasi, dan bila sorot matanya menumpu pada satu titik yang mencurigakan, maka sudah langsung bakalan curiga kalau orang itu yang tengah di buru. Makanya bagaimanapun tetap keliru. Dan melangkah meninggalkan lokasi tersebut dianggap satu-satunya cara paling tepat untuk bisa lebih menuju ke keselamatan yang tidak didapat dengan cara yang lain yang dirasa lebih membahayakan serta lebih mendekati nyawa yang di ujung tanduk.
“Bagaimana mau pergi kalau pintu juga di sana.“
Diamati lokasi yang hendak di tuju. Mahluk demikian ada di situ. Dan akan menghadang. Maka sudah tentu akan terasa sangat mengerikan. Yang jelas saja menjadikannya tak baik. Serta akan ngeri bila terus di rasakan.
__ADS_1