
“Bisa tidur kau?“ tanya Aqi.
“Mana bisa, tempatnya begitu,“ ujar Lilin. Tak perlu membersihkan tempat tidur, merapikan selimut, bahkan membalik bantal guling. Semua tak ada. Yang ada hanya tempat demikian saja yang terdiri dari tanah kotor dengan alas dedaunan se-ketemu-nya. Sukur ada daun pisang yang lebar, atau hanya daun-daun tanaman di sekitar situ dengan menyusunnya bertumpuk-tumpuk untuk memenuhi suatu lokasi tak demikian lebar yang pas di tubuh saja. Itu sudah sedikit nyaman di banding dengan tak ada alas apapun yang membuat tubuh sakit rasanya.
“Ya sudah hari siangan ini. kita lanjut ke lokasi yang di kasih tahu si peladang itu,“ ujar Aqi. Dia masih ingat betul bagaimana mesti menuju ke lokasi yang mesti di telusuri guna mendapatkan lokasi misterius dimana tempat dan sarang mahluk tersebut kalau ingin bertemu. Tentunya bukan hal mudah. Salah satu buktinya sampai sejauh ini belum ada tanda-tanda bisa menelusup masuk ke lokasi mereka. Kalau sudah ketemu tentu akan segera dengan cepat bisa mendapat apa yang tengah mereka ari selama ini, yaitu adik Lilin.
“Kemana kita nyarinya, orang kita sudah terlanjur menjauh dari peladang itu,“ ujar Lilin. Gegara mengejar mahluk yang tak jelas semalam. Membuat tidur juga asal tidur, lokasi juga demikian saja, sampai makan juga mesti mencari sendiri di dunia sunyi yang sulit segalanya.
__ADS_1
“Ya jalan saja dulu. Nanti juga ketemu,“ ujar Aqi. Sedikit siap rupanya setelah tadi tak sengaja menemukan daging buruan yang langsung main panggang dan menyantap nya. Sehingga si istri tak perlu ngomel terus. Dan minum tinggal seperti kemarin mengambil air di sumuran dangkal milik peladang. Dengan hanya memanasi sebentar sudah di minum. Layak enggaknya karena situasi demikian, mau bagaimana lagi.
“Kalau aku lapar lagi, kau carikan makan yang enak ya Qi.“
“Oke, tenang saja.“
“Bagaimana nggak nyuri, kalau minimarket dan pasar juga tak ada.“
__ADS_1
“Masa istri sendiri kau kasih barang begituan.“
“Ya kan adanya, kalau di rumah nanti aku kasih makanan pasar yang paling panas, baru masak.“ Di rumah sih jangan nanya. Apa-apa ada. Mulai dari makanan mahal sampai makanan yang asal petik dari kebun. Soalnya lokasi nya jelas. Juga mudah menuju ke arah itu. Makanya dengan cepat bisa menemukan apa yang tengah di cari. Beda tentunya dengan di sini yang selain sulit, letak tanaman juga mesti nyari. Dan adanya liar. Bisa jadi di rumah nanti tinggal beli masakan mahal, semisal ikan atau daging kaleng yang tinggal makan sudah bisa. Atau kalau ingin hangat tinggal memutar kenop kompor akan langsung mendapatkan makanan yang paling gurih. Serta jika ingin yang cepat saji lain nya, bisa mendatangi penjual yang paling hanya butuh lima menit langsung masak. Semisal burger atau roti bakar, yang semua langsung bisa di nikmati. Bahkan terkadang semisal martabak sudah ada yang matang. Tinggal main potong akan bisa langsung dibawa, dinikmati serta menjadi gizi yang demikian di butuhkan tubuh. Atau bila ingin langsung di makan maka tinggal pegang saja kemudian akan di telan langsung. Dan itu sudah beres.
“Sudah jangan cerewet jalan saja.“
Keduanya meninggalkan tempat tersebut. Dan menuju ke lokasi tak jelas yang hanya berdasar keterangan orang saja.
__ADS_1