Cakar Seram

Cakar Seram
Episode 41


__ADS_3

“Bagaimana Qi, masih jauh?“ tanya Lilin yang sudah capek serta biar tak terlampau sunyi. Bagaimanapun daerah itu hutan. Tak ada siapa-siapa, selain lelaki ini yang kali ini bisa di ajak mengobrol. Kalau taka da, atau jalan sendirian sudah bisa dibayangkan bagaimana rasanya untuk terus sepi dan tak tertutup kemungkinan kalau bakal timbul rasa ngeri yang tiba-tiba datang. Apalagi kalau melihat berbagai keanehan hutan yang jarang di lihat. Dalam kondisi tak normal, pasti akan timbul pikiran aneh yang bisa saja membuat suatu hal yang sebenarnya biasa saja itu akan jadi tampak menakut kan.


“Entahlah, aku juga hanya meraba-raba saja,“ ujar Aqi. Memang dia tak pernah lewat hutan itu. Walau sebenarnya dari kampong halaman nya tak terlampau jauh. Tapi untuk ke situ seakan hampir tak pernah lewat. Karena memang taka da hubungan serta keinginan ke daerah tersebut jadi untuk apa lagi. Terkecuali kalau ada keperluan, misalnya mau menggarap tanah tersebut, atau sekedar ingin mengambil kayunya,. Maka mau tak mau mesti kesitu. Sebab ini tanah aneh. Yang dikelola perhutani dan pemiliknya tak jelas. Serta kemana kayu itu pergi juga tak tahu dengan pasti. Makanya biasanya pengelola daerah tersebut yang banyak tahu akan seluk beluk lahan yang di garap nya.


“Bagaimana sih?“ ujar Lilin bingung juga kalau terus langkah mereka tak pasti begini. Mau melangkah terus, masih salah, tak meneruskan juga bertambah salah. Akibat akan semakin lama mereka tak bisa bertemu apa yang tengah di cari. Ini yang nantinya akan menimbulkan keraguan. Sehingga keinginan untuk kembali jadi sangat besar. Sementara di sisi lain, pada diri yang tengah menjadi korban sepertinya kemungkinan itu suatu hal yang sangat di harapkan. Bantuan bagaimana dia bisa keluar dari sana. Sebab dirasa menderitanya di negeri orang yang sangat berbeda dengan dunia nya. Terlebih lagi bergaul dengan mahluk aneh yang di lihat saja sudah mengerikan, dan di pikirkan juga tak ketemu. Makanya terasa sangat menakutkan jika terus bersama nya.

__ADS_1


“Ya terus saja jalan, sembari menunggu orang lain ada yang lewat,“ ujar Aqi memberi pengharapan. Tentunya jika ada yang lewat bakalan bisa dimintai keterangan lagi sebagai tambahan dari hasil keterangan orang sebelumnya. Alias melengkapi data yang sudah ada.


“Ini siang kan?“ ujar Lilin. Matahari memang nampak, namun suasana sangat sunyi. Itu yang menambah keanehan bagi dia. Sehingga antara siang dan malam sepertinya taka da bedanya. Hanya warna saja yang menunjukkan hal itu. Tapi suasana tetap sama, begitu, sangat mengerikan. Dan sangat mencemaskan. Apalagi jika sendiri. Bisa dibayangkan. Betapa ngeri dan membingungkan nya. Sedangkan untuk meminta bantuan yang sering kali muncul jelas tak mungkin. Dan kembali hal ini membuat dia ingin kembali saja ke rumah melakukan aktivitas seperti biasa yang sudah barang tentu menjadi hal biasa yang telah menjadi keseharian nya dalam mencari nafkah hidup membantu suami mendapatkan rejeki sebagai nafkah keluarga.


“Iya, biasanya ada yang lewat. Kalau tidak ke ladang patok itu, mereka juga ada yang cuma repek, mencari kayu bakar, atau malah cuma melintas saja hendak ke kampung seberang hutan,“ ujar Aqi. Namun semenjak tadi tak Nampak satu orang pun yang di temui. Biasanya kalau dari desa, padahal beberapa orang sudah berangkat selepas subuh. Biasanya orang-orang yang jago ke hutan itu berlaku demikian. Sehingga misalkan mencari kayu bakar, maka mereka sudah mendapat hasil di waktu yang masih pagi juga. Serta tak merasa kepanasan kalau tengah puang serta membawa beban berat di punggung nya. Berbeda dengan jika berangkat siang, maka akan merasa kepayahan saat membawa kayu bakar yang sudah di potong maupun di belah-belah itu. Karena cuaca sangat panas. Jangankan sambal membawa barang. Melangkah saja seakan sudah sangat sulit. Itu yang membuat mereka mesti jalan sangat pagi.

__ADS_1


“Entahlah, kali masih pagi,“ jawab Aqi yang juga merasakan hal yang sama. Namun semua hanya berkutat pada sekedar saja. Akibat jawaban lebih jauh tak ada yang bisa mengeluarkannya. Sehingga Cuma menggumpal dalam pemikiran mereka masing-masing. Sehingga kemudian timbul berbagai kesimpulan yang di buat diri sendiri. Apakah mereka tersesat. Sehingga semestinya berada di jalur yang biasa di lewati orang, namun karena menyimpang membuat tak menemui nya. Atau memang daerah tersebut memang sengaja di hindari orang, makanya orang yang sebetulnya ingin ke situ namun begitu mendengar akan sesuatu yang mesti dihindari membuat tidak jadi melakukan nya. Sehingga untuk kondisi ini yang membuat mereka tak berjumpa dengan orang yang membutuhkan bantuan mereka kali ini.


“Belum nampak orang juga ya Qi,“ ujar Lilin. Waktu memang masih pagi. Namun langkah mereka juga sudah dirasa cukup jauh. Mengingat tenaga mereka seakan terus terkuras. Ini berarti memang sudah lumayan dalam berjalan selama ini.


“Iya. Ya sudah terus jalan saja, siapa tahu di depan nanti, atau di kelokan di balik pohon besar itu, bakalan kita temui apa yang kita harapkan,“ ujar Aqi. Namun ini hutan. Banyak pohon besar. Dan tak diketahui mana pohon yang angker maupun yang biasa saja. Sebab menurut kisah orang pohon – pohon besar kebanyakan angker. Atau bisa di bilang kalau ada pohon besar itu angker. Sebab untuk pohon itu sendiri, untuk menjadi besar bakalan membutuhkan waktu panjang. Dimana tak setiap pohon bisa menjadi besar. Makanya akan di blang jika ada pohon besar, disitu keangkeran terjadi, sebagai rumah mahluk halus, atau mahluk di dunia lain yang lewat pohon itu akan menjadi portal misterius menuju ke lokasi yang misterius juga. Sehingga seringkali di sebut jika pohon besar sebagai rumah bagi si mahluk yang sangat mengerikan.

__ADS_1


“Oke….“ Lilin manut-manut saja. Dia terus saja melangkahkan kaki menuju ke depan mengikuti jalan setapak yang bisa di lalui, tentunya diantara tanah lain yang sepertinya jarang di lewati. Atau hanya tumbuhan hutan yang lebat dikelilingi semak belukar yang Nampak jelas kalau tak bisa di lewati orang. Itu salah satu penanda kalau lokasi yang memang sudah tersibak berarti pernah ada yang melaluinya. Dan yang rapat dengan semak belukar penuh dengan onak duri, adalah lokasi hutan lebat yang memang jarang di pakai oleh kaki manusia yang tega menginjak nya. Inilah yang oleh Lilin dipakai sebagai patokan. Setidaknya kaki juga bisa bebas melangkah tanpa terhalang yang lebih jauh bisa membuat luka di bagian itu.


__ADS_2