
Setelah sedikit jauh berjalan.
“Bagaimana?“
Lalan celingukan. Dia yang ada di depan. Serta memandu jalan. Yang lain mengikuti. Maklum masih merasa segar bugar. Walau sebelumnya juga benar-benar mengalami penderitaan yang teramat payah, akibat banyak yang melakukan pengejaran tersebut.
Untung kali ini sedikit lumayan. Walau belum pulih benar, setidaknya sudah bisa bergerak, atau selagi mereka tidak ada di seputaran. Kalau ada paling juga bakalan ngos-ngosan lagi nafas itu sampai dada sesak rasanya.
“Aman,“ ujarnya setelah tak melihat apapun.
__ADS_1
Mahluk itu tak ada. Semua tak ada. Nampak sepi. Berarti aman. Bebas untuk melakukan apapun. Dalam artian bisa melintas kemanapun suka. Sejauh tak bertemu dengan mereka lagi.
Namun malang, andai nanti berpapasan. Dan ini yang mesti dihindari. Pasti akan seperti sebelumnya yang mesti menahan nafas karena di kejar-kejar. Dan sekarang saat yang lain, akibat kedekatan jarak tersebut. Yang secara logika bakalan langsung kena, andai si mahluk melakukan gerakan cepat untuk menangkap, mendukung, dan meletakkan kembali ke ruangan yang serba tak menentu tersebut.
“Kau. Buka terus Lan,“ ujar Aqi, setelah satu pintu terbuka.
Sehingga akan lebih baik jika diri sendiri yang mengalami kepedihan itu, akan tetapi yang lain bisa melakukan tugasnya lagi, dan kembali seperti sedia kala melakukan berbagai aktifitas seperti biasanya. Dan itu menjadi sebuah kata yang manis dari seorang yang butuh keberanian untuk membiarkan diri menjadi tameng hidup, asal yang lain bisa lolos.
Walau ada kalanya sudah berusaha demikian, tapi karena masih berada dalam lingkup kekuasaan musuh, serta posisi yang tak menguntungkan itu, bisa saja akan tetap celaka. Sehingga gambaran pengorbanan yang dilakukan menjadi sia-sia belaka. Tapi itu semua semacam pengorbanan yang tak bisa di pikir lebih panjang lagi.
__ADS_1
Harapannya asal semuanya bisa selamat. Akan tetapi andai sebaliknya, semua sudah merupakan satu tindakan yang diwujudkan. Beda dengan jika tidak melakukan apapun, maka segala sesuatu hanya berdasar perkiraan yang cenderung menjadi satu ketakutan tanpa pembuktian, sehingga akan lebih sia-sia segala usaha yang tak akan pernah berjalan tersebut.
“Oke.“
Ia hanya mengiyakan, selain posisinya memang paling dekat dengan benda itu, juga tak bisa bergerak lain selain mengiyakan saja apa yang diinginkan orang yang lagi capek mendukung istrinya itu serta untuk melakukan berbagai kegiatan tengah kesulitan, untuk kali ini.
Lalan terus mengamati sekitar situ. Setelah pintu tersebut. Dan melihat ujung lain dari ruangan tersebut yang juga berpintu. Sebuah benda yang terasa sangat menjengkelkan akibat benda tersebut banyak ditemukan, seakan tak ada abis-habisnya.
Inilah yang membuat jengah. Ingin berganti pemandangan. Walau, tentu saja apa hendak di kata, memang semuanya masih seperti itu. Di dalam suatu ruangan yang bukan miliknya, namun berada dalam kekuasaan mereka, apa yang di inginkan tentu tak segera terwujud, dan hanya pasrah saja pada si pemilik yang sudah paham betul akan seluk beluk daerah itu, untuk selebihnya menjadikan lokasi yang membuat semuanya jadi sengsara begitu.
__ADS_1